
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 4
Ratmi tidak ingin disebut menjual diri. Dia hanya merasa bahwa dia harus mengambil kesempatan yang ada. Dia memberikan apa yang Juragan Damar inginkan darinya dan Juragan Damar memberikan apa yang dia inginkan. Semuanya sudah setimpal. Ini disebut KESEPAKATAN.
“Sudahlah, jangan munafik dan jangan mengatakan bahwa kamu menyesal sudah melakukan semua ini,” ucap Juragan Damar.
__ADS_1
“Aku tidak menyesal. Asal aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.... apa pun akan aku lakukan,” jawab Ratmi dengan penuh ambisius untuk bisa jadi kaya.
Juragan Damar tersenyum puas. Akhirnya dia bisa mendapatkan semua yang dia inginkan. Di tangan kanannya ada Sarifah yang bisa memberinya uang dan kekayaan. Sedangkan di tangan kirinya, dia bisa menggenggam Ratmi sebagai seseorang yang sangat dia cintai. Apapun caranya dan apapun sebutannya untuk hubungan mereka, Juragan Damar tidak peduli. Yang penting dia bisa mendapatkan Ratmi dalam pelukannya. Sebab, sama seperti uang yang keberadaannya tidak bisa digantikan oleh apapun, maka Ratmi pun juga tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Itulah yang disebut dengan cinta yang sesungguhnya.
“Kamu bermalam lagi di rumah Juragan Damar?” teriak Hasan, marah. Dia mulai merasa bahwa istrinya sudah melakukan sesuatu yang tidak beres.
“Istri Juragan Damar sedang sakit. Jadi aku harus selalu ada di sana kalau sewaktu-waktu perempuan itu butuh sesuatu,” jawab Ratmi berkelit.
“Kenapa sih, mas selalu curiga sama aku? Mas tidak percaya kalau aku cuma cinta sama mas? Mas mau aku melakukan apa supaya mas percaya???” bantah Ratmi balik marah.
Sebenarnya Hasan masih gusar. Dia ingin Ratmi mengaku kalau dia sudah berbuat yang tidak baik dengan Juragan Damar. Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Dia juga tidak mau hal ini semakin memperburuk hubungannya dengan Ratmi yang belakangan ini sudah mulai sering terjadi cekcok tentang banyak hal. Mulai dari kebutuhan rumah tangga yang selalu kurang sampai soal kecurigaan-kecurigaan Hasan terhadap istrinya dan Juragan Damar. Hasan hanya bisa menarik nafas panjang dan menahan diri untuk tidak marah dan membuat masalah semakin runyam.
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian Ratmi benar-benar hamil. Hasan tidak yakin kalau itu anaknya. Meski tidak ada bukti, kecurigaannya sangat kuat bahwa anak yang dikandung Ratmi adalah anak Juragan Damar. Semakin hari mereka semakin sering bertengkar karena Hasan terus mendesak Ratmi untuk mengakui anak siapa yang ada dalam kandungannya.
“Mas mau tahu yang sebenarnya?” tanya Ratmi bernada marah. “Baik, ini memang anak Juragan Damar,” lanjut Ratmi yang akhirnya berani berterus terang. “Tapi mas bisa apa? Mas mau marah? Mau menuntut keadilan? Atau mau melapor pada warga desa bahwa istri mas sudah berbuat serong dengan laki-laki lain?” tantang Ratmi. “Ingat mas, Juragan Damar itu berkuasa. Kalau mas macam-macam, bisa-bisa justru mas diusir dari kampung ini atau usaha berjualan ikan asin mas di pasar, dihancurkan oleh orang-orangnya Juragan Damar. Jadi lebih baik mas diam dan jangan banyak bertingkah,”
“Kamu tega mengkhianati aku, padahal aku sudah tulus mencintai kamu dan melakukan apa saja untuk membahagiakan kamu,” Hasan sangat marah.
“Tapi aku tidak bahagia mas. Memangnya apa yang bisa diharapkan dari seorang penjual ikan asin yang serba pas-pasan?”
“Kamu berubah....”
Bersambung...
__ADS_1