Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 30


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 30


Setelah kereta melintas, Gibran membuka matanya dan melihat Manira yang berbaring di pelukannya. Manira hanya diam, membatu. Matanya terbuka tetapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menangis, mengungkapkan sebuah kesedihan yang sangat dalam. Dia seperti seseorang yang sudah sangat putus asa akan sesuatu hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Perempuan cantik berkulit putih ini, terlihat seperti boneka kayu yang hanya terdiam dengan mata yang basah.


Gibran pun diam. Hingga hampir petang, Gibran tetap duduk di atas hamparan daun kering bercampur ilalang itu. Dia tidak mau menanyakan apapun. Hanya berharap Manira bangkit atau mengatakan sesuatu. Satu hal yang Gibran bisa tangkap dari seorang Manira, keputusasaan. Sesuatu yang sudah menguasai hati dan pikirannya hingga menjadikan tubuhnya seperti mayat hidup karena kehilangan nyawanya. Nyawa yang sudah dibawa pergi oleh kekasihnya yang sekarang entah dimana.

__ADS_1


Bodoh, satu kata yang terbersit di benak Gibran, menggambarkan betapa bodohnya Manira yang bisa dipermainkan dan dikuasai oleh cinta hingga menghancurkan dirinya sendiri. Cinta. Kenapa kata yang tidak berwujud itu bisa begitu dahsyat menghancurkan dan mengendalikan hidup seseorang hingga orang itu tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk dirinya sendiri. Cinta adalah pembunuh.


Gibran belum lupa bagaimana cinta menghancurkan segalanya. Karena cinta yang salah, Juragan Damar menghancurkan keluarganya. Karena cinta, ayahnya Hasan merana dalam hidupnya. Karena cinta, ibunya meninggal. Karena cinta pula Juragan Damar mati sia-sia. Semuanya berawal dari cinta. Bahkan dia sendiri menjadi korban dari cinta itu. Semuanya hancur hanya tersisa dirinya yang kini menjadi sampah. Hingga kini dia belum berhenti menyesali hal itu tetapi sekarang di hadapannya ada satu lagi orang bodoh yang bisa dikuasai dan dipermainkan oleh cinta. Gibran merasa marah, kasihan dan kesal melihat Manira menghancurkan dirinya sendiri karena cinta.


Mereka hanya duduk bersebelahan di atas hamparan daun kering dan belaian ilalang yang menari bersama angin petang. Mereka membisu dengan lamunan masing-masing, tanpa bicara apa-apa. Menjelang magrib, saat senja sudah semakin menghitam, Manira berdiri dan meninggalkan Gibran tanpa berkata apa-apa. Dia terlihat sangat hancur. Seperti sangat tahu isi hati Manira, Gibran bersenandung menyanyikan lagu yang biasa dimainkan Manira saat menunggu kekasihnya,


Seluruh hariku aku habiskan untuk menunggumu


Seluruh nafasku aku hembuskan untuk menantikanmu


Tidak ada yang lebih menyakitkan selain merindukanmu

__ADS_1


Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa berhenti mencintaimu...


Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menggantikanmu dengan siapa pun...


Rasanya seperti mati bunuh diri...


Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati...


Kasihku.... sayangku.... kembalilah padaku


Kasihku.... sayangku.... Aku sangat merindukanmu...

__ADS_1


Manira menghentikan langkahnya mendengar untaian puisi yang Gibran ambil dari lirik lagu yang sering dia mainkan. Dia menoleh ke belakang, terkejut mendengar orang gila itu bisa menyampaikannya dengan penuh perasaan seolah dia yang ada dalam lagu itu. Manira menatap Gibran, seperti menangkap sosok lain dari Gibran yang melankolis dan penuh perasaan. Di mata Manira, orang gila yang tidak pernah mandi itu mendadak berubah menjadi seorang pujangga yang pandai mengungkapkan isi hatinya melalui barisan puisi. Sejenak Manira mempertanyakan siapa laki-laki ini? Siapa orang yang bisa membaca isi hatinya dengan sangat jelas seperti sedang membaca buku yang halamannya terbuka.


Bersambung...


__ADS_2