Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 48


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 48


Ketika Gibran sedang sibuk memotong rumput dengan sabitnya, tiba-tiba Manira berdiri di depannya. Gibran berhenti menyabit rumput. Dia melihat sepasang sepatu warna putih milik perempuan berdiri menghadangnya. Gibran mendongak ke atas. Terlihat jelas wajah Manira, perempuan yang selalu memakai pakaian warna putih dan terlihat ceria dari kejautan tapi memilukan saat didekati. Manira menunjukkan wajah marah seakan berkata bahwa sudah cukup selama ini Gibran menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sia-sia.


Gibran mulai kesal dengan berbagai perdebatannya dengan Manira belakangan ini. Kali ini dia tidak mau menanggapi kedatangan Manira. Dia memilih pindah ke tempat lain. Manira mengikuti Gibran hingga sampai di samping terowongan tua yang tampak ditumbuhi lumut dan tumbuhan paku. Pagi yang sepi, saat matahari mulai menguning seperti padi yang hendak tua, keduanya saling diam menyimpan kesal.

__ADS_1


Seperti bisa membaca kemarahan Manira, Gibran memilih untuk menghindar karena tidak mau berdebat dengan perempuan yang sepanjang hari menghabiskan waktu di stasiun tua untuk menunggu seseorang. Tetapi sepertinya sekarang perempuan bermata indah itu punya kesibukan lain daripada sekedar menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang. Dia risih melihat Gibran yang hidup seperti gelandangan.


“Kamu puas dengan kehidupan seperti ini?” Manira marah.


“Diamlah. Aku sedang tidak ingin berdebat,”


“Orang yang biasa-biasa saja, hidupnya juga pasti akan biasa-biasa saja,” ucap Manira yang saat ini bahkan jongkok di depan Gibran agar bisa bicara dengan jelas pada Gibran.


“Orang yang tujuan hidupnya hanya untuk makan, pasti akan begini-begini saja,” teriak Manira dengan nada lebih keras agar Gibran mendengarnya. Dia geram melihat Gibran yang hidup hanya sekedar untuk makan, tidak ada ambisi untuk menjadi sesuatu yang lebih baik. “Kalau memang seperti itu, apa bedanya kamu dengan mereka?” lanjut Manira menunjuk beberapa kambing yang sengaja dibiarkan merumput di sekitar rel kereta oleh pemiliknya.


Gibran melihat beberapa kambing berbulu putih yang sedang merumput. Dia tersenyum sinis seolah setuju bahwa memang seperti itulah dia. Hidup hanya untuk makan. Tidak bisa menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan, tidak ada tujuan hidup, tidak ada ambisi dan pada akhirnya dia hanya akan berakhir sebagai sampah. Dia hidup tapi seperti mati. Dia tidak marah dengan olokan Manira.

__ADS_1


Gibran tidak mau menanggapi ocehan Manira yang sok dewasa dan sok tahu segalanya tentang hidup seakan hidupnya sendiri sudah sangat bahagia. Menurutnya, perempuan lugu itu hanya bicara tentang teori kehidupan, hanya melihat hidup seperti melihat lampu hias berwarna-warni yang indah. Dia tidak tahu bahwa sesungguhnya di dalamnya sangat panas. Siapa yang bermain-main dengannya pasti akan terbakar.


“Aku tidak tahu apa masalahmu di masa lalu. Tapi tidak seharusnya kamu kalah dan menyerah seperti ini,” teriak Manira.


“Diamlah. Seseorang yang pernah hampir mati bunuh diri karena kebodohannya, jangan berusaha bicara bijak di hadapanku seakan-akan tahu segalanya tentang hidup,” umpat Gibran.


“Aku memang pernah mencoba bunuh diri. Tapi apa yang kamu lakukan ini sama artinya dengan membunuh diri kamu secara psikis. Kamu menyerah dan berputus asa atas hidupmu sendiri dan akhirnya menjadi SAMPAH. Kamu tidak mau berjuang, kamu tidak berhasil bangkit untuk dirimu sendiri,”



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2