Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 41


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 41


“Ora koyo ngono ndok!!!!” bantah emak yang merasa sudah kehabisan cara untuk bicara dengan Manira dan memberi Manira pengertian bahwa dia harus menikah dan berhenti memikirkan orang yang mungkin tidak akan pernah kembali untuknya. “Hidupnya sudah mapan, punya pekerjaan bagus dan...” lanjut emak setiap kali mengumandangkan kualifikasi semua calon mantu yang meminang Manira sebelumnya.

__ADS_1


“Apa cinta hanya didasarkan pada uang?” bantah Manira sekali lagi dengan nada marah.


Masalah ini sangat sensitif bagi Manira. Setiap kali membicarakan soal pernikahan selalu membuatnya berbicara dengan nada tinggi. Dia tidak mau ada seorang pun yang mengusik perasaannya. Dia hanya ingin mencintai kekasihnya. Dia merasa tenang dan nyaman dengan cintanya yang terpendam dalam dada. Manira tidak suka jika ada siapa saja yang berniat menikahkannya dengan laki-laki lain karena dalam hatinya hanya ada satu laki-laki saja. Dia rela menunggunya seumur hidup daripada membiarkan laki-laki lain menyentuhnya sedikit pun.


“Jangan sombong ndok, tanpa uang kowe orang biso urip,” lanjut emak memarahi Manira.


Manira terus menatap emak dengan tatapan tajam, marah dan kecewa karena menganggap bahwa emak dan abah, bahkan semua orang seolah menilai layak atau tidak layaknya seorang laki-laki melamar seorang perempuan hanya didasarkan pada uang dan kekayaan. Jika pemuda itu memiliki pekerjaan yang bagus, gaji yang besar, mereka akan di-sunggi setinggi langit. Jika pemuda itu miskin, mereka akan diacuhkan seperti membuang sampah. Begitu sadis sekali semua orang menganggap bahwa uang dan kekayaan adalah ukuran utama untuk menilai seseorang itu layak atau tidak layak dijadikan menantu atau suami seseorang. Semua orang menggunakan rumus yang sama untuk menentukan apakah laki-laki itu layak dijadikan pasangan atau tidak, yaitu uang. Manira sedih. Jika demikian bukankah itu sama artinya dengan setiap orang tua akan menjual anak mereka demi harta dan kekayaan? Bukankah itu sama artinya seperti seorang perempuan menjual diri mereka demi mendapatkan sejumlah uang dan kehidupan yang enak.


“Maaf, aku tidak bisa mewujudkan keinginan abah dan emak,” ucap Manira, masih keras kepala.

__ADS_1


Entah kenapa Manira bisa seperti itu. Semua kata-kata abah, emak dan orang-orang yang menasehatinya untuk menikah di saat usianya sudah sangat matang, selalu dia mentahkan. Manira selalu punya cara untuk membantah mereka seolah dia ingin melakukan apa saja untuk menolak perjodohan itu dan membenarkan rasa cintanya yang terlalu berakar di dalam jantung hatinya. Sebuah cinta yang menurut semua orang sudah menjelma menjadi sebuah kebodohan dan kedurhakaan kepada orang tua.


Manira merenung seorang diri. Air matanya bercucuran. Dalam hati dia berkata bahwa,


“Cinta adalah urusan soal hati yang tidak bisa dilogikakan. Kadang, bahkan tidak bisa dinalar dengan akal pikiran manusia. Dia akan menjalar begitu tajam dan hebat. Akarnya menancap kuat ke dasar hati, daunnya mengembang sangat lebar, bunganya mekar dengan sangat indah, dan buahnya lebih dari sekedar manis. Tetapi, hanya pencintalah yang bisa melihatnya dan merasakannya.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2