Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 43


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 43


Gibran bingung harus menjawab apa.


“Apa aku orang yang baik?”


Gibran masih bingung harus bicara apa.

__ADS_1


“Aku tidak cantik, bukan orang yang baik dan tidak pintar. Tapi kenapa aku selalu sok cantik dan menyakiti begitu banyak orang,” ucap Manira, sedih.


Setiap hari Manira merasa bersalah dan merasa menjadi orang yang kejam. Tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki lain. Bahkan sekedar memikirkannya pun, tidak bisa dia lakukan. Dia selalu mengatakan


“Stop, berhenti menjodohkan aku dengan orang lain,”


Tapi abah dan emak selalu melakukannya dan membuat Manira merasa sulit. Membuat Manira selalu melakukan dosa yang sama dan sama lagi yaitu menyakiti dan mengecewakan banyak orang dengan penolakannya. Hati Manira selalu hancur dan semakin hancur setiap kali dia harus menyakiti orang lain seperti ini. Manira terlalu baik, hatinya terlalu lembut. Tidak bisa sedikit pun dia menyakiti orang lain, tetapi keadaan memaksanya untuk selalu melakukan hal itu. Air mata Manira lebih banyak keluar bukan karena merindukan kekasihnya tapi lebih karena menyesal dan merasa bersalah atas masalah seperti ini.


“Apa yang dia lakukan yang membuatmu tidak bisa melupakannya?”


“Hanya itu?”


“Aku tidak tahu, kenapa aku begitu mencintainya?” Manira menangis.

__ADS_1


“Karena kamu bodoh,”


“Aku hanya ingin mencintainya. Tidak peduli apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Aku hanya ingin menunggunya, tidak peduli apakah dia akan kembali atau tidak. Aku hanya ingin mengenangnya, tidak peduli apakah dia masih mengingatku atau tidak. Aku hanya ingin mencintainya. Sampai mati pun aku akan terus mencintainya dan tidak akan pernah menggantikannya dengan siapapun,”


Gibran tertegun mendengar keteguhan hati Manira. Dia takjup melihat ketulusannya dan kesetiaannya. Dia tidak percaya ada seseorang yang mencintai begitu dalam hingga membuat dia mengorbankan segalanya. Sebelumnya, dia melihat noda dari cinta Juragan Damar dan Ratmi. Sekarang sedikit demi sedikit noda itu mulai dihapuskan oleh Manira yang membuktikan bahwa cinta yang tulus itu masih ada.


Gibran turut sedih melihat keadaan Manira yang terus saja menderita dalam penantiannya. Dia ikut berkaca, larut dalam ketulusan perasaan Manira. Tapi sesaat kemudian dia menghapus air matanya dan mencoba kembali tegar. Dia sadar bahwa dia tidak boleh terjebak dalam perasaan semacam itu. Sebuah perasaan yang bisa membunuh siapa saja. Dia tidak mau mati di dalamnya dan dia juga tidak mau Manira mengalaminya.


“Sudah kubilang, cinta itu tidak bisa dipercaya. Dia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Cinta selalu mempermainkan perasaan manusia tapi tidak pernah bisa memberi solusi,” jawab Gibran sekali lagi menunjukkan kemarahannya atas perasaan tersebut.


Jawaban Gibran membuat Manira semakin yakin bahwa Gibran juga memiliki masalah serius tentang cinta yang membuatnya hancur seperti sekarang. Manira merasa bahwa Gibran lebih putus asa dari dia hingga membuatnya tidak punya tujuan hidup dan tidak percaya lagi dengan cinta. Daripada mencemaskan dirinya, Manira lebih mencemaskan Gibran. Entah kenapa, dia seperti lupa dengan masalahnya dan membahas masalah Gibran yang menurutnya lebih serius karena sudah membuat Gibran lebih terpuruk darinya.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2