
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 70
Mahesa berdiri di depan lukisan bernuansa etnik Bali. Dia memasukkan tangannya ke dalam kantong celana menampakkan keangkuhannya. Mahesa malas berdebat dengan orang kecil seperti mereka.
__ADS_1
“Kalian atasi dia,” perintahnya kepada anak buahnya.
“Baik,” jawab salah satu anak buahnya.
Dalam sekejap anak buah Mahesa menghajar seniman itu dan memaksanya untuk menyerahkan lukisannya. Jika tidak bisa mendapat lukisan itu, mungkin bisa berakhir dengan kehancuran lukisan itu atau kematian pelukisnya. Hal mengerikan ini sering terjadi dalam perjalanan bisnis Mahesa untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dipenuhi dengan pemaksaan, kekerasan dan kematian seseorang.
Dia menjalani hidup sebagaimana Juragan Damar menjalaninya. Mahesa tidak sadar bahwa orang yang paling dia benci justru menjadi roll model yang membentuk karakter dan kepribadiannya yang sesungguhnya. Semua senyuman manis dan sikap ramah yang dia tunjukkan di depan media selama ini hanya sebatas pencitraan untuk mendapat simpati masyarakat. Selebihnya adalah pribadi yang mengerikan seperti yang pernah dia tunjukkan sejak usianya masih 12 tahun.
Dari luar dia terlihat gagah, tampan dan berkharisma. Semua orang menghormatinya dan mengaguminya sebagai pengusaha muda yang sukses di usianya yang baru 30 tahun. Pengaruhnya dalam dunia perdagangan berlian antar Indonesia-Jerman sangat penting. Berbekal jalur bisnis peninggalan Juragan Damar, bisa dibilang sekarang Mahesa hanya tinggal melanjutkan apa yang telah ditinggalkan oleh Juragan Damar. Dia benar-benar menikmati kesuksesannya. Uang, kedudukan, kehormatan dan popularitas. Semua ada dalam genggamannya tanpa harus bersusah payah mendapatkannya.
__ADS_1
Hari ini Manira tampak berbeda. Jika biasanya selalu memakai gaun pendek warna putih khas dengan tas cangklong dan sepatu catnya. Pagi ini dia terlihat cantik dengan dres hitam, mewah, glamour dan rambut tata rapi. Menggambarkan posisinya sebagai nyonya dari pengusaha kaya raya yang berkharisma dan terhormat. Dia bergandengan tangan dengan Mahesa yang terlihat lebih dewasa dengan kaca mata dan mantel hitamnya. Mereka berjalan di atas jembatan yang melintas di atas Sungai Main yang indah dan jernih.
“Sudah begitu lama, bagaimana kamu bisa mengenaliku?” tanya Manira, penasaran bagaimana mungkin Mahesa bisa mengenalinya setelah sekian lama. Dia sendiri mungkin tidak akan mengenali Mahesa jika bukan karena sering mengikuti perkembangan berita tentangnya melalui surat kabar dan internet.
“Fotomu selalu ada di hatiku,” jawab Mahesa membuat Manira terkesan
Manira sangat bahagia. Dia benar-benar sudah menemukan kunci jawaban atas segala kegelisahannya. Segala keresahannya di masa lalu sudah hilang. Semua penantiannya sudah terbayar. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan bersama laki-laki yang paling dia cintai yang membuat dia tidak bisa memalingkan hatinya pada orang lain, apa pun yang terjadi. Cintanya, hatinya, dan seluruh harapannya hanyalah MAHESA.
Bersambung...
__ADS_1