
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 34
Staitmen pria itu semakin membuat Manira kagum padanya. Seorang pria sempurna untuk diimpikan semua wanita di seluruh dunia. Bukan hanya ketampanannya dan kesuksesannya tapi juga kebijaksanaannya dan kewibawaannya yang luar biasa. Semakin tahu banyak tentang pria itu membuat batin Manira semakin menciut. Dia merasa pria itu terbang terlalu tinggi hingga dia tidak bisa meraihnya lagi.
Terkadang aku takut melihat langit karena terlalu tinggi
Terkadang aku tidak berani menatap bintang karena sinarnya terlalu terang
__ADS_1
Aku hanya bisa berdiri di sini, melihat bayangannya dari dalam air
Ungkapan puisi hati itu muncul dalam benak Manira menggambarkan bahwa dia semakin merasa jauh dari kekasihnya. Seorang kekasih yang sudah menjelma menjadi bintang besar dengan segala kesuksesannya. Dia dikelilingi orang-orang hebat dan cerdas. Manira merasa bahwa dia bukan siapa-siapa dan tidak pantas mendampingi pria itu lagi. Manira menangis antara senang melihat kesuksesan kekasihnya dan rasa takut jika tidak bisa mendapatkannya kembali.
Manira dan pria itu duduk di sebuah restoran, di pagi yang cerah. Di depan mereka ada roti bakar dan kopi hangat. Manira yang selalu cantik dengan gaun putihnya, tampak sedih meski sekarang kekasihnya sudah ada di hadapannya. Seorang pria super tampan dan super kaya, berkemeja marun dengan senyuman hangat sedang duduk di hadapannya tetapi Manira masih saja gelisah.
“Aku terlalu mencintaimu,” ungkap Manira sambil mengaduk kopinya. “Tapi terkadang, cinta juga butuh logika. Pergilah. Cari wanita lain yang lebih pantas untukmu,” lanjut Manira yang merasa minder dengan keadaan yang tidak sebanding dengan kekasihnya yang punya segalanya.
Pria itu hanya tersenyum, menatap Manira dengan penuh cinta. Perlahan air mata Manira menetes.
“Karena kamu terlalu sempurna sampai aku tidak bisa lagi menggapaimu,”
“Jika suatu saat nanti aku bersama perempuan lain, apa kamu tidak akan merasa sakit?”
__ADS_1
“Pasti akan sakit,”
“Apa kamu tidak akan menyesali keputusanmu?”
“Jangankan nanti, sekarang pun aku sudah sangat menyesal. Aku bahkan tidak berani sedetik pun membayangkan jika suatu saat nanti kamu bersama dengan perempuan lain,” jawab Manira, kembali menitikan air mata. “Tapi ini yang terbaik untuk kamu. Karena kamu berhak bahagia,”
“Aku tidak akan meninggalkanmu,” jawab pria itu, memegang tangan Manira.
“Tidak bisakah, sekali saja kamu menjadi orang jahat agar aku bisa berhenti mencintaimu?” tanya Manira.
Hatinya benar-benar gelisah. Di satu sisi, dia merasa bahwa kekasihnya sudah terlalu jauh darinya. Dia sudah terlalu sukses dan memiliki segalanya. Manira merasa tidak pantas lagi mendampinginya. Dia tahu bahwa jika dia bersama kekasihnya maka dia hanya akan membuat kekasihnya malu dan terbebani. Untuk itu, dia ingin sekali melepaskan kekasihnya. Dia ingin berhenti mencintai kekasihnya dan membiarkan kekasihnya bersama perempuan lain yang lebih pantas untuknya. Tetapi tidak bisa. Manira terlalu mencintainya.
“Manira... Manira...” terdengar suara abah berteriak memanggil Manira.
__ADS_1
Manira terbangun. Hufh!!! Dia menarik nafas dalam-dalam, merasa lega karena semua itu hanya mimpi. Bahkan meski dalam mimpi pun dia sangat takut kehilangan kekasihnya. Tidak untuk sedetik atau sejenak. Dia tidak bisa membayangkan kehilangan kekasihnya karena Manira terlalu mencintainya. Dia melihat ada banyak sekali jarak diantara mereka, tapi Manira tetap tidak bisa melepaskannya.
Bersambung...