
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 24
“Bapak kecewa..... bapak benar-benar kecewa sama kamu,” teriak Juragan Damar sangat marah.
“Bapak pikir Mahesa bangga punya ayah seperti bapak????”
__ADS_1
Juragan Damar kembali mengepalkan tangannya. Dia ingin sekali memukul Mahesa lagi yang sudah semakin berani melawannya. Tetapi dia berusaha menahan diri, mengingat bahwa Mahesa masih anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
“Pokoknya Mahesa tidak rela, dia...” Mahesa menunjuk Gibran, “Mendapatkan harta warisan bapak. Hanya akulah anak sah bapak. Anak haram seperti dia tidak pantas mendapatkan apapun,”
“Kamu anak bapak dia juga anak bapak. Bapak sudah memutuskan bahwa kalian akan mendapat bagian yang sama,”
“Tidak... Mahesa tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” seru Mahesa yang kemudian berlari meninggalkan mereka.
“Maafkan aku Ratmi.... maafkan aku....” juragan sangat hancur. Dia menangis di atas pusara Ratmi seolah ingin membangunkannya.
Rasa sesalnya tidak terbendung. Dia terus saja menyalahkan dirinya sendiri karena kemarahannya yang tidak terkendali membuat dia kehilangan segalanya. Jika saja waktu itu dia percaya pada Ratmi, sekarang dia masih bisa bersama dengan perempuan yang paling dia cintai itu. Sekarang semuanya sudah hancur, habis, tidak bersisa.
__ADS_1
Ratmi adalah nafas kehidupan Juragan Damar. Dia adalah segalanya. Sama halnya kemarahan yang sangat besar karena kecemburuan waktu itu, sekarang pun sesal yang sama besarnya seolah menggulung hatinya dan membuatnya tenggelam dalam kesedihan. Terlalu cinta dan terlalu sayang. Terlalu cemburu dan terlalu marah. Lalu sekarang berubah menjadi terlalu menyesal dan terlalu bersedih. Semua hal yang berkaitan dengan Ratmi selalu menempati posisi yang paling penting dalam hidup Juragan Damar. Kebagaiaannya bisa sangat besar hanya karena Ratmi. Kesedihannya pun bisa sangat dalam juga karena Ratmi. Cinta benar-benar memakan habis hati juragan yang dikenal angkuh dan dingin. Cinta juga sudah membabat habis perasaannya yang kini membuatnya tertunduk dalam penyesalan.
“Aku memang bodoh... bodoh...” berkali-kali juragan memukuli tangannya sendiri, mengingat bahwa dengan tangan itu pula dia pernah menampar, menyeret dan mencambuk Ratmi, bahkan mengurungnya di gudang hingga Ratmi menemui ajalnya.
Gibran juga hanya bisa duduk di pojokan menyayangkan semua yang sudah terjadi. Ibunya tidak salah. Tapi satu kesalahpahaman membuat dia kehilangan ibunya untuk selamanya. Dia tidak tahu lagi bagaimana menjalani hidupnya ke depan jika tanpa ibunya. Masa depannya benar-benar sudah tertutup awan dan semuanya gelap.
Juragan Damar larut dalam penyesalan dan kesedihannya. Dia menjadi rapuh. Seluruh hari-harinya hanya dia habiskan untuk menyendiri dan mengutuk dirinya sendiri. Dia tidak berhenti menyalahkan dirinya atas kematian Ratmi. Belahan jiwanya telah pergi karena kesalahannya sendiri. Dia seperti tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia terus mengurung dirinya di dalam kamar sambil menatap foto Ratmi.
Lambat laun kondisi fisik juragan pun melemah, sakit dan akhirnya meninggal sambil memegang foto Ratmi. Cintanya sudah membawanya pada kematian. Seseorang yang tangguh, kuat dan sangat angkuh pada akhirnya tunduk oleh cinta. Segala kegarangannya yang membuat semua orang takut padanya nyatanya tidak cukup membuatnya kuat menghadapi kehilangan cintanya. Semua orang mengenalnya hidup sebagai pengusaha besar yang angkuh, kejam, teguh dan bertangan dingin. Tetapi kemudian semua mengenang kematiannya sebagai seorang pencinta yang tidak sanggup kehilangan cintanya. Masa kejayaan Juragan Damar dengan segala keangkuhannya sudah berakhir dengan kesan bahwa sesungguhnya dia hanyalah seorang pencinta yang tidak sanggup kehilangan kekasihnya.
Bersambung....
__ADS_1