
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 61
“Bapak tertarik??? Jika Bapak tidak mengambil kesempatan ini, mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan akan ada orang lain yang berdiri di tempat ini sebagai bos...” ucap Gibran mengisyaratkan bahwa bisa saja orang lain mengambil kesempatan untuk membangun resort di sini dan menjadi bos besar.
__ADS_1
Pak Arman menatap Gibran, ingin mengatakan sesuatu tapi ragu, “Akan aku pikirkan. Nanti aku kabari,” jawab singkatnya.
Pria kaya yang awalnya ingin mencari tanah untuk mall itu masuk ke dalam mobilnya. Sudah sekitar satu bulan ini dia mencari tanah yang pas untuk bisnis barunya. Sebuah tempat perbelanjaan mewah yang ke sepuluh dari rangkaian bisnisnya sebagai bos besar. Saat melihat tanah di samping terowongan tua itu, dia berpikir, apa yang bisa dilakukan dengan tanah yang seperti kota mati dan jauh dari kota besar? Mana mungkin ada orang yang mau datang ke tempat terpencil ini, sekedar untuk berbelanja? Tetapi gagasan Gibran cukup memberi wacana lain dalam pikirannya. Dia mulai memikirkan, bagaimana jika mencoba bisnis resort? Sesuatu yang baru yang belum pernah dia coba sebelumnya dan kelihatannya menarik.
Hanya saja, harga dirinya sedikit berbicara. Dalam benaknya ada semacam keraguan atau gengsi yang cukup besar yang berkata, bagaimana mungkin saya percaya dengan orang gila ini? Bagaimana mungkin saya bisa tunduk dan mengikuti ucapan orang gila ini? Penampilan adalah cerminan harga diri seseorang. Penampilan Gibran yang seperti orang gila dengan pakaian kumal dan rambut kumalnya membuat orang ragu untuk mengikuti kata-katanya, meski idenya sangat bagus. Pak Arman ragu, bagaimana jika rekan bisnisnya tahu bahwa dia sudah mengikuti ide orang gila? Sekarang semua tergantung seberapa jauh kata-kata Gibran bisa mempengaruhi pria super kaya dan briliant itu. Tetapi, sejauh ini semua yang Gibran katakan cukup membuat Pak Arman BERPIKIR untuk mempertimbangkannya. Inilah kekuatan berbicara, inilah kekuatan ide seseorang yang bisa mengubah cara pandang orang lain dan menggiring seseorang untuk berpikir seperti apa yang mereka katakan.
“Bagus,” Manira mengacungkan dua jempol dengan penuh kebanggaan. “Kebanyakan marketing kami hanya menjelaskan tentang harga dan luas tanahnya untuk menawarkannya pada pembeli. Tidak ada yang mau membeli tempat ini karena merasa tidak memiliki potensi apapun. Tapi kamu mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda,” lanjut Manira dengan penuh kekaguman sekaligus tidak percaya bahwa ternyata Gibran jauh lebih cerdas dari yang dia bayangkan.
“Jangan melihat bahan mentahnya.... tapi lihatlah segala kemungkinan yang bisa terjadi,”
__ADS_1
Sama halnya dengan sebuah pisau. Orang mungkin hanya akan melihatnya sebagai benda tajam yang biasa. Tetapi jika kita bisa menjelaskan berbagai kemungkinan seperti: bisa untuk memotong, mencincang, mengiris atau mungkin ada kemungkinan untuk melindungi kita dari serangan pencuri, orang pasti akan tertarik untuk membelinya.
Sama halnya dengan sebuah tas tangan wanita. Jika hanya dipajang di dalam toko mungkin akan terkesan biasa, apa hebatnya sebuah tas. Tetapi jika kita menjelaskan bahwa dengan memakai tas tersebut, orang akan terlihat lebih cantik, berkelas, modern dan lebih percaya diri. Maka mereka pasti akan mulai berpikir untuk mendapatkan benda kecil itu. Bukankah semua orang selalu tertarik dengan segala sesuatu yang bisa membuat mereka terlihat lebih berkelas dan bisa mendatangkan banyak uang?
Itulah yang selama ini dilakukan oleh para tenaga marketing. Menunjukkan segala kemungkinan untuk mempengaruhi orang agar mau membeli produknya. Hal itu pula yang sedang Gibran lakukan. Bakat bisnisnya begitu kental mengalir dalam darahnya meski selama ini dia tidak pernah mengakui Juragan Damar sebagai ayahnya, tapi darah tidak bisa bohong. Pada akhirnya darah itu berbicara sendiri dan menunjukkan tuannya. Tanpa Gibran sadari, darah itu pulalah yang membentuk karakter pribadinya. Jika ada orang yang mengenal Juragan Damar, mereka pasti akan berkata bahwa Gibran adalah cerminan Juragan Damar di masa kini.
Bersambung...
__ADS_1