
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 12
Hasan sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Awalnya, ancaman Juragan Damar membuatnya diam, tidak berani berbuat apa-apa selain hanya tunduk melihat ketidakadilan ini. Tetapi sekarang kemarahan membuatnya berani memberontak. Dia berniat meninggalkan Ratmi karena sudah tidak tahan dengan semua kebusukan ini.
“Aku ingin kita berpisah,” ucap Hasan dengan sangat yakin.
“Mas....mas yakin?” Ratmi kaget melihat keberanian Hasan memberontak.
“Semua sudah jelas,” Hasan sudah benar-benar menutup pintu hatinya untuk Ratmi. Dia tidak mau lagi terpengaruh dengan mulut manis atau air matanya. Dulu dia sangat mencintai perempuan itu dan bisa luluh dengan sangat mudah oleh mulut manisnya. Tetapi sekarang, sudah cukup pengkhianatan ini.
__ADS_1
“Mas....”
“Tidak ada satu laki-laki pun yang rela istrinya tidur dengan laki-laki lain, di depan matanya. Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh karena selalu diam melihat kebusukan kalian,”
“Mas.... mas tahu apa alasannya. Aku mencintai mas tapi tanpa Juragan Damar..... kita tidak bisa hidup tanpa uang....” jawab Ratmi yang masih merasa bahwa tindakannya adalah benar.
Hasan membuang segebog uang yang selama ini Ratmi berikan padanya. Uang itu adalah pemberian Juragan Damar atas kesediaan Ratmi yang sudah menghabiskan malam dengannya. Hasan tidak mau menerima uang kotor itu. Meski harus hidup hanya sebagai tukang ikan asin, baginya lebih baik daripada memakan uang haram.
“Jika aku tetap diam, artinya aku sudah menjual istriku sendiri,” bantah Hasan.
“Kamu tidak mencintaiku,” Hasan sudah tidak bisa terpengaruh dengan kata-kata cinta Ratmi lagi. “Itu adalah keserakahanmu yang ingin mendapatkan semua yang kamu inginkan,”
“Mas tidak takut dengan ancaman Juragan Damar?”
“Aku laki-laki, aku punya harga diri. Sekalipun harus mati kelaparan.... aku tidak akan makan dari menjual istriku sendiri,”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Gibran?”
“Dia punya ayah kandung yang punya segalanya. Kembalikan saja dia pada ayahnya,”
“Itu tidak mungkin. Juragan Damar masih punya istri yang sah. Lagi-pula....”
“Bagus kalau kamu menyadari hal itu. Semoga kamu juga sadar bahwa apa yang kamu lakukan ini, sudah menghancurkan kehidupan banyak orang,”
“Semua akan baik-baik saja kalau mas tetap di sini,”
“Sejak awal tidak ada yang baik-baik saja. Bukankah ini bagus? Setelah aku pergi kamu bisa bebas pergi dengan Juragan Damar. Nikmati saja hidupmu dan jangan menyesal kalau suatu saat nanti karma berbicara,”
Hasan benar-benar pergi. Dia membawa semua pakaiannya. Ratmi tidak bisa menahan Hasan yang sudah membulatkan tekatnya. Sejak awal, Hasan sudah memikirkan hal itu. Tetapi waktu itu nyalinya terlalu kecil sehingga dia tidak berani bersikap tegas. Dia tidak berani meninggalkan Ratmi atau menghakimi Juragan Damar yang sudah berbuat mesum dengan istrinya. Sekarang kekecewaan dan kemarahan Hasan sudah terlalu besar hingga memberinya kekuatan untuk mengambil keputusan sebesar ini.
Dia sudah menyerah memperjuangkan perempuan yang dia cintai. Tadinya dia berpikir bisa sedikit demi sedikit mengubah Ratmi menjadi perempuan yang lebih baik. Nyatanya seluruh hati dan pikiran Ratmi sudah tertutup oleh uang hingga membuat cintanya tersisih. Cinta, walau masih ada tetapi sudah hampir tidak mendapatkan tempat di hati Ratmi. Cintanya kalah oleh tuntutan hidup dan keserakahan akan uang. Hasan menyerah. Dia melepaskan perempuan yang paling dia cintai yang lebih memilih uang daripada cintanya.
__ADS_1
Bersambung....