
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 98
“So grausam,” umpat seorang ibu kepada temannya selepas keluar dari gedung pertunjukan.
“Moge Gott ihn bestrafen,” jawab rekannya, turut mengutuk Mahesa.
__ADS_1
Tanpa mereka sadar, saat itu Mahesa –orang yang mereka kutuk– sedang duduk di depan gedung pertunjukan seperti orang gila yang rambutnya berantakan karena terlalu mabuk sampai harus tertidur di depan gedung seperti pengemis jalanan. Tidak ada lagi satu orang pun yang menghormati dan menghargainya seperti sebelumnya. Sekarang dia merasa bahwa dirinya adalah sampah. Mahesa tidak terima semua orang memperlakukannya seburuk ini.
Mahesa belum kalah. Dia belum mau menyerah. Dia tidak pernah mau menjadi nomor dua, tidak pernah mau tunduk di depan Gibran dan tidak pernah mau kalah. Ambisinya untuk mendapatkan segalanya kembali membuat dia mengayunkan rencana licik. Jika tidak bisa mengambil kembali kekayaannya dan hak-haknya secara hukum, dia bisa mengambilnya dengan cara lain.
“Aku memang tidak bisa mengubah surat wasiat itu. Tapi aku bisa mengubah jalan hidupmu,” gerutu Mahesa dengan dendam yang masih menyala-nyala di matanya.
Mahesa masuk ke gedung pertunjukan sambil menyembunyikan sesuatu di balik mantel hitamnya. Dia berjalan perlahan sambil menatap Gibran yang masih berdiri menatap foto Manira. Penampilan Mahesa yang sudah berantakan seperti orang gila, membuat para pegawainya yang berseliweran di gedung itu tidak mengenalinya lagi. Sempat ada beberapa yang merasa bahwa orang aneh ini mirip Mahesa tetapi kemudian mereka menepis hal itu karena menurut mereka tidak mungkin Mahesa yang dulu sangat berkharisma menjadi sedekil itu.
“Entschuldigung, Sir, Sie durfen nicht eintreten,” ucap petugas itu yang menganggap Mahesa sebagai orang gila, pengemis, gelandangan atau apalah namanya yang tidak pantas masuk ke tempat itu.
Mahesa tidak mau pergi tetapi petugas keamanan itu memaksanya keluar dari gedung pertunjukan ini. Mahesa tidak mau banyak bicara. Dia langsung mengeluarkan tangannya dari balik mantel yang ternyata sudah memegang pistol lalu mengarahkan pistol itu ke arah Gibran.
__ADS_1
“Hi, was machst du?” teriak petugas keamanan itu.
Gibran terkejut mendengar kegaduhan. Dia menoleh ke belakang dan mendapati Mahesa yang sudah berubah seperti orang gila menodongkan pistol ke arahnya. Beberapa petugas keamanan berusaha mengambil pistol itu tapi.
Dorrr!!!!
Mahesa menembakkan satu peluru ke arah Gibran. Gibran berhasil menghindar sehingga tidak terkena tembakan itu. Sontak suasana di dalam gedung pertunjukan menjadi gaduh. Semua orang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Ada teriakan penuh kengerian menyeruak. Beberapa petugas keamanan berdatangan untuk melumpuhkan Mahesa. Mereka berhasil mengambil pistol dari tangan Mahesa tetapi Mahesa masih terus memberontak.
Mahesa berhasil melawan beberapa petugas keamanan itu dan berlari ke arah Gibran. Mahesa sangat marah sehingga tanpa ragu mencekik leher Gibran dengan sekuat tenaganya seakan ingin menghabisi Gibran hari itu juga. Giban berusaha melepaskan tangan Mahesa sampai keduanya berguling-guling di lantai dan terlibat perkelahian hebat. Mereka, kedua kakak beradik ini kembali terlibat adu hantam seolah ingin saling bunuh. Tidak ada yang indah dari hubungan mereka meski seharusnya mereka saling mengasihi dan menyayangi sebagai saudara. Yang tersisa dari mereka hanyalah dendam, kemarahan dan kebencian. Sampai detik ini pun kemarahan satu sama lain atas masa lalu yang kelam itu belum usai. Bahkan sekarang bertambah besar setelah apa yang Mahesa lakukan kepada Manira.
__ADS_1
Bersambung...