
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 66
Imam menarik nafas panjang, bingung harus bagaimana lagi membuat Manira mengerti bahwa yang dia lakukan ini adalah suatu kebodohan.
“Semakin keras kepala, maka kamu akan semakin tenggelam ke dalam mimpi-mimpi semumu. Setelah kamu sadar, kamu akan tahu bahwa sudah terlalu banyak waktumu yang terbuang hanya untuk menunggu satu orang yang belum tentu akan kembali. Kamu bodoh, seperti orang yang tenggelam di dalam lumpur dan tidak mau diselamatkan oleh siapa pun. Hanya berharap bahwa suatu saat nanti akan ada pohon yang menjulurkan rantingnya untuk menyelamatkanmu.... itu mustahil,” ungkap Imam berusaha menasehati Manira dengan nada kesal.
Manira kembali menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih mengalir, “Maafkan aku. Aku tetap tidak bisa...”
__ADS_1
“Manira!!!” teriak Imam, marah. Dia bahkan sudah mengangkat tangannya, hampir memukul Manira.
“Pukullah, jika itu bisa mengurangi sakitmu,” ucap Manira.
“Suatu saat nanti kamu akan menyesalinya,” pungkas Imam lalu pergi dengan kemarahannya.
“Katakan apa yang harus kulakukan yang bisa membuatmu merasa lebih baik,” teriak Manira.
Imam membalikkan badan, “Menikahlah denganku...”
“Manira!!!!” teriak Imam sambil berlari mengejar Manira.
Manira terus berlari sambil menangis. Berkali-kali dia memukuli dadanya sendiri sampai terdengar suara pukulan yang keras seakan hal itu bisa mengurangi rasa sakit di hatinya. Rasa sakit karena berkali-kali dia harus menjadi manusia jahat yang selalu menyakiti banyak orang. Dia menyalahkan dirinya sendiri, kenapa semua harus seperti ini? Ingin sekali membahagiakan banyak orang tetapi semua justru tersakiti olehnya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin menjadi orang baik.... aku hanya ingin menjadi orang yang baik...” ucapnya sambil berlari, menyesalkan kenapa dia selalu saja melakukan kesalah yang membuat banyak luka.
Manira terus berlari hingga sampai di suatu tempat yang ramai.
“Minggir!!! Minggir!!!” terdengar riuh teriakan beberapa orang di depan Manira.
Manira terkejut. Ada sebuah truk besar yang oleng di tengah jalan. Sepertinya baru saja terjadi kecelakaan. Puluhan polisi dan warga sipil berkumpul untuk mengevakuasi korban. Terdengar sirine antara ambulans dan sirine mobil polisi. Asap mengepul di sekitar truk merah itu. Perempuan berparas cantik itu membelah kerumunan warga untuk melihat lebih dekat truk yang sudah terbalik itu. Entah kenapa, jantungnya berdegup sangat kencang dan sangat gelisah. Beberapa saat kemudian.
“Aw.....” teriak Manira begitu melihat seorang laki-laki tua terjepit di dalam truk dengan noda darah dimana-mana.
“Jangan dilihat!!!” ucap Imam sambil Manira ke dalam pelukannya, memastikan agar Manira tidak melihat kejadian mengerikan itu. Manira menyembunyikan wajahnya dalam pelukan Imam dan menangis tersedu-sedu. Imam berusaha memeluk erat Manira dalam pelukannya, seakan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Sore itu Manira kembali memainkan biolanya di stasiun tua. Di sampingnya, ada sekeranjang bunga tabur, bekas dari pemakaman. Setiap kali merasa gelisah atau sedang sedih atau sedang sangat merindukan seseorang, Manira selalu pergi ke tempat ini. Kali ini, harapan Manira jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya. Dia benar-benar berharap bisa bertemu dengan kekasihnya hari ini. Seseorang yang selalu dia rindukan seumur hidupnya. Nyanyian lagu sendu itu terasa semakin menyayat hati. Lebih menyayat dari sebelumnya, mungkin karena dibarengi dengan linangan air mata Manira yang tidak biasa.
__ADS_1
Bersambung...