
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 9
“Bagus,” jawab Hasan sambil mengelus kepala Gibran, bangga.
Dia sama sekali tidak mau mengingat siapa Gibran. Apakah dia anak kandungnya atau bukan. Yang dia lihat hanyalah seorang anak kecil yang sangat pintar, sangat dia sayangi dan berharap kelak nasibnya jauh lebih baik darinya.
__ADS_1
Sesekali Hasan menatap Gibran dengan mata basah, mempertanyakan, kenapa semua harus seperti ini? Jika saja Gibran tidak terlahir dari hubungan semacam itu pasti semuanya akan lebih baik. Entah kenapa, Hasan seperti melihat masa depan yang kelam di mata anak sekecil dan sepolos itu.
Hari itu, Hasan bahkan benar-benar menitikan air matanya saat melihat Gibran kecil sedang membantu berjualan ikan. Dia lalu mencium kepala anak itu dan memeluknya dengan air mata yang tidak bisa dia tahan lagi. Gibran terdiam. Dia sangat pintar. Dia seperti bisa memahami segalanya dengan lebih baik, lebih dari yang Hasan bayangkan.
“Bapak tenang saja.... Gibran akan selalu di sini bersama Bapak,” ucap polos Gibran.
Bagi Gibran, Hasan adalah ayahnya. Seorang ayah yang benar-benar ayah. Anak kecil itu tahu segalanya tentang urusan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Tentang sejarah hidupnya, tentang hubungan ibunya dengan Juragan Damar, tentang sakitnya hati Hasan atas pengkhianatan itu dan tentang segalanya. Tetapi anak kecil itu memilih untuk diam dan menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Bisa jadi dia kecewa kepada ibunya sendiri, bisa jadi dia marah pada ayah kandungnya. Tetapi Gibran lebih memilih menikmati hidupnya sebagai anak dari seorang Hasan, seseorang yang tulus mencintainya melebihi orang tua kandungnya sendiri. Seseorang yang sangat luar biasa tegar dalam menghadapi semua pengkhianatan yang pahit itu.
“Gibran juga sayang Bapak,”
Hasan memegang bahu Gibran, menatapnya dan menasehatinya tentang jalan hidup ke depan yang mungkin akan sama beratnya dengan hidupnya saat ini. Seorang anak yang menjadi korban atas keserakahan dan ketamakan orang tuanya akan uang dan cinta yang masa depannya tidak pernah ada yang bisa menebaknya. Mungkin akan ada banyak kebencian, hujatan dan kemarahan. Tetapi Gibran harus kuat karena apa pun yang terjadi, itu bukan salah Gibran.
__ADS_1
“Kamu janji sama bapak, kamu adalah laki-laki jadi apapun yang terjadi nanti, kamu harus kuat,” ucap Hasan.
Gibran menatap Hasan dengan mata basah. Gibran merasa beruntung, walau orang tuanya sendiri tidak terlalu peduli padanya tetapi Hasan sangat sayang padanya. Dia kagum sekaligus bangga karena laki-laki penjual ikan asin itu tidak membencinya meski setelah semua yang terjadi.
“Suatu saat nanti kamu akan menjadi kakak, adik, suami atau ayah seseorang. Kamu akan menjadi sandaran semua orang. Untuk anak-anakmu, istrimu, saudara-saudaramu, untuk dirimu sendiri dan bahkan untuk orang tua kamu. Suatu saat nanti semua orang tua pasti akan mulai renta dan sakit-sakitan. Pada saat seperti itu, yang mereka cari adalah anak-anak mereka. Jadi kamu harus menjadi sosok yang kuat dan tangguh, jangan cengeng,”
“Gibran janji.... Gibran akan menjadi orang hebat supaya tidak ada seorang pun yang bisa menghina dan mempermainkan Gibran lagi,” jawab Gibran seolah mengerti bahwa Hasan tidak ingin dia bernasib sama dengannya, dikhianati dan dipermainkan karena ketidakberdayaannya.
“Bagus,” ucap Hasan, bangga melihat Gibran tumbuh menjadi anak cerdas dan penurut.
Bersambung...
__ADS_1