
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 64
__ADS_1
Manira tersenyum. Gibran pun tersenyum sumringah seperti ada bunga yang sedang mekar di dalam hatinya. Dia sangat bahagia setiap kali bertemu dengan Manira. Entah kenapa, dia mulai terbiasa dengan keberadaan Manira. Jiwanya serasa lengkap bila Manira di dekatnya. Sebaliknya, seperti ada sesuatu yang hilang jika sedetik saja Manira tidak ada di hadapannya. Perasaan apa itu, Gibran tidak memahaminya. Yang jelas dia sangat bahagia dan merasa beruntung dipertemukan dengan Manira. Manira seperti gerimis yang menghapus kemarau panjang dalam jiwa Gibran sejak kejadian buruk itu.
“Terima kasih,” ucap Gibran.
Manira tersenyum, menatap Gibran dalam-dalam, “Aku hanya ingin menjadi orang yang baik,” jawab Manira dengan penuh perasaan. Bibirnya tersenyum tetapi matanya berkaca karena merasa bahwa selama ini dia belum cukup baik. Mungkin hanya Gibran yang menganggapnya baik. Selebihnya penuh dengan luka dan kekecewaan. Ada banyak orang yang terluka karenanya. Dia tidak menginginkan itu. Tetapi keadaan selalu membuatnya sulit. Itulah yang selalu membuat Manira sedih.
“E.....” Gibran ingin mengatakan sesuatu.
__ADS_1
Gibran kecewa. Dia kehilangan kesempatan untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Manira. Ada perasaan yang terdalam yang coba Gibran ingin bagi bersama Manira. Manira adalah seseorang yang cukup memberi warna dalam hidupnya. Bukan hanya warna, tapi dia adalah pelangi, bulan dan matahari yang bersinar dan menerangi kehidupan Gibran yang suram. Sekarang Gibran sudah berhasil bangkit. Sejenak dia sangat bahagia bersama Manira. Sesaat kemudian, hatinya gelisah.
“Bagaimana kalau tiba-tiba kekasihnya kembali?” geturu Gibran sambil memegang dadanya yang mulai berdesir mencemaskan hal yang paling menakutkan dalam hidupnya. “Bagaimana, kalau pada akhirnya kita tidak bisa bersama dengan orang yang kita sayangi?” lanjutnya, gelisah.
Sepertinya Gibran sudah jatuh cinta. Sebuah rasa yang selama ini mati-matian dia hindari tapi tetap saja menyusup ke dalam tulang sumsumnya, ke dalam nadinya, hatinya, jantungnya dan seluruh jiwanya. Seluruh judul dari kehidupan Gibran sekarang adalah Manira. Seseorang yang mati-matian menantikan kekasihnya. Seseorang yang seolah sudah memberi peringatan kepada Gibran bahwa dia tidak akan pernah bisa memilikinya. Dia tidak akan pernah menggantikan posisi kekasihnya, sama seperti laki-laki lainnya yang selalu datang pada Manira dan berakhir kecewa.
Manira mengemudikan mobilnya menyusuri jalan beraspal yang sepi. Hanya dipenuhi dedaunan kering yang berguguran dari ratusan pepohonan rindang yang berdiri di sepanjang jalan perbatasan kota. Manira diam tapi bukan berarti tanpa beban. Masalahnya dengan abah dan emak tentang desakan mereka untuk menikahkan Manira kembali bergejolak. Tiba-tiba dia merasa was-was dan sangat cemas, mengingat masalah yang tidak pernah benar-benar selesai itu. Apa yang dihadapinya seperti daun kering di atas sungai yang kadang timbul kadang tenggelam tapi sesungguhnya masalah itu tidak pernah selesai. Selama Manira belum memutuskan mau menikah dengan seseorang, selama itu pula ketegangannya dengan abah masih menganga seperti bara api yang kelihatannya tenang tetapi bisa menimbulkan kobaran api yang besar. Dan selama kekasih yang dinantikan Manira belum kembali, selama itu pula Manira akan terus menunggu. Masalah ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun hingga tanpa sadar sudah semakin banyak yang terlukai seperti Imam, yang sekarang berdiri di tengah jalan, menghadang Manira.
__ADS_1
Bersambung...