
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 91
__ADS_1
Gibran merasa seluruh dunianya sudah hancur. Lebih hancur dari ketika dia kehilangan ibunya dan semua masalah yang menghantamnya waktu itu. Dia hanya bisa berdiri seperti patung melihat kekasihnya terkapar tidak berdaya. Dia melihat beberapa rekan medis mulai mengevakuasi Manira dan membawanya ke dalam ambulans. Tapi Gibran hanya diam. Dia seperti orang bingung yang tidak tahu apa yang harus dia lakukan meski sebenarnya dia sangat ingin memeluk Manira dengan kedua tangannya. Hanya air matalah yang bisa dia sumbangkan untuk mengantar kepergian Manira bersama ambulan warna putih itu.
Sejak saat itu Gibran seperti mayat hidup. Dia terus menyendiri di depan hotel itu, tempat terakhir kalinya dia melihat Manira. Tubuhnya hampir membeku karena kedinginan tapi dia tetap tidak mau meninggalkan tempat itu. Gibran merasa semua sudah berakhir tidak tersisa. Juragan Damar, mungkin dia memang cerminan dari laki-laki angkuh dan arogan yang pada akhirnya kalah oleh cinta. Di akhir kisahnya, Juragan Damar yang memiliki segala pesona akhirnya mati merana karena cinta. Mungkin hal yang sama benar-benar akan terulang pada Gibran.
Tapi, di suatu tempat ada seseorang yang tidak rela jika kisah itu harus terulang kembali. Seseorang tidak boleh mati karena meratapi kekasihnya. Seseorang harus bangkit untuk memperjuangkan hidupnya sendiri. Dia tidak boleh menghancurkan dirinya sendiri seperti ini.
Gibran terkejut. Dia menatap Pak Anwar dengan penuh tanda tanya, penasaran. Sekilas mengenang Pak Anwar. Dia adalah salah satu orang kepercayaan Juragan Damar yang masih setia mendampingi Mahesa hingga saat ini. Dia termasuk saksi hidup semua kisah sengit yang mewarnai kehidupan Gibran dan Mahesa. Dia tahu segalanya. Sejarah bagaimana kedua anak itu dilahirkan dan sejarah bagaimana kebencian itu bisa sangat dalam, dia juga tahu.
__ADS_1
Sebagai bawahan dia tidak bisa melawan majikannya meski dia tahu bahwa yang Mahesa maupun yang Juragan Damar lakukan waktu itu adalah salah. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, dia merasa perlu memperbaiki benang yang sudah terlanjur kusut ini. Ada sebuah ketidakadilan yang dia mau coba perjuangkan untuk seseorang.
Sebagai pengikut setia Juragan Damar, Pak Anwar sudah banyak melihat seperti apa cara Mahesa menggunakan kekayaan peninggalan Juragan Damar selama ini. Ada keangkuhan, kekejaman, kesombongan. Pak Anwar tetap diam sampai akhirnya dia menemukan orang yang tepat untuk menggantikan Juragan Damar.
Gibran juga adalah penerus Juragan Damar. Meski tidak memiliki pendidikan yang tinggi tapi dia memiliki sifat yang lebih bijaksana, lebih lembut dan lebih bisa mengemong harta peninggalan Juragan Damar. Pak Anwar lebih percaya jika seluruh harta warisan Juragan Damar diurus oleh Gibran daripada Mahesa. Hal yang sama juga pernah dikatakan Juragan Damar beberapa hari sebelum dia meninggal. Dia meminta Pak Anwar mencari Gibran untuk mewarisi semua harta kekayaannya. Pak Anwar sudah berusaha mencari Gibran dan baru menemukannya sekarang. Sekaranglah saatnya, dia menjalankan wasiat Juragan Damar. Secara hukum, Gibran punya hak yang sama atas semua harta kekayaan Mahesa. Artinya dia juga masih bisa menuntut.
Beberapa hari kemudian terjadi kehebohan di gedung pertunjukan Mahesa di Frankfurt. Sebuah gedung pertunjukan yang banyak dijadikan sebagai tempat pagelaran pertunjukan seni, teater, drama musikal, pameran lukisan hingga pelelangan berlian seperti yang pernah dilakukan beberapa waktu lalu. Pagi itu semua staf Mahesa dibuat panik karena puluhan kelayen yang sudah memesan tempat itu tiba-tiba melayangkan protes karena pihak Mahesa membatalkan kontrak kerjasama secara sepihak. Mereka menuntut ganti rugi sepuluh kali lipat dari harga yang sudah mereka bayarkan untuk menyewa tempat itu.
__ADS_1
Bersambung...