
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 71
Salah satu yang paling ingin Manira kunjungi di tempat ini adalah festival pameran buku terbesar di dunia. Setiap tahun, Frankfurt mengadakan pameran buku yang diikuti oleh puluhan bahkan ribuan buku dari seluruh dunia. Termasuk Indonesia. Manira sangat antusias melihat berbagai koleksi buku cantik yang dipamerkan di sana. Beberapa diantaranya ada karya emas dari penulis Indonesia yang ternyata juga dipamerkan di sana. Dia takjup, melihat bahwa ternyata penulis-penulis Indonesia hebat yang bukunya ada yang bisa tembus sampai Jerman. Dia tidak percaya ada resep masakan tradisional dan kue tradisional yang dipamerkan di sini. Menarik, justru inilah uniknya Indonesia yang bersaing dengan negara dunia. Ada sebuah ke khasan dari tradisi Indonesia yang bisa di kenalkan ke dunia internasional melalui buku.
Lepas dari melihat pameran buku terbesar di dunia, Mahesa membawa Manira masuk ke dalam Goethe House. Manira berhenti di salah satu sudut ruang, takjup melihat lukisan Goethe, salah satu sastrawan paling berpengaruh di Eropa bahkan dunia. Karya-karya emasnya terkenal dimana-mana, termasuk yang sering Manira bacakan disela-sela permainan biolanya.
__ADS_1
“Kamu menyukainya?” tanya Mahesa.
“Iya,” jawab Manira sambil terus menatap lukisan Goethe. “Dia adalah seorang negarawan, ilmuwan, filsuf dan sastrawan paling berpengaruh di Eropa bahkan seluruh dunia. Karya-karya indahnya banyak diperbincangkan di seluruh dunia. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah ‘Faust’ sebuah cerita yang mengisahkan pertentangan seseorang untuk mencari Tuhan dan hakikat hidup yang sebenarnya. Sudah tidak terhitung berapa kali naskah Faust dipentaskan, difilmkan dan diperbincangkan oleh para seniman sastra seluruh dunia. Karya lainnya yang tidak kalah fenomenal adalah ‘Die Lieden Des Jungen’ yang dalam bahasa Indonesia artinya Kemalangan Seorang Pemuda. Mengisahkan seorang pemuda yang memutuskan bunuh diri karena perempuan yang dia cintai menikah dengan orang lain. Keindahan karya itu sedikit ternoda karena kisah itu menginspirasi ribuan pemuda lainnya untuk melakukan hal yang sama yaitu bunuh diri ketika mereka tidak bisa mendapatkan cintanya. Mereka menganggap hal itu sebagai bentuk heorik dari seorang pecinta yang sangat mencintai kekasihnya.
“Sepanjang hidupnya, Goethe banyak belajar tentang Islam. Dia bahkan membaca terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jerman maupun bahasa Inggris. Dia juga banyak membaca karya para sufi seperti Jalaludin Rumi dan lainnya. Pengetahuannya tentang Islam mempengaruhi karya-karyanya. Diantaranya adalah ada dalam salah satu surat yang ditulis untuk anaknya pada tanggal 17 Agustus 1814,
Beberapa agama telah mengecoh kita
Kemudian datang Al-Qur’an ke perpustakaan kita
Kalau Allah menghendakiku menjadi seekor cacing
__ADS_1
Ia akan telah menciptakan aku sebagai seekor cacing
“Sedikit banyak karyanya mulai mengangkat kehidupan tentang Islam. Bahkan banyak orang yang berspekulasi bahwa Goethe meninggal dalam keadaan muslim. Hal itu coba dibuktikan lewat salah satu puisinya,
Apakah Al-Qur’an adalah keabadian?
Saya tidak meragukannya
Itu kitab segala kitab
Saya meyakininya sebagai seorang muslim
__ADS_1
“Selama ini aku hanya memimpikannya. Aku tidak percaya kalau sekarang benar-benar ada di sini, di dalam rumahnya yang menjadi saksi sejarah lahirnya banyak karya-karya hebat yang mempengaruhi dunia,” Manira terus menatap lukisan Goethe dengan penuh kekaguman.
Bersambung...