
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 45
Sebenarnya, Gibran terluka justru karena ibunya sendiri. Dia bisa melihat cinta yang sangat dalam di mata Hasan untuk Ratmi dan sebaliknya. Sebuah cinta yang saling mengisi seperti gelas dan air. Tetapi pada akhirnya cinta itu terkhianati oleh keserakahan. Cinta pula yang sudah membuat Juragan Damar bersikap kasar dan membunuh ibunya. Cinta macam apa itu yang tidak bisa membuat orang bahagia? Kenapa semuanya justru hancur berantakan dan menyisakan seorang gelandangan di stasiun tua ini? Itu membuat Gibran tidak percaya lagi dengan cinta. Baginya, tidak mungkin ada orang di dunia ini yang bisa benar-benar mencintai seseorang dengan sepenuh hatinya hingga tidak pernah bisa menggantikannya dengan siapa pun. Tetapi melihat Manira, membuatnya berpandangan lain. Mungkin memang ada seseorang yang tega menjual kesetiaannya demi uang, tetapi ada juga seseorang yang benar-benar tulus mencintai seperti Manira.
__ADS_1
“Apapun yang dia lakukan, aku tidak peduli. Asalkan dia kembali, itu saja sudah cukup,” jawab Manira, terlalu mencintai kekasihnya.
Gibran tertegun. Dalam hati dia berkata, jika saja semua orang bisa setia seperti Manira. Jika saja dulu ibunya bersikap seperti Manira, pasti keluarganya tidak akan hancur seperti ini. Gibran benar-benar tidak percaya bahwa di dunia ini masih ada seseorang yang mencintai dengan sangat tulus hingga tidak mempedulikan dirinya sendiri seperti Manira.
“Siapa pun dia.... dia adalah orang yang beruntung karena sudah dicintai oleh Manira,” gerutu Gibran dalam hati yang mulai mengagumi ketulusan dan kesetiaan Manira.
“Dengan menghukum dirimu sendiri, apa semua akan menjadi lebih baik?” teriak Manira, menyusul Gibran.
Gibran berhenti dan membalikkan badan. Manira berdiri menatapnya dengan tatapan marah seakan mengutuk sikap Gibran yang membiarkan dirinya hancur seperti ini karena masa lalu yang tidak dia inginkan. Meski tidak tahu kisahnya secara lengkap, dari caranya bicara tentang cinta, Manira merasa bahwa Gibran juga seseorang yang sangat terluka karena cinta. Yang Manira sesalkan adalah, kenapa dia menghancurkan dirinya sendiri, membiarkan anak-anak kecil melemparinya dengan batu dan mengatainya gila, membiarkan orang lain menganggapnya sebagai gelandangan atau bahkan pengemis, membiarkan semua orang memandang rendah dirinya. Padahal, setelah beberapa kali bicara dengannya, Manira yakin bahwa Gibran adalah orang yang cerdas dan sangat waras. Apa pun yang terjadi pada Gibran, bukan karena dia gila tapi karena dia kecewa akan sesuatu yang akhirnya membuat dia menghancurkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Siapa yang membuatmu kecewa? Ayahmu, ibumu, atau kekasihmu?” Manira bernada keras, balik memarahi sikap menyerah Gibran. “Apa dengan bersikap seperti ini, semua akan membaik seperti yang kamu inginkan? Semua yang kamu lakukan ini hanyalah menyakiti dirimu sendiri. Dasar bodoh,” umpat Manira sekali lagi.
“Kamu tidak tahu apa-apa,”
“Jika masa lalu sudah hancur, bukan berarti masa depan juga harus binasa,”
Bersambung...
__ADS_1