Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 68


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 68


Manira memejamkan mata, tidak mau melihat pasangan kekasih itu. Dia tidak berani membayangkan bagaimana masa depan keduanya. Apakah akan berakhir manis atau pahit seperti yang dia alami saat ini. Dia terus menundukkan wajahnya sampai seseorang berdiri di hadapannya.


“Manira,” sapa orang itu.

__ADS_1


Manira langsung membuka matanya. Dia menatap sepasang sepatu mahal yang mengkilap, berdiri di hadapannya. Jantungnya berdetak kencang. Aliran darahnya semakin deras. Seluruh tubuhnya merinding mendengar suara itu. Perlahan Manira mengangkat wajahnya. Dia terdiam beberapa saat, menangis.


Sama seperti Manira, Gibran pun terkejut mendengar suara itu. Dia tidak percaya melihat laki-laki yang berdiri di hadapannya. Matanya menatap lurus ke arah pria itu. Manira pun terus menatap pria itu, mengabaikan Gibran dengan segala keterkejutannya. Manira memegang wajah pria itu seakan memastikan bahwa dia tidak sedang bermimpi. Pria tampan itu tersenyum sambil memegang tangan Manira.


“Aku sudah kembali,”


“Aku tahu, kamu pasti akan kembali,” jawab Manira dengan air mata berderai.


“Mahesa,” seru lirih Gibran, kaget. “Ini tidak mungkin...” gerutu Gibran, tidak percaya mendapati bahwa kekasih yang selalu Manira rindukan selama ini ternyata adalah Mahesa.


Waktu terus berlalu, beranjak sangat jauh. Tapi semua seperti berputar-putar yang pada akhirnya kembali ke tempat yang sama. Gibran dan Mahesa sudah terpisah sangat lama. Jarak pun sudah membentang sangat jauh dari kampung mereka ke Kota Tua ini bahkan hingga Mahesa sampai ke Jerman. Tetapi pada akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali. Sebuah pertemuan yang selalu terasa pahit dan tidak akan pernah menjadi manis karena masa lalu yang kelam.

__ADS_1


Gibran terdiam di sudut stasiun di malam yang sunyi. Meski sudah terlihat gagah dengan kemeja coklat dan rompi hitam, tetapi wajahnya tetap sendu. Tetap ada duka yang menggelayut di benaknya yang menghapus semua senyuman yang sempat bersinar. Satu persatu kenangan masa lalu itu terurai kembali seperti sebuah buku yang halamannya terbuka lebar di hadapannya. Ada air mata yang hingga kini belum kering. Melihat Mahesa di hadapannya, dia merasa seolah semua luka itu terulang kembali. Yang lebih menyakitkan, dia harus menerima kenyataan bahwa Mahesa adalah kekasih Manira. Seseorang yang selalu Manira nantikan sepenuh hatinya dan tidak pernah bisa tergantikan oleh siapa pun. Rasanya sakit bertambah sakit.


Gibran menangis. Air matanya kembali luruh mengingat bahwa nasib selalu saja mempermainkannya. Setelah lama menenggelamkannya dalam duka, sempat bangkit beberapa saat dan sekarang berkabung lagi. Semuanya hancur. Juragan Damar. Tiba-tiba Gibran mengingat itu dan merasa bahwa nama itu sudah mengikat mereka dan membuat mereka selalu dipertemukan lagi dan lagi.


“Kenapa selalu seperti ini?” gerutunya menyesalkan bahwa kebahagiaannya harus selalu hancur oleh masa lalunya yang terus mengikutinya hingga ke masa depan.


Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Manira dengan Mahesa digelar. Semua menyambut gembira pesta itu karena akhirnya Manira menikah. Apalagi, Mahesa adalah pria kaya dan sukses. Dia punya mobil mewah, punya usaha yang bagus sebagai bisnis peninggalan Juragan Damar. Tidak ada satu cacat pun pada diri Mahesa yang membuat seseorang bisa menolak Mahesa sebagai menantu atau kekasih seseorang. Dia sempurna, lebih dari ideal untuk dijadikan sebagai pria idaman. Saat itu semua sadar, kenapa selama ini Manira tidak pernah bisa menggantikan Mahesa dengan siapa pun. Karena memang tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari Mahesa.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2