Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 74


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 74


Sekarang dia membuat Manira menjadi pengemis jalanan untuk menghukum Gibran. Setelah ini, akan ada rencana yang lebih besar yang tidak akan pernah bisa Gibran bayangkan sebelumnya. Sebuah rencana jahat untuk balas dendam yang akan menjadikan Manira sebagai umpannya.


“Heh....” Mahesa tersenyum sinis. “Aku pastikan kamu akan bernasib sama dengan laki-laki itu, merana karena cinta,” gerutu Mahesa yang juga masih sangat membenci Juragan Damar meskipun dia tahu bahwa laki-laki itu adalah ayah kandungnya yang juga mewariskan banyak kekayaan yang membuatnya menjadi pengusaha muda paling sukses.


Manira yang polos, Manira yang malang. Dia terus memainkan biolanya dan tidak henti-hentinya mengumbar senyum kepada Mahesa tanpa tahu sedikit pun bahwa dia sedang diperalat. Suatu saat nanti, cintanya yang sangat besar juga akan membuatnya sangat terluka seperti pelakon-pelakon cinta lainnya yang mati merana karena cintanya sendiri. Sebuah rasa yang tidak berwujud tapi bisa menguasai seluruh hidup manusia hingga yang waras pun bisa menjadi gila karenanya.

__ADS_1


Gibran duduk seorang diri di kursi kayu, di stasiun tua. Dia duduk di kursi yang sama yang biasa Manira tempati sambil memainkan biolanya. Di sore yang sama, dengan penantian yang sama pula. Hatinya terasa perih. Wajahnya tertunduk dan tatapannya kosong. Dia merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Tiba-tiba dia sangat merindukan Manira, seseorang yang mungkin tidak akan pernah bisa dia temui lagi seumur hidupnya. Yang paling Gibran sesalkan adalah kenapa Manira harus jatuh cinta kepada Mahesa, seseorang yang paling dia benci seumur hidupnya.


Aku tersesat sendirian di jalan yang gersang, menantikanmu


Rasanya seperti mati bunuh diri


Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati


Kasihku... sayangku... kembalilah kepadaku


“Hikz... hikz... hikz...” Gibran menangis dalam kesendiriannya. Dia tidak tahu perasaan apa itu yang jelas dia merasa sangat sedih dan sangat merindukan Manira. Bukan hanya sedih untuk Manira, tetapi juga karena kemunculan Mahesa yang membongkar kembali luka lamanya dimana dia harus kehilangan segalanya.


Gibran tidak bisa fokus bekerja. Dia gelisah memikirkan Manira di ruang kerjanya. Antara cemas dan penasaran. Dia tidak pernah percaya pada Mahesa. Dia tidak percaya bahwa orang seperti Mahesa bisa mencintai seseorang dengan tulus. Entah kenapa hari itu Gibran sangat was-was mencemaskan Manira.

__ADS_1


Tik... tok...


Ponselnya berdering. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya. Dari akun instagram Mahesa terpajang foto Manira sedang memainkan biolanya di pinggir jalan. Mahesa menuliskan caption,


“Aku sudah membuat kekasihmu menjadi pengemis jalanan,”


Kalimat yang sangat jelas menggambarkan bahwa Mahesa sedang mencoba menyakiti Manira atau memperlakukannya dengan buruk untuk balas dendam pada Gibran. Dia ingin membuat Gibran menderita melalui Manira. Postingan itu menunjukkan dengan tegas bahwa Mahesa tidak pernah mencintai Manira. Dia hanya memanfaatkan Manira untuk balas dendam pada Gibran.


Gibran sangat panik. Satu hal bisa dia pastikan bahwa Mahesa pasti sudah merencanakan sesuatu yang buruk untuk Manira.


“Tolong carikan penerbangan paling cepat ke Frankfurt,” perintah Gibran kepada asistennya melalui saluran telepon.


Gibran segera mengambil jaketnya dan bergegas pergi. Hatinya sangat gelisah. Dia tidak tenang membiarkan Manira bersama Mahesa. Dia tahu benar seperti apa Mahesa yang sesungguhnya. Jika waktu kecil saja dia bisa memfitnah ibunya, tidak bisa dibayangkan, sudah sejahat apa dia yang sekarang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2