Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 33


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman

__ADS_1


Episode 33


Gibran memalingkan wajahnya. Dia beranjak meninggalkan Manira, marah karena Manira sudah menatapnya dengan tatapan serendah itu. Dia tersinggung karena Manira sudah memasukkannya ke dalam daftar orang-orang bodoh yang mau terlibat dalam cinta. Gibran tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang bodoh itu. Baginya, hidupnya terlalu berharga untuk mencintai seseorang dan menganggapnya lebih penting dari dirinya sendiri. Justru apa yang terjadi pada Gibran saat ini adalah wujud kekecewaannya terhadap cinta dan itu membuatnya tidak ingin jatuh cinta pada siapa pun.


Manira justru tersenyum menatap punggung Gibran. Dengan percaya diri dan kepolosannya dia merasa menjadi seseorang yang lebih harus mengemong Gibran untuk memahami cinta dengan lebih dalam, untuk tidak putus asa karena cinta dan menyemangati Gibran untuk percaya bahwa cinta itu indah. Seperti yang dia rasakan sekarang. Meski tidak bisa bersama orang yang dia cintai, meski dihujat banyak orang, baginya lebih baik seperti ini: menantikan orang yang dia sayangi dengan harapan-harapan kosongnya daripada harus menggantikan kekasihnya dengan yang lain. Karena baginya, menanti pun sesuatu yang indah dibandingkan harus memulai hidup dengan orang lain.

__ADS_1


Manira rebahan di atas tempat tidurnya sambil melihat video dari ponselnya. Video yang Manira ambil dari salah satu situs berita terkemuka itu sedang menayangkan berita seorang laki-laki kaya dan sukses. Pria tampan berkemeja dongker itu terlihat sibuk mengecek toko berliannya di Frankfurt. Beberapa pegawai laki-laki dan perempuan berseragam rapi seperti pramugari tampak berjajar memberi penghormatan kepadanya sebagai bos besar. Toko perhiasan bernuansa putih itu terlihat sangat mewah dan elegan. Pria itu adalah salah satu pengusaha perhiasan paling sukses dari Indonesia yang berhasil mengembangkan sayap hingga ke negara Eropa. Sekitar setahun belakangan dia menetap di Frankfurt untuk mengurus bisnis barunya di sana.


Dia adalah laki-laki yang hebat. Bukan hanya pintar berbisnis, dia juga terlihat sangat ramah dan rendah hati. Pria berlesung pipi itu tidak pernah sedikit pun menutup senyumnya kepada rekan media yang sedang meliputnya. Dia tersenyum simpul, menjawab pertanyaan wartawan dengan santai dan sangat bersahabat. Sungguh tidak terlihat angkuh seperti pengusaha muda pada umumnya. Di kanan kirinya berjajar orang-orang berambut pirang yang cantik dan tampan. Mereka adalah rekan bisnisnya di negara asing itu.


Baru-baru ini dia berhasil menyabet penghargaan sebagai salah satu pengusaha muda paling berhasil di Jerman, jika mengingat usianya, dia terbilang cukup cemerlang. Itulah yang membuat awak media dari seluruh dunia memburunya, sekedar menanyakan bagaimana perasaannya mendapatkan penghargaan bergengsi dan berhasil bersaing dengan pengusaha lain dari seluruh Eropa. Mereka penasaran, apa yang membuat pria itu bisa sangat sukses seperti sekarang.

__ADS_1


“Kehidupan adalah milik mereka yang hidup. Dan mereka yang hidup adalah mereka yang selalu siap menghadapi perubahan,” jawab pria 30 tahun itu dengan nada bijaknya menunjukkan kewibawaannya yang sangat tinggi. “Mereka yang berhasil adalah mereka yang tidak pernah menyerah dan tidak pernah mau kalah dalam menghadapi kegagalan,” imbuhnya.


Bersambung....


__ADS_2