
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
__ADS_1
Episode 73
Rasa cinta yang sangat dalam itu, berhasil Mahesa temukan dari tatapan Gibran untuk Manira. Tatapan yang sama yang selalu dia lihat di mata Juragan Damar untuk Ratmi. Tatapan itulah yang pada akhirnya membunuh semua orang dan merampas semua kebahagiaan mereka. Gibran sama persis seperti Juragan Damar. Jika Mahesa mewarisi sifat angkuh Juragan Damar maka Gibran mewarisi sifat melankolis yang penuh dengan cinta dimana dia sangat mencintai seorang perempuan dan tidak akan pernah bisa berhenti mencintainya. Cinta yang sama, pernah membunuh banyak kehidupan dan menghancurkan banyak kebahagiaan.
Saat itulah, saat Mahesa masih berdiri beberapa langkah di depan Manira dan Gibran waktu itu, dia menemukan satu titik kelemahan Gibran. Manira. Dendamnya belum selesai. Meski Juragan Damar sudah meninggal, meski Ratmi juga sudah berhasil dia singkirkan. Meski semua sudah berhasil dia hancurkan bahkan sampai membuat Gibran hidup sebatang kara dengan penuh keputusasaan dan menjalani kehidupan seperti orang gila, masih belum membuat Mahesa puas. Gibran adalah prasasti dari kisah cinta yang menyesakkan itu. Sebelum Gibran hancur sehancur-hancurnya, Mahesa tidak akan pernah berhenti. Dia berharap Gibran merasakan hal yang sama seperti kedua orang tuanya yang mati mengenaskan karena cinta. Entah kebetulan atau tidak, Tuhan mempertemukan mereka kembali seakan memberi jalan pada Mahesa untuk menyalakan api kemarahannya lagi.
__ADS_1
Sebelumnya Mahesa bahkan tidak pernah ingat bahwa dia pernah punya teman masa kecil bernama Manira yang dia tinggalkan di stasiun tua ini. Ketika masih kecil, Mahesa pernah berlibur ke rumah neneknya di Kota Tua itu dan bertemu Manira. Mereka akrab satu sama lain sampai akhirnya perpisahan itu terjadi karena Mahesa harus kembali ke Kampung Nelayan, rumah Juragan Damar. Sejak saat itu dia tidak mengingat Manira sedikit pun. Tidak sekalipun dan tidak sedetik pun.
Entah kebodohan Manira atau kepolosannya, dia terus saja menunggu seseorang yang sama sekali tidak menganggapnya pernah ada. Selama bertahun-tahun, Mahesa menyebar orang suruhannya untuk mencari Gibran yang melarikan diri dari Kampung Nelayan. Begitu menemukan Gibran, dia pun menemukan Manira dan akhirnya memutuskan untuk kembali.
Manira jatuh cinta padanya, hal itulah yang kemudian Mahesa manfaatkan untuk melancarkan balas dendamnya kepada Gibran. Mencintai berarti menyerahkan nyawanya pada orang yang dia cintai. Sama seperti Juragan Damar yang menitipkan nyawanya pada Ratmi. Jika Ratmi mati maka Juragan Damar pun tidak akan bisa hidup lagi. Hal itulah yang juga akan Mahesa lakukan, membunuh Gibran perlahan-lahan.
__ADS_1
Licik, sifat itu masih sangat lekat di benak Mahesa. Sama seperti beberapa tahun yang lalu saat dia mengatur rencana licik menjebak Ratmi agar terlihat seolah-olah sedang berselingkuh dengan laki-laki lain, sekarang pun Mahesa melakukan rencana yang sangat cerdik, memanfaatkan Manira untuk membalas dendam pada Gibran. Sebuah rencana yang sangat rapi yang tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Bersambung...