Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 31


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 31


Gibran berdiri dan meninggalkan Manira ke arah yang berbeda. Jangankan Manira yang tenggelam dalam cintanya sendiri, hingga kini Gibran pun belum bisa melupakan cinta yang menjadi racun bagi kedua orang tuanya. Sebuah cinta yang entah menjadi petaka atau hukuman bagi semua orang hingga semuanya hancur berantakan. Gibran tidak pernah berhenti mempertanyakan, kenapa hidupnya menjadi begitu menyedihkan hanya karena cinta yang salah.


Gibran berlalu dengan keputusasaan yang sama. Penyesalan akan masa lalu itu belum pernah terbayar hingga detik ini. Gibran merindukan keluarganya yang indah. Punya orang tua yang sempurna dan bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya. Tetapi semuanya sudah hancur. Masa lalunya hancur, masa depannya pun tidak terlihat lagi. Diam-diam Manira memperhatikan punggung Gibran dengan penasaran, seakan bisa merasakan bahwa Gibran pun merasakan luka yang sama dengannya, yaitu cinta.

__ADS_1


Keesokan paginya, Manira mendatangi Gibran yang sedang membersihkan daun-daun kering di bawah pohon beringin. Perempuan berparas bersih, cantik, terpelajar dengan pakaian putih setinggi lutut, ikat pinggang warna marun dan sepatu cat putih, menyodorkan satu bungkus roti kepada Gibran sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya.


“Terima kasih...” ucapnya.


Gibran diam sejenak. Heran, apa yang membuat gadis cantik itu mau berteman dengan gelandangan seperti dia sementara biasanya selalu diteriaki sebagai ‘orang gila’ oleh anak kecil dan dipandang rendah oleh para pengunjung stasiun. Tetapi hari ini Manira berdiri di hadapannya dan menyodorkan sepotong roti seolah menawarkan sebuah pertemanan.


“Kenapa mau berteman denganku?” tanya Gibran sambil menerima sepotong roti itu.


Sepertinya, semalam dia banyak merenung dan pagi ini bisa menemukan harapan baru dalam hidupnya sehingga bisa lebih siap menghadapi hidup yang panasnya lebih dari sengatan sinar matahari di ujung siang. Hari ini Manira terlihat lebih cantik dan segar. Sungguh pemandangan yang sangat kontras saat perempuan secantik Manira harus berdiri sejajar dengan gelandangan berpakaian kumal dan berambut gimbal seperti Gibran.


Mereka duduk di bawah pohon beringin dan menikmati roti itu. Keduanya masih membisu, enggan untuk memulai pembicaraan satu sama lain. Sepi. Hanya ada kicauan burung di atas pohon beringin yang mewarnai keheningan mereka. Sesekali helaian daun kering terbang bersama debu seolah mengiringi pertemuan mereka yang bisu.

__ADS_1


“Kamu sangat mencintainya???” tanya Gibran tiba-tiba berani menanyakan pertanyaan itu. Ucapannya benar-benar waras, tegas dan bijaksana. Berbeda jauh dengan penampilannya yang berantakan seperti orang gila.


Manira berhenti mengunyah. Tiba-tiba seperti ada sesak yang kembali menghimpit dadanya. Dia menoleh ke arah Gibran,


“Aku tidak tahu. Aku hanya merasa sangat merindukannya,” jawab Manira yang akhirnya merasa menemukan teman bicara yang bisa memahami isi hatinya. Selama ini Manira sudah banyak melalui hari-hari sulit dimana semua orang menghujat cintanya dan menganggapnya bodoh karena hanya mengharapkan satu orang dan tidak bisa menggantikannya dengan siapa pun. Meskipun, tidak ada yang bisa menjamin bahwa kekasihnya juga masih selalu merindukannya.


“Sampai ingin bunuh diri untuknya???” tanya Gibran seakan mengecam kebodohan Manira yang hampir nekat bunuh diri di rel kereta.


“Karena cinta.... kadang seseorang bisa menjadi gila,” jawab Manira, sedih.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2