Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 59


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 59


Orang-orang yang besar pasti mimpinya besar. Maka dari itu, Gibran merasa bahwa dia hanya perlu menunjukkan sebuah mimpi besar di masa depan terhadap tanah yang terletak di perbatasan kota yang jauh dari keramaian. Gibran merasa tidak cukup mengatakan berapa luas tanahnya, berapa harganya dan tanaman apa saja yang tumbuh di dalamnya. Dia perlu membangun pola pikir atau daya imajinasi pengusaha di sampingnya terhadap nilai tanah dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan. Yang penting bukanlah tanah yang apa adanya seperti yang terlihat sekarang ini, hanya ada semak belukar, di daerah yang sepi dan tidak memiliki nilai jual yang tinggi. Yang paling penting adalah kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada tanah itu. Segala KEMUNGKINAN yang karena pengusaha itu mungkin tidak bisa memikirkan sejauh itu, maka Gibran yang akan membantu menunjukkan segala kemungkinan itu.

__ADS_1


“Apa yang bapak lihat?” tanya Gibran yang saat ini sudah berdiri di atas jembatan terowongan bersama Pak Arman, melihat pemandangan di sekitar jembatan yang di bawahnya hanya ada satu rel kereta yang sudah tua dan kanan kirinya ditumbuhi beberapa tanaman liar. Ada sebuah danau dan air terjun kecil, tapi tidak potensial. Apa gunanya air terjun dan danau jika ada di tempat seperti ini?


“Sebuah tanah kosong yang tidak ada harganya. Memangnya apa yang bisa kita lakukan dengan tanah seperti ini?” jawab Pak Arman menunjukkan bahwa dia memang tidak memiliki gambaran apa pun tentang tanah itu selain kegagalan.


“Jangan hanya melihat tanahnya. Tapi lihatlah masa depan tanah itu di 5-10 tahun ke depan,” ucap Gibran berusaha menunjukkan masa depan yang lebih cerah dari tanah kosong itu.


“Oya?” Pak Arman tidak yakin.


“Apa maksudmu?” Pak Arman tersinggung karena Gibran terkesan meremehkan kemampuan finansialnya.

__ADS_1


“Bapak lihat terowongan yang ada di bawah kita ini?”


Pak Arman melihat ke bawah.


“Ini adalah terowongan tua yang indah, yang setiap jam dilewati oleh kereta yang membawa orang-orang dari kota A ke kota B. Dua kota besar yang memiliki nilai bisnis yang besar. Artinya, setiap jam wilayah ini akan dilewati oleh orang-orang sukses yang ada di kedua kota itu. Kawasan elit yang tidak mungkin penghuninya hanya seorang gelandangan atau pengemis tua. Ini menandakan bahwa walau sepi, tapi tempat ini sering dilewati oleh orang-orang berkelas. Lalu jalan ini...” Gibran menunjuk jalan raya yang ada di belakang mereka.


“Ini adalah jalan utama menuju daerah pengunungan yang menjadi salah satu pusat liburan akhir tahun. Artinya, tempat ini bukan tempat mati. Ini adalah tempat yang memiliki potensi untuk DILIHAT orang. Yang perlu kita lakukan hanya MENCIPTAKAN sesuatu agar orang-orang yang lewat tempat ini bukan hanya sekedar MELIHAT tetapi juga DATANG ke sini,” ucap Gibran dengan sangat yakin.


Pak Arman semakin penasaran dengan rencana apa yang akan disampaikan Gibran. Setidaknya, sekarang dia mulai yakin bahwa Gibran bukan orang gila seperti penampilannya. Di otaknya ada sebuah gagasan besar. Gagasan-gagasan yang biasa di miliki oleh orang hebat. Sebuah gagasan yang tidak berhenti sampai pada satu titik tapi melihat jauh ke depan.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2