Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 53


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 53


Gibran diam, merenungkan kata-kata Manira. Satu persatu kata-kata Manira meresap dalam hati dan pikirannya yang membuatnya mulai berpikir bahwa dia memang harus melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau selamanya menjadi pecundang. Dia tidak mau hidupnya sia-sia. Dia merasa harus melakukan sesuatu untuk bisa menjadi sesuatu yang lebih bermakna. Dia ingin membuat ayahnya bangga dan membuktikan pada dunia bahwa dia belum kalah.

__ADS_1


“Satu lagi,” Manira mengeluarkan potongan surat kabar dari tas kecilnya.


Dia menunjukkan foto yang ada dalam potongan surat kabar itu kepada Gibran. Itu adalah foto kekasih Manira. Salah satu pengusaha muda, terkenal dan sudah menjadi milliarder. Fotonya terpampang rapi di sebuah surat kabar dan dikenal sebagai pengusaha muda paling sukses. Manira bahkan menganggapnya sebagai panutan dan menunjukkannya pada Gibran. Gibran mengambil surat kabar itu dan menatap foto itu lekat-lekat.


“Dia adalah salah satu pengusaha muda terkaya di Indonesia bahkan sudah melebarkan bisnisnya sampai ke Jerman. Kalau kamu mau, kamu bisa seperti dia.... menjadi eksekutif muda yang hebat,” lanjut Manira dengan penuh semangat dan kekaguman pada pengusaha muda itu.


Gibran berdiri di atas terowongan tua. Terdengar gemuruh suara kereta tua melintas di bawah terowongan itu. Gibran terdiam, menatap ke timur, tepat arah matahari yang masih malu-malu menunjukkan wajahnya di jam tujuh pagi. Dia diam, merenung, membiarkan hembusan angin pagi menerbangkan ujung rambut gimbalnya yang kusut karena tidak pernah di sisir. Terdengar kicauan burung pagi yang hinggap di tetamanan hijau sekitar terowongan tua itu. Beberapa mobil sesekali melintas di belakang Gibran sedikit mengusir kesepian Gibran, pagi itu.


Semua kata-kata Manira membuatnya memikirkan ulang segalanya. Tentang kekacauan hidupnya. Tentang masa depannya yang hampir tidak terlihat. Tentang betapa sia-sianya hidupnya selama ini. Termasuk tentang pengusaha muda itu. Gibran mengingat kembali saat kemarin Manira memperlihatkan foto pemuda itu dari potongan surat kabar. Satu wajah yang sontak mengingatkannya pada sesuatu. Entah kenapa, tiba-tiba dia teringat masa kecilnya yang kelam.

__ADS_1


“Mahesa benci bapak,” teriak Mahesa kecil saat itu. “Ini tidak adil. Kalian sudah membuat ibu meninggal. Sekarang, dia dan ibunya ingin menguasai semua harta kekayaan bapak. Mahesa tidak terima, Pak. Sebagai anak sah bapak, Mahesa tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dasar anak haram! Mahesa puas karena Mahesa berhasil membalas kematian ibu,”


Teriakan itu masih terdengar sangat jelas di telinga Gibran seolah baru saja terjadi beberapa saat lalu. Gibran menitikan air mata. Dia menangis sesunggukan. Dia merasa menjadi seseorang yang tidak berguna. Sekarang dia benar-benar merasa tidak berguna dengan kondisinya yang seperti sekarang, tidak bisa menghasilkan apa-apa.


Gibran menangis. Dia tidak bisa berhenti menyesali keberadaannya sendiri. Anak haram, anak yang lahir dari sebuah perselingkuhan yang pada akhirnya meninggalkan banyak luka. Walau ayahnya orang paling kaya di kampung, siapa yang bangga disebut sebagai anak haram? Dia sendiri mengutuk dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri. Karena merasa tidak berharga. Dia pun menghancurkan hidupnya dengan menjadi sampah di sudut stasiun tua.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2