Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 21


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 21


“Bu... ibu.... ini Gibran Bu.... ibu baik-baik saja???” teriak Gibran sambil menggedor-gedor pintu gudang.


“Gibran...” Ratmi mendengar teriakan Gibran tetapi dia sudah tidak punya tenaga untuk membalas teriakan Gibran. Dia hanya bisa menatap pintu dengan sedikit celah yang membawa sedikit cahaya terang ke dalam gudang yang gelap dan pengap itu. Dia hanya bisa menangis antara sedih, sakit, kecewa dan sesal. Perempuan yang pernah bekerja sebagai buruh cuci di rumah Juragan Damar itu bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun untuk bisa lebih dekat dengan pintu itu. Dia hanya bisa bergumam memanggil nama Gibran tapi tidak terdengar suaranya.


“Ibu..... Gibran kangen sama ibu...” Gibran menangis di depan pintu. Dia duduk bersimpuh selama berhari-hari berharap ada seseorang yang bisa membuka pintu itu dan mempertemukannya dengan ibunya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Pak Anwar terlihat melepas kaca matanya dan menghapus air matanya. Dia sedih melihat keadaan Gibran yang terus berdiri di depan pintu sambil menangis memanggil ibunya. Pak Anwar tidak tega mendengar tangisan dan teriakan anak sekecil itu. Dia mendekati Gibran dan berusaha menghiburnya.


“Sudahlah, kita pergi dari sini,”


“Aku ingin bertemu dengan ibu,” Gibran merengek dalam tangisnya sampai seluruh wajahnya memerah.


“Kita tahu, Juragan Damar tidak akan pernah membiarkan siapa pun masuk,” Pak Anwar juga tidak berdaya.


“Kasihan ibu, dia belum makan. Ibu pasti kelaparan...” Gibran terus menangis.


Gibran langsung mengangguk sambil menyeka air matanya.


Pak Anwar benar-benar tidak tega. Ini sudah terlalu kejam. Mengurung perempuan di dalam gudang yang kotor selama berhari-hari tanpa memberi makan maupun minum. Ratmi bisa benar-benar mati kelaparan. Apalagi lukanya sangat parah. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Pak Anwar berusaha bicara pada Juragan Damar.

__ADS_1


“Tidak ada yang boleh membuka pintu itu,” jawab Juragan Damar dengan keangkuhan dan kemarahan yang masih menggunung.


“Tapi ini sudah tiga hari. Kasihan Mas Gibran, dia menangis terus,” ucap Pak Anwar sambil menundukkan kepala penuh hormat.


Juragan Damar tetap kekeh pada pendiriannya. Baru tiga hari kemudian orang suruhan Juragan Damar datang membuka pintu gudang. Gibran sangat senang, akhirnya dia bisa menemui ibunya. Tapi malangnya, saat itu ibunya sudah terbujur kaku. Ibunya sudah meninggal yang entah sudah sejak kapan itu terjadi.


“Ibuk....” Gibran berterik histeris. “Buk...bangun buk... Gibran ingin bicara dengan ibu... Gibran ingin mendengar cerita-cerita ibu... Gibran ingin tidur di pelukan ibu lagi. Sebentar lagi Gibran pasti akan sukses dan Gibran akan membawa ibu keluar dari tempat ini tapi ibu harus bangun...”


“Sudahlah... relakan ibumu,” ucap Pak Anwar sambil menarik Gibran agar mau melepaskan pelukannya dari ibunya yang sudah menjadi mayat.


Gibran terus menangis berusaha membangunkan ibunya. Pak Anwar terpaksa menggendong Gibran dan membawanya keluar agar tidak semakin sedih. Juragan Damar pun menangis karena perempuan yang paling dia cintai harus berakhir dengan cara seperti ini. Diantara semua air mata itu, ada senyuman yang diam-diam disunggingkan oleh Mahesa,


“Ibu... dendammu sudah terbalas,” gerutu Mahesa sambil melihat jenasah Ratmi yang mati mengenaskan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2