Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 63


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 63


Terbukti, semangat dan pikiran positif akan kemampuannya sendiri membuat Gibran memiliki banyak ide briliant untuk menjual tanah itu. Lalu uang pun datang. Setelah itu, akan ada lebih banyak lagi kesempatan yang mengikuti di belakangnya, jika Gibran tidak menyerah dan berhenti di tengah jalan. Sekarang dia mengatakan ingin membuka bengkel. Sesuatu yang menurut Manira mustahil jika mengingat bahwa Gibran tidak tahu apa-apa soal mesin. Tetapi, sekali lagi dimana ada kemauan di situ ada jalan.


“Aku memang tidak tahu banyak soal mesin. Tapi bukankah di luar sana ada banyak sekali orang yang memiliki kemampuan dalam bidang ini?” jawab Gibran dengan penuh percaya diri, memandang bahwa apa yang dicemaskan Manira bukanlah sesuatu yang besar. “Aku bisa merekrut mereka untuk bekerja sama denganku,” lanjut Gibran.

__ADS_1


Manira sekali lagi dibuat takjup dengan isi kepala Gibran yang ternyata jauh lebih cerdas dari yang dia bayangkan. Gibran tidak lagi memandang segala keterbatasannya atau ketidakmampuannya sebagai halangan baginya untuk maju. Ibarat pergi ke Surabaya, jika tidak ada bus, bukankah masih ada kereta? Untuk apa memikirkan masalah kecil? Bukankah yang terpenting tujuan tercapai? Jangan terlalu banyak menunggu. Jangan menunggu untuk pandai dulu dalam bidang mesin baru buka bengkel. Tapi lakukanlah segala cara yang kita bisa untuk bergerak maju, baca seluruh peluang, manfaatkan segala kesempatan yang ada. Jangan MENUNGGU sampai semangat itu mengerak dan berkarat yang akhirnya tidak akan berarti apa-apa.


Kepandaian Gibran dalam bernegosiasi membuat Pak Arman merekrutnya sebagai salah satu tim marketing di perusahaannya. Tugasnya adalah memasarkan apartemen, rumah dan semua proyek yang sedang dikerjakan Pak Arman. Selebihnya, Gibran mengelola bisnis bengkelnya dengan bantuan beberapa tenaga ahli. Awalnya hanya satu bengkel kecil. Ada banyak ancaman kebangkrutan jika mengingat Gibran adalah orang yang tidak tahu apa-apa soal mesin dan bisnis bidang ini. Tetapi tekatnya yang kuat membuat dia tidak menyerah dan tidak pernah berhenti belajar.


Dalam waktu singkat, dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Gibran memang bukan orang biasa. Mungkin karena mewarisi darah Juragan Damar sebagai pengusaha handal. Karena itu pula Gibran bisa mendapatkan segalanya dalam waktu singkat. Dia berhasil mengubah predikatnya dari orang gila penunggu stasiun tua menjadi pengusaha muda yang cukup diperhitungkan, meski tetap belum cukup untuk menyaingi kesuksesan kekasih Manira yang sudah sampai ke luar negeri.


Pagi itu Gibran dan Manira minum kopi di sebuah kedai. Manira heran melihat sebuah majalah yang membahas segala hal tentang Jerman di meja Gibran.


“Jerman? Kamu mau belajar Bahasa Jerman?” Manira terkejut.


“Kenapa?” Manira heran melihat Gibran begitu tertarik tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Jerman.

__ADS_1


“Dulu pernah ada seseorang yang sangat ingin aku pergi ke sana,” jawab Gibran mengenang Juragan Damar yang sempat memintanya belajar Bahasa Jerman. Entah kenapa belakangan ini dia sangat penasaran dan ingin belajar segalanya tentang negara itu.


“Siapa?”


“Sudahlah,” Gibran tidak mau membahas lebih jauh soal Juragan Damar.


Manira memahami kalau Gibran tidak mau bercerita lebih jauh. Dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan,


“Kamu berhasil,” ucap Manira.


“Berkat seseorang,” jawab Gibran sambil menatap Manira.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2