Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 62


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 62


Beberapa hari berikutnya, saat Gibran sedang duduk di bawah pohon, merapikan sapu lidinya yang sudah mulai berantakan, Manira mendatanginya. Gibran mendongak, heran sekaligus penasaran. Kelihatannya Manira ingin mengatakan sesuatu yang penting.


“Ada kabar baik,” ucap Manira


“Pacarmu sudah kembali?” tebak Gibran karena menurutnya, bagi Manira tidak ada yang lebih penting selain kekasihnya kembali padanya.

__ADS_1


“Tanahnya terjual. Sesuai janjiku.... ini komisi untukmu,” Manira memberikan satu amplop berwarna coklat berisi uang.


Gibran menerima uang itu dengan ekspresi datar seolah tidak ada bedanya antara punya uang dan tidak punya uang. Dia membuka amplop itu dan melihat isinya.


“Boleh aku beri saran?” tanya Manira.


“Apa?”


“Kamu pergi ke tukang cukur. Potong rambut dan cukur kumis kamu sampai bersih. Lalu mandi dan pakai baju yang bagus,” ucapnya sambil memberikan satu tas belanjaan berisi beberapa baju baru yang sudah dia siapkan untuk Gibran.


“Nilai seseorang terlihat dari penampilannya. Kalau kamu berpenampilan seperti orang gila, maka orang juga akan menganggapmu gila,”


Gibran tersenyum.

__ADS_1


Gibran seperti menemukan hidupnya kembali. Dia bangkit setelah cukup lama mati suri. Sekarang dia memiliki semangat dan tujuan hidup. Ada seseorang yang ingin dia buat bangga dengan semua kesuksesannya. Bukan hanya Hasan, sebagai sosok yang cukup penting dalam hidup Gibran. Tapi juga Manira yang sangat berperan dalam membangkitkan semangatnya. Dia ingin Manira bangga melihatnya. Dia ingin Manira tahu bahwa dia bisa menjadi seseorang yang hebat dan bisa dibanggakan. Gibran janji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah mengecewakan Manira. Setelah ini, yang Manira lihat darinya hanyalah seorang pejuang yang bekerja keras meraih semua impiannya.


“Uangnya cukup banyak, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Manira, penasaran dengan apa yang akan Gibran lakukan dengan uang komisi atas penjualan tanah kemarin.


“Aku akan membuka bengkel,” jawabnya penuh semangat.


Sekarang dia bahkan sudah mengubah penampilannya. Sejenak, Manira sempat tidak mengenali siapa pria tampan yang berdiri di hadapannya. Bukan lagi laki-laki berambut kusut, sekarang dia sudah memotong rambutnya dengan rapi. Dia juga sudah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang bersih, harum dan rapi. Tidak ada lagi pemuda penunggu stasiun tua yang berpakaian kumal. Yang ada adalah seorang pria tampan berkemeja licin, bercelana jins yang modis dan memakai sepatu warna putih. Jika tidak sering bertemu Gibran, jika tidak mengenal dia sebelumnya, mereka pasti tidak akan ada yang tahu bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan pria gila yang selalu berdiam diri di bawah pohon beringin sambil membersihkan daun kering.


Manira tersenyum bangga, bahagia karena akhirnya Gibran bangkit dari keterpurukannya. Dia senang melihat seseorang menemukan kembali semangatnya dan tujuan hidupnya. Semangat, ibarat baterai yang menghidupkan robot untuk bisa bergerak dan berjalan. Seperti itu pula semangat yang kini membuat Gibran bangkit dan mengejar semua mimpi-mimpinya yang tertunda.


Ada yang bilang bahwa pikiran manusia itu seperti magnet yang menarik semua sikap dan perbuatan manusia itu sendiri. Ketika Gibran putus asa dan merasa hidupnya tidak berharga, dia membiarkan dirinya terpuruk yang hanya berdiri di pojokan stasiun seperti sampah. Dia tidak melakukan apa-apa karena dia sendiri tidak yakin pada dirinya. Tetapi begitu Gibran menemukan kembali semangatnya dan yakin bahwa dia bisa bangkit dan sukses, maka dengan sendiri semua jalan terbuka. Muncul banyak ide dan gagasan untuk melakukan sesuatu yang pada akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk mewujudkannya dalam dunia nyata.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2