
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 69
__ADS_1
“Maaf...” ucap Mahesa ketika duduk di pelaminan bersama Manira.
“Untuk apa?” tanya Manira dengan wajah yang jauh lebih ceria dari sebelumnya.
“Karena aku baru kembali,”
“Ini lebih baik daripada tidak kembali sama sekali,” jawab Manira seolah ingin menuntup kisah kelam masa penantiannya di stasiun tua itu dengan segala rasa sakitnya.
__ADS_1
Mahesa membawa Manira terbang ke Eropa. Mereka mendarat di Frankfurt, salah satu kota cantik di Jerman. Manira menemukan suasana yang jauh berbeda dari kota tua yang penuh dengan penantian dan kepedihan. Sekarang Mahesa sudah datang. Belahan jiwanya sudah melengkapi hidupnya. Manira merasa seperti mendapatkan surga dan seluruh isinya. Dia tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya hatinya. Bisa menatap wajah pria yang paling dia cintai, setiap saat. Bisa memegang tangannya dan bisa selalu bersamanya. Ini benar-benar mimpi yang menjadi nyata.
Frankfurt, kota cantik yang menjadi pusat keuangan dan transportasi serta finansial terbesar di Eropa. Di sini terdapat beberapa kantor pusat Bank Sentral Eropa, Bank Federal Jerman, bursa efek Frankfurt serta pameran perdagangan Frankfurt. Sebagai kota besar dan maju, bandara Frankfurt menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia. Selain itu stasiun Frankfurt juga termasuk stasiun tersibuk di dunia. Frankfurt juga dikenal sebagai kota dengan kualitas hidup terbaik ketujuh di dunia dengan biaya hidup termahal ke sepuluh di dunia.
Salah satu pemandangan cantik di kota ini adalah adanya Sungai Main yang di atasnya melintas jembatan besi yang diberi nama Eiserner Steg. Jembatan ini khusus untuk pejalan kaki. Selain itu masih banyak lagi destinasi wisata menarik lainnya di kota ini. Yang paling mencuri perhatian adalah sebuah gedung pertunjukan milik keluarga Mahesa. Lebih tepatnya sebuah gedung pertunjukan yang sudah dibangun sejak Juragan Damar masih hidup dan baru selesai dikerjakan sekitar sepuluh tahun yang lalu atau delapan tahun setelah Juragan Damar meninggal.
Di tempat yang super besar dan luas dengan arsitektur bergaya Eropa Klasik beberapa lukisan artistik di dindingnya ini sering diadakan pertunjukan musik, drama, tari, pameran lukisan hingga pameran berlian yang sering diadakan oleh Mahesa sendiri. Mahesa muncul menjadi jelamaan lain dari Juragan Damar yang juga mengikuti jejak kesuksesan ayahnya. Jika Gibran mewarisi sisi melankolis Juragan Damar yang penuh dengan cinta, maka Mahesa mewarisi sifat arogan, keangkuhan dan kesombongannya. Dia juga dikenal sebagai pengusaha bertangan dingin yang mampu melakukan segala cara untuk memajukan bisnisnya. Salah satunya adalah berusaha menekan para seniman untuk menjual karya seni mereka pada Mahesa dan menjadikan tempat ini sebagai salah satu pusat seni paling besar di negara ini.
__ADS_1
“Aku tidak akan menjual lukisan ini,” ucap salah seorang seniman jalanan.
Bersambung...