
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 17
“Apa yang kamu inginkan?” tantang Juragan Damar.
“Pindahkan semua harta kekayaan kita menjadi atas nama Mahesa,” pinta Sarifah yang lebih bernada memaksa.
__ADS_1
“Itu tidak mungkin,” jawab Juragan Damar yang menandakan bahwa dia masih tidak bisa mengabaikan Gibran sebagai putra kesayangannya.
“Kenapa tidak mungkin? Mahesa anak sah kita,” jawab Sarifah menatap Juragan Damar. “Mas berpikir ingin mewariskan semua harta kekayaan kita kepada Gibran?” tuduh Sarifah dengan sangat yakin.
“Bukankah kamu juga sudah tahu, Gibran juga anakku,”
“Dia anak tidak sah mas dengan perempuan lain,”
“Darah tetap darah,”
“Aku akan tetap memberikan hak Gibran sebagai putra pertama dari Juragan Damar yang kaya raya,” bantah Juragan Damar, menegaskan bahwa dia tidak akan mengubah keputusannya untuk memasukkan Gibran ke dalam daftar ahli warisnya.
__ADS_1
“Langkahi dulu mayatku,” cegah Sarifah dengan tegas.
“Jangan macam-macam,” bentak Juragan Damar sambil merampas surat-surat tanah dan sertifikat seluruh harta kekayaannya. Dia menatap Sarifah dengan marah dan menunjukkan keangkuhannya yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya. “Hanya aku yang berkuasa di kampung ini. Tidak ada seorang pun yang bisa mengaturku atau memerintahku. Kamu juga tidak. Jadi lain kali, jangan pernah berani menatapku seperti ini lagi,” ancam Juragan Damar sambil memegang wajah Sarifah dengan kasar.
Sarfiah sangat sedih. Dia semakin yakin bahwa Juragan Damar akan memberikan semua warisannya kepada Gibran dan menelantarkan Mahesa. Sarifah hanya bisa menangis di ruang tamu, menyesalkan bahwa dia sudah kecolongan sampai seperti ini. Sebelumnya, perselingkuhan Juragan Damar yang berlangsung selama 12 tahun lebih saja, sudah menyakitkan. Sekarang dia harus dibuat gelisah dengan nasib masa depan Mahesa yang semakin terancam dengan keberadaan Gibran sebagai anak dari selingkuhannya yang jauh lebih juragan sayangi daripada anak sahnya, Mahesa.
“Buk....” tiba-tiba Mahesa datang dan menghapus air mata Sarifah seakan tahu kepiluan ibunya. “Ibu tenang saja. Mahesa pasti akan mengembalikan semuanya seperti semula. Mahesa akan membuat bapak kembali dan Mahesa tidak akan membiarkan anak itu dan ibunya masuk ke rumah kita. Ibu percaya sama Mahesa,”
Sarifah sangat terharu melihat Mahesa kecil yang begitu bisa memahami perihnya. Dia bangga melihat Mahesa menjadi anak yang akan selalu membelanya dan melindunginya dari segala keburukan. Sarifah memegang tangan kecil Mahesa, menciuminya dan kemudian memeluk Mahesa sangat rapat sambil terus menangis. Sarifah bingung, dia benar-benar tidak tahu bagaimana nasib masa depannya dengan Mahesa nanti. Semua terasa sangat menakutkan.
Beberapa hari berlalu. Sarifah tidak bisa berhenti memikirkan hal ini. Dia sangat cemas dan gelisah hingga akhirnya jatuh sakit. Meski begitu, Juragan Damar seperti tidak peduli. Dia masih sering pulang malam. Setiap kali melihat Juragan Damar pulang malam selalu membuat Sarifah semakin teriris-iris. Dia bisa menebak dengan sangat jelas kemana suaminya pergi dan apa yang dilakukannya. Pasti bersama Ratmi.
__ADS_1
Semakin hari sakit Sarifah semakin keras. Bukan hanya sakit secara fisik tetapi luka dalam hatinya juga menggerogoti tubuhnya. Dalam waktu satu minggu saja sudah membuat Sarifah lemah. Untuk mengembalikan nama baiknya, Ratmi sengaja menjenguk Sarifah. Kedatangan Ratmi semakin membuat Sarifah sesak nafas. Ingin sekali dia mencekik perempuan bermata coklat itu tetapi untuk bangun dari tempat tidur saja, tidak bisa dia lakukan,
Bersambung....