Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 20


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman

__ADS_1


Episode 20


Cinta yang sangat dalam membuahkan kekecewaan yang sangat dalam pula. Seluruh hati, pikiran, perasaan dan harta kekayaan Juragan Damar sudah juragan berikan untuk Ratmi. Tetapi apa yang juragan lihat hari ini benar-benar membuatnya marah hingga bertindak di luar kendali. Jika bukan karena terlalu mencintai Ratmi, Juragan Damar pasti tidak akan sesakit ini. Rasa sakit yang sangat dalam membuatnya gelap mata. Dia tidak terima wanitanya disentuh oleh laki-laki lain. Ratmi hanya miliknya.


Kemarahan bahkan membuat Juragan Damar nekat mengambil cambuk dan mencambuk Ratmi berkali-kali. Dia tidak terima dengan kekalahan, dia tidak terima dengan pengkhianatan. Apa yang Ratmi lakukan membuat Juragan Damar merasa seperti pecundang yang mudah dibodohi sehingga dia tidak akan pernah bisa memaafkan Ratmi sedikit pun.

__ADS_1


Setelah puas menyiksa Ratmi, Juragan Damar mengurungnya di gudang selama berhari-hari. Tidak ada seorang pun yang berani memberinya makan, bahkan sekedar mengintip untuk melihat keadaannya pun tidak ada yang berani. Ratmi menjalani hari-hari yang sangat buruk di gudang yang penuh dengan jerami dan barang rongsokan. Dengan luka di sekujur tubuhnya dia merasa bahwa ini lebih buruk daripada hidup di dalam neraka.


Ratmi merasa mungkin ini adalah detik-detik terakhir dalam hidupnya. Dikunci selama berhari-hari di gudang yang pengap itu membuat Ratmi merenungkan banyak hal. Dia mulai menyadari semua kesalahannya. Ketamakan sudah mengantarkannya menjadi manusia sesat dan tidak berperasaan. Dia ingat kepada Hasan, laki-laki yang sangat dia cintai tetapi kemudian dia khianati. Ratmi sangat menyesal karena sudah melakukan semua itu. Di saat seperti ini tiba-tiba dia sangat merindukan Hasan. Dia ingin memegang wajahnya dan minta maaf. Tetapi semua itu sepertinya tidak akan pernah bisa dia lakukan. Ratmi hanya bisa bersandar di tumpukan jerami sambil menangis, menyesali semua kesalahannya.


Ingatannya kemudian mengembara mengingat beberapa waktu yang lalu saat Sarifah menyumpahinya bahwa karmanya pasti akan datang. Sepertinya sekarang karma itu benar-benar sudah berdiri di hadapannya. Tadinya dia pikir sudah bisa mendapatkan semua dalam genggamannya. Kekayaan dan kemewahan. Bayangan hidup nyaman di rumah megah bersama laki-laki paling kaya di kampung ini, bayangan menjadi nyonya besar, nyatanya justru mengantantarkannya pada akhir yang menyedihkan.

__ADS_1


Sekarang dia harus terkapar di sebuah gudang yang busuk dan kotor. Mungkin memang seperti inilah dirinya yang sebenarnya. Busuk dan kotor. Sama seperti barang-barang rongsokan yang busuk dan bau. Ratmi tidak berhenti menangis menyesali semua kesalahannya. Yang lebih menakutkan adalah, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Gibran? Jika dia sampai mati di tempat ini, lalu bagaimana Gibran bisa melanjutkan masa depannya??? Ratmi sangat sedih. Jika saja dia tidak serakah dan ingin mendapatkan segalanya, pasti semua tidak akan seperti ini. Mungkin dia akan tinggal di rumah tua yang reot, tetapi setidaknya dia bisa bahagia bersama orang yang dia cintai.


Bersambung...


__ADS_2