Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 58


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 58


“Yang penting adalah ini,” Gibran menunjuk kepalanya yang menandakan bahwa yang lebih utama dari seseorang adalah isi otaknya, kecerdasannya, kepintarannya, bukan penampilan luar yang bisa dipalsukan. “Kita lihat saja,”


Gibran berjalan mendekati pria kaya yang sudah menunggu mereka sembari menikmati udara pagi yang segar. Beberapa mobil berseliweran melintasi jalanan sepi itu. Laki-laki itu terlihat tidak tertarik membeli tanah di tempat sesepi ini, apalagi dengan kondisi tanah yang seperti lembah yang dikelilingi tanaman liar.


“Selamat pagi,” sapa Gibran.

__ADS_1


Orang itu menatap Gibran dengan tatapan aneh. Dia pasti heran, apa yang akan dilakukan orang gila ini kepadanya. Melihat penampilan Gibran, pria itu tersenyum sinis, dengan penuh penghinaan seakan ingin mengatakan bahwa laki-laki seperti Gibran tidak pantas bicara atau sekedar berdiri sejajar dengannya. Pria itu tidak menjawab, dia justru memalingkan wajahnya dan mengacuhkan Gibran.


Gibran berusaha menahan kesal, tahu bahwa laki-laki itu sedang berusaha menunjukkan kelasnya dan menghina dia yang berpenampilan kumal. Manira sudah menyangka ini akan terjadi. Dia buru-buru menghadang laki-laki itu yang hampir masuk ke dalam mobil, meninggalkan tempat ini.


“Pak Arman, tolong sebentar saja. Biarkan dia mengatakan sesuatu. Siapa tahu bapak tertarik membeli tanah yang saya tawarkan kemarin,” ucap Manira, menahan malu atas penampilan Gibran yang super berantakan.


“Dia???” Pak Arman menunjuk Gibran dengan penuh ketidakpercayaan. “Apa yang bisa dia lakukan?” lanjutnya meremehkan Gibran.


“Saya bisa merubah pandangan Anda 360 derajat dalam waktu 5 menit dari yang awalnya tidak berminat menjadi sangat berminat membeli tanah ini,” jawab Gibran dengan penuh percaya diri.


“Kamu menyuruh saya bicara dengan orang gila?” Pak Arman tersinggung. “Kamu menghina saya?” lanjut Pak Arman marah kepada Manira.


“Dia bukan orang gila. Hanya penampilannya saja yang sedikit berantakan, tapi dia cerdas,” Manira berusaha meyakinkan.

__ADS_1


“Omong kosong,” Pak Arman hendak masuk ke dalam mobilnya.


“Beri kami 5 menit,” teriak Manira menghentikan laki-laki itu, “Hanya 5 menit, tidak akan membuat bapak rugikan?”


Pak Arman tampak mulai memikirkan kata-kata Manira.


“Jangan sampai 5 menit yang bapak lewatkan ini akan membuat bapak menyesal karena sudah kehilangan proyek besar,” lanjut Manira.


“Baiklah, aku ingin lihat apa yang bisa dilakukan orang gila ini,” jawab Pak Arman, tidak yakin.


Sebelumnya, Manira sudah mengatakan pada Gibran bahwa Pak Arman adalah seorang pengusaha kelas kakap. Dia terbiasa menangani bisnis besar bernilai miliaran hingga triliunan. Dia sudah membangun sembilan mall berskala besar, rumah makan, taman hiburan dan lainnya. Orang seperti ini adalah orang-orang besar yang punya mimpi besar. Dia tidak mungkin tertarik jika hanya diajak bicara soal warung nasi atau sekedar membangun tempat pemancingan yang tidak prospektif.


Manira menatap Gibran, penasaran, apa yang bisa dilakukan oleh Gibran dan membuktikan dugaannya bahwa Gibran memang bukan orang biasa. Dia tidak gila, seperti yang terlihat dari luar. Manira juga bertanya-tanya, apa yang tersembunyi di balik sosok Gibran yang sebenarnya. Di mata Manira, Gibran seperti sebuah kotak misteri besar yang selalu membuatnya penasaran.

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2