
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 14
Masyarakat pun hanya berani berbisik-bisik di belakang Ratmi dan Juragan Damar. Mereka tidak berani dengan tegas melarang atau menghukum keduanya yang sudah berbuat mesum. Pengaruh Juragan Damar sangat besar. Dikenal sebagai pengusaha paling kaya, berpengaruh dan berkuasa di kampung ini membuat semua orang menutup rapat mulut mereka dan pura-pura tidak tahu dengan perselingkuhan keduanya yang sudah menjadi rahasia umum.
__ADS_1
Semakin lama, kabar hubungan gelap itu pun mulai sampai di telinga Sarifah, ibu Mahesa. Fisiknya yang kurus kering dan ringkih sakit-sakitan bertambah sakit mendengar isu perselingkuhan suaminya yang semakin tidak bisa diredam. Sarifah berusaha bertahan dan menepis semua gosip itu. Tetapi hati kecilnya mulai tidak tenang. Dia tidak ingin mempercayai semua itu tetapi di sisi lain dia juga sangat penasaran. Kenapa beritanya semakin hari semakin kencang seperti badai yang menerjang rumah tangganya?
Suatu hari, Sarifah membawa Mahesa berjalan membelah hujan lebat di tengah malam. Sarifah merasa sangat tidak tenang. Sudah jam sebelas malam tapi Juragan Damar belum pulang. Ini bukan pertama kalinya. Beberapa orang mengatakan bahwa Juragan Damar sering terlihat keluar masuk rumah Ratmi, seorang janda yang juga dia kenal sebagai perempuan paling cantik di kampung ini. Sebelumnya, Sarifah dan Ratmi adalah teman sekolah. Dia tidak menyangka kalau ternyata Ratmi bisa berbuat sejauh ini, berani menjadi duri dalam rumah tangganya.
Malam ini, Sarifah ingin membuktikannya sendiri. Dia tidak percaya bahwa suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Sarifah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua gosip itu tidak benar. Dia percaya pada suaminya. Dengan segala ketidaktenangan dalam hatinya, dia menggandeng Mahesa mendatangi rumah Ratmi.
“Ratmi...... Ratmi...” teriak Sarifah sambil sesekali mengetuk pintu.
“Mahesa, kamu percaya sama bapakkan?” tanya Sarifah beberapa saat sebelumnya sambil menunduk memegang kedua bahu Mahesa.
__ADS_1
“Percaya,” jawab Mahesa yang masih sangat polos sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh keyakinan.
“Kalau begitu sekarang kita buktikan kalau bapak tidak seperti yang orang bicarakan selama ini,”
“Iya,” jawab Mahesa kecil.
Sarifah mengelilingi rumah Ratmi di tengah malam yang basah oleh hujan deras. Setelah tidak berhasil membangunkan Ratmi, Sarifah berjalan ke samping rumah. Perempuan berwajah lugu dan bertubuh kurus itu menemukan sebuah jendela yang sedikit terbuka. Perlahan-lahan dia membuka jendela itu dengan ribuan ketakutan dan kengerian. Pikirannya berkecamuk tidak karuan. Dia sangat takut bagaimana kalau suaminya benar-benar ada di sana. Tetapi di sisi lain dia tidak mau mundur karena dia harus tahu semuanya, dia harus memperjelas semuanya. Dia harus membuktikan bahwa semua berita itu tidak benar.
Setelah mencoba menguatkan hati, akhirnya sedikit demi sedikit jendela itu terbuka. Satu sorot lampu berwarna redup tersirat dari kamar itu. Mengantarkan Sarifah untuk melihat seseorang yang sedang rebahan di dalam kelambu warna putih. Dia melihat seorang perempuan sedang bersandar di pelukan seorang laki-laki. Sarifah mulai was-was, Ratmi adalah janda tetapi malam itu dia tidur dengan seorang laki-laki. Begitu Sarifah membuka jendelanya lebih lebar, akhirnya dia benar-benar melihat bahwa laki-laki yang sedang memeluk Ratmi ternyata memang Juragan Damar.
__ADS_1
Bersambung...