Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 78


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 78


“Aku tidak mau barang bekas,” ucap salah seorang rekan bisnis Mahesa yang terlihat sangat tertarik dengan Manira.

__ADS_1


“Tenang saja, dia masih disegel,” jawab Mahesa mengisyaratkan bahwa Manira belum pernah disentuh oleh siapa pun, termasuk dia.


Laki-laki paro baya itu tersenyum lalu meneguk anggur di tangannya sambil menatap Mahesa seolah mengatakan bahwa dia suka dengan cara kerja Mahesa. Mahesa meletakkan tangannya di samping kepala seperti memberi hormat dan tersenyum mengisyaratkan bahwa dia tidak akan pernah mengecewakan rekan bisnisnya.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya perempuan yang kemarin memakai gaun biru dan sempat membuat Manira cemburu.


“Aku ini cantik. Aku cukup bicara dengan lirikan mata dan senyuman manis lalu uang akan datang dengan sendirinya,” jawab perempuan itu.


Keduanya tersenyum seakan sudah tahu satu sama lain seperti apa sifat dan karakter masing-masing. Tidak semua orang mengerti bahasa tempat dia tinggal dengan baik. Para TKW juga belum tentu fasih bahasa tempat mereka bekerja. Semua menggunakan isyarat yang bisa dimengerti satu sama lain. Bagi orang seperti teman perempuan Mahesa itu yang penting wajahnya tetap cantik dan senyumnya menarik, sudah cukup. Cukup untuk menarik perhatian pria-pria kesepian seperti Mahesa.

__ADS_1


Sekarang perempuan berambut ikal itu kembali bergabung ke tengah-tengah Mahesa dan rekan kerjanya sambil membawa anggur di tangannya. Dia tampak tidak canggung bercanda dan berangkulan dengan Mahesa di depan umum. Dia bahkan terlihat akrab dengan teman-teman Mahesa dan terlihat seperti pasangannya. Manira tidak suka melihat itu. Dia tidak suka ada perempuan lain dekat dengan suaminya, merangkul bahu suaminya, tersenyum dan bersikap seolah dia adalah nyonya Mahesa.


Manira sedih. Matanya berkaca, hatinya sakit. Dia sangat cemburu, sangat marah dan sangat terluka. Tetapi Mahesa dan perempuan itu seolah sengaja melakukannya tanpa canggung. Di depan banyak orang, Mahesa mengabaikan istrinya dan memeluk wanita lain. Senyum perempuan berlipstik merah dan bergaun merah dengan memperlihatkan bagian punggungnya yang indah itu membuat Manira meradang. Dia ingin marah. Tetapi dia selalu mencoba menahan diri untuk tidak membuat keributan. Dia tidak mau membuat Mahesa tidak nyaman dengan segala kecemburuannya. Yang bisa Manira lakukan hanyalah memainkan biolanya.


Dia semakin emosional memainkan biolanya sambil menatap Mahesa bersama perempuan itu. Semakin lama nadanya semakin tinggi menggambarkan betapa dia sangat marah dan sangat cemburu. Manira tidak bisa mengendalikan emosinya. Semakin lama sayatan biolanya semakin melengking menyuarakan kecemburuannya. Air matanya bahkan sempat menetes melihat betapa Mahesa sangat tidak menghargainya sebagai seorang istri.


Wushhh.... Angin berhembus kencang. Tiba-tiba belahan rok Manira terbuka hingga terlihat bagian kakinya yang putih dan indah. Para laki-laki hidung belang itu semakin menikmati pertunjukan itu. Mahesa terkejut melihat semua orang bersorak sambil menatap Manira. Saat mengetahui rok Manira tersibak, Mahesa kembali mengambil ponselnya dan mengabadikan kejadian itu dalam bentuk video. Manira yang malang sedang dipertontonkan di depan semua orang. Manira kaget. Dia langsung berhenti memainkan biolanya dan berdiri, menutupi bagian kakinya yang terbuka. Dia meminta maaf kepada pengunjung atas kejadian ini, lalu dia putuskan untuk turun dari panggung.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2