
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 80
Mahesa duduk di dalam satu restoran sambil menyeruput kopi dari cangkir putihnya. Dia sangat menikmati ketakutan Gibran yang sedang berlari di depan restoran itu dan buru-buru masuk untuk memastikan bahwa Manira ada di dalamnya. Melihat Gibran kelabakan mencari Manira yang terlihat dari dinding kaca restoran, membuat Mahesa sangat puas. Seperti menyaksikan pertunjukan film yang menyenangkan.
“Manira... Manira...” teriak Gibran.
__ADS_1
Beberapa petugas keamanan menahannya. Gibran berusaha memaksa untuk masuk. Setelah berhasil masuk, memang ada seorang perempuan bergaun hitam sedang memainkan biola. Tapi bukan Manira. Gibran sangat kecewa. Dia berdiri, lelah karena tidak tahu lagi harus kemana mencari Manira. Tiba-tiba petugas keamanan datang menghajarnya dan melemparnya keluar.
“Aw....” teriak Gibran.
Gibran tersungkur di tanah dengan wajah penuh memar. Dia tidak berdaya antara kelelahannya dan keputusasaannya mencari Manira. Mahesa kembali tersenyum simpul, menikmati setiap rintihan Gibran yang merana mencari kekasihnya.
Gibran berusaha bangkit. Lalu dia melihat Mahesa di dalam restoran yang sedang tersenyum puas padanya. Gibran menatap Mahesa dengan tatapan marah. Sejenak kedua saudara tiri yang tidak pernah sedetik pun mengakui persaudaraan mereka, bahkan tidak pernah sedikit pun mengakui Juragan Damar sebagai ayah mereka setelah kejadian buruk waktu itu. Gibran terus melemparkan tatapan marah seakan bertanya, kenapa Mahesa melakukan semua ini?
Mahesa berdiri di depan dinding kaca yang menjadi penyekat antara dia dan Gibran yang berada di luar restoran. Mahesa tersenyum penuh kemenangan. Dia sangat menikmati setiap kecemasan dan kegelisahan Gibran. Dia sama mengenaskannya dengan Juragan Damar yang sepanjang hari menatap foto Ratmi di dalam kamarnya dan meratapi kepergiannya. Dia melihat keputusasaan yang sama dan rasa sakit yang sama. Sebuah rasa sakit yang bisa membunuhnya.
“Dasar anak haram!!” sontak suara Mahesa kecil waktu itu terdengar kembali di telinga Gibran, mengenang betapa buruknya kenangan masa lalu mereka.
__ADS_1
“Aku tidak rela mereka bahagia di atas kematian ibuku,” janji Mahesa kecil itu pun kembali berdengung di telinga Mahesa yang hingga kini tidak ingin melepaskan Gibran dan membiarkannya bahagia.
Mereka menatap beberapa saat mengenang semua kenangan kelam itu. Ada kesedihan dan kepiluan di mata masing-masing. Ada sesal yang mendalam, menyesalkan kenapa hal buruk itu harus terjadi. Ada sebuah pemberontakan yang berkata bahwa jika saja mereka bisa, mereka ingin mengulang masa lalu dan mencegah agar semua itu tidak terjadi. Ada rasa sakit di benak masing-masing yang hingga kini lukanya masih belum kering. Waktu dan jarak tidak cukup untuk menghapus luka itu. Bahkan darah itu pun, tidak bisa membuat mereka untuk bisa saling memeluk satu sama lain.
“Kamu memanfaatkan Manira untuk balas dendam padaku?” tanya Gibran.
Mahesa hanya tersenyum simpul menikmati kekalahan Gibran.
“Manira tidak tahu apa-apa.....”
Mahesa masih diam. Bahagia, menatap Gibran yang sangat gelisah.
__ADS_1
“Dia sangat mencintaimu,” lanjut Gibran, marah.
Bersambung....