Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 42


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 42


“Cinta, yang bahkan dukanya pun terasa sangat manis, yang air matanya terkesan seperti linangan berlian yang berkilauan dan sakitnya seperti semerbak bunga yang harum. Meski pun sakit, akan tetap indah. Meskipun tersakiti akan tetap indah. Segalanya tentang cinta, meski hanya berisi duka dan air mata, akan tetap lebih indah. Bahkan, seseorang yang mencintai sampai bodoh, terkadang merasa bahwa bertahan dalam duka adalah jauh lebih baik daripada pergi meninggalkan dia yang dicintai.

__ADS_1


“Seburuk apapun dia, dia tetap yang terbaik. Karena dia adalah yang kita cintai, dia adalah yang kita pilih untuk kita simpan di dalam hati. Dia adalah satu diantara sekian banyak manusia di dunia ini yang kita percaya untuk menjaga hati kita, jiwa kita dan perasaan kita. Walau kadang tidak sempurna, walau kadang semua tidak sesuai harapan, walau kadang lebih banyak duka daripada bahagia. Bagi kita, mencintainya tetap lebih baik daripada pergi. Bertahan, tetap jauh lebih baik daripada menyerah. Meskipun tanpa ‘HARAPAN’,”


Gerutu Manira dalam hati menekankan bahwa sampai detik ini, baginya bertahan untuk tetap mencintai adalah lebih baik daripada menyerah meskipun sudah lelah, meskipun semua orang sudah menggoreskan tinta merah dan mengatakan bahwa dia SALAH. Tapi dia tetap menggenggam erat cinta itu dan tidak akan pernah melepaskannya meski mungkin sampai raganya tidak akan menyatu lagi dengan jiwanya. Karena baginya cintanya tetaplah cinta yang tidak akan terhapuskan oleh duka dan kekecewaan, dan tidak akan pernah tergantikan oleh apapun dan oleh siapapun. Manira dia bertahan antara cinta dan kebodohan. Entah apa julukan yang tepat untuknya apakah dia seorang pencinta sejati atau justru seseorang yang terlalu bodoh dalam mencintai.


Ngiiik..... ngoook....


Kembali terdengar lantunan lagu sendu dari biola Manira di stasiun tua ini. Kepedihannya mengundang simpati dari semua orang yang mendengarnya. Beberapa pengunjung stasiun diam sejenak di hadapan Manira. Mereka larut dalam permainan biola Manira hingga tanpa sadar mata mereka berkaca seakan ikut merasakan kepedihannya.


Hatinya sakit setiap kali dia menyakiti orang lain. Jauh lebih sakit ketika dia menyakiti orang lain dengan penolakannya daripada sakit karena merindukan kekasihnya. Dia tidak ingin melakukannya tapi semua orang selalu menempatkannya pada posisi seperti itu. Hanya dengan biola inilah dia bisa mencurahkan semua perasaannya dan berharap kekasihnya segera datang menghapus segala dukanya.

__ADS_1


Gibran yang sedang menyapu daun kering di halaman stasiun, terhenti, mendengarkan suara biola Manira yang kembali terdengar pilu. Gibran menghampiri Manira dan duduk di sampingnya, menatap ke arah matahari yang menampar wajah mereka di jam tiga sore. Gibran diam, menunggu sampai Manira selesai memainkan biolanya.


“Mungkin karena manusia tidak sempurna, betapa pun kita ingin melakukan segalanya yang terbaik.... tetap saja masih ada yang tersakiti,” Manira sangat terpukul dengan kejadian kemarin. Dia merasa menjadi orang kejam yang sudah melukai banyak orang.


“Ada masalah?” tanya Gibran.


“Apa aku ini cantik?” tanya Manira dengan hati yang hancur.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2