Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 88


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 88


Mahesa mendekati pria itu dan berkata,


“Kamu mau memakai kamar ini?”


“Apa?” Manira tidak percaya.

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab pria itu sambil tersenyum.


“Baiklah. Selamat bersenang-senang,” Mahesa tidak peduli sama sekali dengan Manira.


“Tidak Mahesa... Mahesa.... jangan pergi...” teriak Manira.


“Sudah diam!!!!” teriak laki-laki itu membentak Manira.


Manira terus berteriak minta tolong. Mahesa justru berjalan mundur ke arah pintu. Dia menatap Manira dan menyalakan kemera ponselnya. Terekam dengan sangat jelas teriakan Manira. Terlihat sangat jelas lambaian tangan Manira yang tidak berdaya. Seorang laki-laki sedang memeganginya dan memaksanya..... Mahesa tersenyum puas. Dia seperti sangat menikmati pertunjukan itu. Perlahan Mahesa sampai di depan pintu kamar hotel, menutup pintunya lalu pergi dan tidak pernah kembali lagi.


Mahesa menemui Gibran di dalam penjara. Dia tersenyum licik seakan menikmati kemenangannya yang sudah berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia ingin membunuh Gibran perlahan-lahan. Mahesa juga tidak sabar melihat Gibran merana di dalam penjara itu karena hari ini dia harus menerima kenyataan bahwa Manira sudah masuk ke dalam perangkap buaya. Mahesa menunjukkan video saat Manira berjalan di lorong hotel membawa kotak hitam berisi cincin berlian sampai teriakan Manira yang terdengar menyayat hati saat seorang laki-laki bertato ular memaksanya.


Gibran mengepalkan tangan, menitikan air matanya. Hatinya hancur. Rasanya lebih menyakitkan dari kematian. Seseorang yang paling dia cintai harus diperlakukan seperti binatang oleh orang-orang kejam yang tidak berperasaan itu.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?” Gibran sangat marah.


“Segalanya yang bisa membuat kamu merana,” jawabnya.


“Kurang ajar!!! Kalau sampai terjadi sesuatu pada Manira...” Gibran menarik kerah baju Mahesa.


“Sesuatu sudah terjadi... sudah terjadi...”


Gibran melepaskan kerah baju Mahesa. Lemas.


“Hahaha... ha.. ha...” Mahesa tertawa, puas melihat Gibran hancur. “Semua ini terjadi karena salahmu. Jika kamu tidak jatuh cinta padanya, dia juga tidak akan menderita seperti ini. Sebentar lagi kamu pasti akan mati seperti ayahmu yang merana menangisi cintanya,” lanjut Mahesa membuat Gibran semakin merasa bersalah.


Mahesa menyerang Gibran secara psikis. Setelah memanfaatkan Manira, sekarang Mahesa membuat Gibran larut dalam rasa bersalah yang tidak akan pernah berkesudahan. Setelah ini, sepanjang hidupnya, Gibran bukan hanya menyesali keadaan Manira tapi juga menyesalkan bahwa semua itu terjadi karena dia. Dia akan tersiksa dengan rasa bersalahnya sendiri. Rasa bersalah yang sudah membuat perempuan yang paling dia cintai, menderita. Rasa bersalah dan penyesalan yang sama persis dengan yang dialami oleh Juragan Damar hingga merenggut nyawanya sendiri.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2