Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 29


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 29


“Aku pasti akan kembali,” ucap anak laki-laki berusia 12 tahunan, waktu itu sembari duduk di dalam gerbong kereta tua yang siap membawanya pergi.

__ADS_1


“Aku pasti akan menunggumu,” jawab Manira kecil yang berdiri di luar gerbong sambil memegang tangan kekasih masa kecilnya.


Bagi Manira itu bukan hanya cinta anak-anak. Itu adalah cinta yang benar-benar nyata dan masih dia rasakan sampai sekarang. Janji itulah yang kini selalu Manira nantikan setiap saat. Tidak heran jika setiap hari Manira harus menghabiskan waktu berjam-jam di stasiun ini, berharap kekasihnya akan kembali padanya seperti janji yang pernah dia ucapkan. Entah di kehidupan masa lalu atau masa kini, Manira selalu hidup dalam kenangan kekasihnya yang tidak pernah bisa dia lupakan seumur hidupnya.


Walau semua orang mulai meragukan bahwa mungkin saja kekasih Manira sudah bahagia bersama perempuan lain, mungkin dia sudah melupakan Manira, mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi dan sebagainya. Tetapi Manira tidak peduli. Dia masih selalu menunggunya. Dia yakin, suatu saat nanti kekasihnya pasti akan kembali.


Gibran yang selalu tampak seperti gelandangan dengan rambut berantakan dan pakaian kumalnya, kembali berdiri di depan stasiun tua sambil memegang sapu lidi. Dengan sekedar alasan hanya untuk bisa makan, dia menyapu helai demi helai daun kering itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang sampah dan membakarnya. Baginya tidak ada bedanya pagi atau malam, tidak ada bedanya hari ini atau besok. Semua berjalan sama, tidak ada yang istimewa dan tidak ada harapan apapun untuk masa depannya sendiri. Dia seperti lumut yang sudah menempel di satu tempat dan tidak akan pindah ke tempat lainnya hingga akhirnya mati.


Tetapi seseorang mengubahnya. Di sore yang gersang dan kering itu, Manira tidak lagi memainkan biolanya di ruang tunggu. Dia berdiri di samping rel kereta yang berjarak beberapa meter dari stasiun. Wajahnya masih sendu. Kali ini bahkan lebih pilu. Seperti ada bekas tetesan air mata yang mengering di pipinya. Ada sebuah keputusasaan yang tidak bisa dia jawab. Dia terus menengok ke selatan, menanti kereta jam tiga melintas di rel itu.

__ADS_1


Tutt.....


Terdengar bel kereta berbunyi. Sebuah kereta terlihat berjalan dari kejauhan memancarkan lampunya yang terang dan menggandeng gemuruh suara yang sangat kencang. Manira menatap kereta itu dengan tatapan penuh keberanian, bukan lagi dengan kerinduan atau pengharapan akan sesuatu. Tapi seperti ada sesuatu yang lebih besar dari kerinduannya dan penantiannya yang akan dia lakukan dengan kereta itu.


Dan benar, semakin lama kereta semakin mendekat. Manira terus menatap kereta itu dengan tatapan tajam seolah menguatkan dirinya sendiri. Gibran mulai cemas, kereta semakin dekat tapi Manira tidak bergerak mundur. Perempuan berambut pendek itu bahkan sengaja mengayun langkah maju menantang kereta. Langkah demi langkah Manira susun hingga akhirnya kaki kirinya hampir menyentuh rel kereta tua itu.


Terlintas dalam kepala Gibran bahwa Manira akan melakukan sesuatu yang buruk. Bunuh diri. Gibran langsung melempar sapunya dan berlari menghampiri Manira. Dengan sigap, Gibran menarik Manira mundur hingga mereka jatuh berguling-guling di atas tumpukan daun-daun kering. Gibran terus merangkul Manira, seakan ingin melindunginya dari hempasan kereta yang melintas dengan kuat yang hanya berjarak satu meter dari mereka. Lebih dari Manira, justru Gibran yang merasa sangat ketakutan. Bukan takut atas dirinya sendiri tapi takut karena mencemaskan keadaan Manira.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2