Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 57


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 57


“Percayalah kepada dirimu sendiri, maka kamu akan tahu cara menjalani hidup ini. Percayalah, ini tidak sesulit yang kamu bayangkan. Semua akan mengalir seperti air,”


“Baiklah,” jawab Gibran sambil mengepalkan tangannya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia pasti bisa melakukannya.


Dia hanya lulusan SD yang bahkan sudah lama tidak menginjak bangku sekolah. Sehari-hari hanya menjadi gelandangan di sudut stasiun dan menghabiskan waktu untuk menyapu daun-daun kering lalu semua anak kecil meneriakinya sebagai orang gila. Rasanya tidak masuk akal jika Gibran bisa melakukan pekerjaan itu dengan baik. Tetapi Gibran tidak mau menyerah. Dia kembali bersemangat. Semangat menjadi semacam jarum penunjuk baginya untuk melakukan langkah apa yang harus dia lakukan. Dia terlihat sangat bisa memetakan apa yang harus dia lakukan untuk bisa menjawab tantangan itu. Dia tidak gentar bahkan terkesan sudah punya strategi untuk memenangkan tantangan ini.

__ADS_1


“Besok seorang pembeli akan datang ke kantor untuk bernegosiasi. Biasanya selalu gagal. Tapi kalau kali ini kamu mau datang ke kantor... siapa tahu bisa membantu,”


“Bawa orang itu ke sini jam 9 pagi. Aku akan menunggunya,” jawab Gibran yang mulai menemukan kepercayaan dirinya.


“Oya???” Manira sedikit ragu dengan sikap Gibran yang kali ini terlalu percaya diri.


Keesokan paginya, Manira datang dengan seorang pria usia 45 tahun yang tampak rapi lengkap dengan dasi dan jas licinnya. Gibran sudah berdiri di atas jembatan terowongan itu sambil melihat pemandangan di sekitar jembatan yang masih perawan. Beberapa burung lincah menari bersama teman-temannya. Bunga-bunga liar menambah indah suasana tempat yang masih jarang dijamah manusia itu.


Mendengar suara mobil di parkir di belakangnya, Gibran menoleh ke belakang. Manira sudah tepat berdiri di belakangnya dengan wajah kesal. Berjarak beberapa meter di belakang Manira, tepat di samping mobil, tampak pria kaya yang ingin melihat tanah yang akan mereka jual.


“Kamu tidak mandi?” Manira tidak suka melihat Gibran yang masih memakai pakaian kumal, berewok tebal, rambut berantakan dan masih seperti orang gila seperti sebelumnya. Manira marah karena Gibran menganggap semua pertemuan ini sebagai lelucon. Sebagai seseorang yang lebih tahu soal bisnis, sikap Gibran ini Manira anggap sebagai wujud ketidakseriusannya dalam bekerja. Mana ada orang meeting dengan pakaian sekotor dan dandanan seburuk itu?


“Mandi. Tapi tidak ganti baju,” jawabnya dengan tanpa rasa bersalah karena dia memang sama sekali tidak pernah memusingkan masalah penampilan dan sebagainya.

__ADS_1


“Gibran, ini proyek besar. Dengan penampilan yang seperti ini, sama artinya kamu tidak menghargai kelayen yang kerja sama dengan kita. Kalau seperti ini, mana ada yang percaya dengan semua ucapanmu?” Manira marah.


“Aku akan membeli pakaian yang lebih layak setelah punya uang,”


“Jadi itu masalahnya? Kenapa tidak bilang kalau....”


“Aku bukan pengemis,” Gibran buru-buru memotong.


“Nilai seseorang tergantung bagaimana penampilannya. Kalau pakaianmu seperti ini, dengan rambut berantakan dimana-mana dan.... mana mungkin ada yang mau membeli tanah ini? Semua pasti akan menganggapmu gila,”


“Bukankah selama ini memang sudah seperti itu?”


“Gibran, plis... sekali ini saja hargai orang-orang yang ingin bekerja sama denganmu. Setidaknya kamu bisa mencukur berewokmu dan memotong rambutmu yang seperti sarang burung itu,” Manira sangat geram melihat penampilan Gibran.

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2