
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 75
Mahesa membawa Manira mengunjungi sebuah tempat pertunjukan ternama di Frankfurt. Gedung pertunjukan Damar Mahesa, yaitu gedung pertunjukan peninggalan almarhum Juragan Damar yang sekarang menjadi tambang emas bagi Mahesa. Banyak pertunjukan besar diadakan di tempat ini dan membuat Mahesa cukup populer sebagai pengusaha sukses yang memiliki gedung pertunjukan yang mewah dan megah.
Dengan gaun hitam yang cantik dan rambut diikat rapi, Manira tampak cantik dan elegan. Mereka sempat berdansa romantis mengikuti alunan musik romantis bersama beberapa pasangan lain. Manira masih belum menyadari apapun bahwa sebenarnya dia sedang dimanfaatkan.
“Cinta selalu memabukkan. Setelah memabukkan dia akan membunuh,” ucap Mahesa dengan gaya puitis penuh misteri.
Manira tersenyum malu sekaligus bahagia, “Jika harus mati karena mencintaimu, maka aku rela,”
Mahesa tersenyum membuat Manira percaya bahwa laki-laki super keren itu sangat mencintainya. Usai berdansa, Mahesa meminta Manira melakukan sesuatu sebagai bagian lain dari rencana balas dendamnya.
“Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa istriku sangat cantik,”
__ADS_1
“Oya?” Manira tersipu malu.
“Mainkan lagu yang indah agar mereka tahu bahwa tidak ada perempuan yang lebih cantik selain istriku,” ucap Mahesa sambil memberikan sebuah biola.
“Baiklah. Aku harap kamu tidak cemburu jika ada yang menatapku dengan tatapan nakal,” jawab Manira sambil mengambil biola itu, menjawab tantangan Mahesa.
Mahesa tersenyum.
Manira sangat polos. Dia terjebak dalam kubangan cintanya sendiri sehingga tidak bisa melihat sedikit pun kelicikan Mahesa. Dengan polosnya dia memainkan biolanya yang dia balut dengan senyuman manja. Puluhan mata laki-laki berkantong tebal menatapnya dengan mata jahat. Mereka punya fantasi yang berbeda, lebih dari sekedar menatap perempuan cantik yang sedang memainkan lagu indah dengan biolanya. Ada sesuatu di kepala masing-masing pria yang memegang gelas anggur di tangannya.
“Wei?” tanya Mahesa mendekati salah satu rekan kerjanya yang tampak terpesona dengan kecantikan Manira.
Mahesa meneguk anggur di tangannya lalu tersenyum licik,
“Das ist nur der anfang,” lanjutnya mengisyaratkan bahwa dia sedang merencanakan sebuah permainan besar yang melibatkan Manira dan para laki-laki bermata jahat di ruangan itu.
Manira yang polos mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan para laki-laki itu yang seolah ingin memangsanya. Wajah gembira Manira berubah menjadi ketakutan. Dia merasa bahwa mungkin pakaiannya terlalu seksi sehingga membuat semua laki-laki menatapnya dengan tatapan serendah itu. Mendadak Manira menghentikan permainannya dan turun dari panggung.
Plok... plok... polok...
__ADS_1
Terdengar riuh tepuk tangan seluruh tamu yang ada di gedung pertunjukan itu, mengagumi betapa Manira adalah sebuah karya seni yang sangat indah. Manira hanya tersenyum seadanya dan langsung berjalan mendekati Mahesa yang sedang berbincang hangat dengan salah satu rekan bisnisnya.
“Mahesa aku merasa tidak nyaman,” ucap Manira, takut.
“Kenapa?”
“Mereka menatapku dengan tatapan aneh,”
“Itu karena kamu terlalu cantik,”
“Kita pergi dari sini,”
“Baiklah,”
Mahesa membawa Manira pergi. Dia melambaikan tangannya kepada rekan-rekan bisnisnya yang ada di tempat itu seolah sengaja membuat mereka penasaran dengan sosok Manira. Seperti berlian kadang ditunjukkan kadang disembunyikan, agar orang semakin penasaran dan harganya semakin mahal.
Bersambung....
__ADS_1