
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 47
__ADS_1
Gibran meninggalkan Manira dan kembali berdiri di bawah pohon beringin sambil memegang sapu. Diam-diam dia menatap Manira dengan wajah sedih, kasihan. Dia tahu, bahwa Manira pun terluka. Dia juga sangat tertekan karena sepanjang hari hanya kegelisahan yang membayang di wajahnya. Gibran berusaha untuk berpikir objektif bahwa tidak seharusnya semua orang menghakiminya.
Manira tidak salah. Apapun yang dilakukan Manira, yang menurut semua orang salah, sejatinya hanyalah sebuah reaksi yang dia tunjukkan atas hal buruk yang terjadi di sekitarnya, yang tidak dia inginkan, yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dia bukan jahat, dia bukan kejam, dia hanya bereaksi, sekedar mengambil tindakan perlawanan atas sesuatu yang tidak dia inginkan. Sekedar bentuk dari pertahanan diri ketika ada orang yang mencoba mengusik hidupnya, ketenangannya, terlebih lagi cintanya. Gibran tahu bahwa cinta adalah bagian paling penting yang ada di dasar hati manusia yang paling dalam sehingga tidak bisa dihapus atau dihilangkan dengan mudah. Tapi tetap saja, cinta membuat Manira menjadi bodoh. Dia melukai dirinya sendiri dan membuat orang-orang di sekitarnya terluka.
Gibran tidak bisa menggambarkan seberapa bodohnya Manira yang tenggelam dalam cintanya yang hanya berisi dengan lumpur duka. Manira yang malang memilih berenang di dalamnya, meskipun tubuhnya penuh dengan lumpur yang kotor. Orang menganggapnya bodoh, orang mengasihaninya dan menganggapnya salah. Mereka ingin melepaskan Manira dari lumpur itu. Tapi Manira yang bodoh memilih untuk bertahan dalam kubangan. Dia bermain-main di sana, tanpa menyadari betapa dirinya sudah sangat diperbudak dan dipermainkan oleh perasaannya sendiri yang teramat lugu. Hidupnya, hanya berisi harapan-harapan kosong tanpa ada yang tahu apakah harapan itu akan menjadi nyata atau justru hanya akan berbuah kecewa.
Pagi yang cerah. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Gibran tidak mau ikut terjerat dalam masalah cinta Manira yang tidak pernah selesai. Dia ingin memulai harinya dengan sesuatu yang lebih menarik seperti memotong rumput. Itu lebih baik daripada mendengar kisah konyol Manira tentang segala kebodohannya.
__ADS_1
Gibran membawa karung warna putih lalu memotongi rumput yang menganggu disekitar rel, dekat terowongan tua. Dia terlihat seperti seorang penggembala yang sedang mencari rumput untuk ternaknya. Pakaiannya kumal, badannya kotor dan bau. Dia sama sekali tidak memperhatikan penampilannya. Jangankan memotong rambutnya yang kusut, menyisirnya saja tidak pernah. Harapan hidupnya benar-benar nol. Dia hanya sekedar hidup untuk makan. Asal hari ini bisa makan, itu sudah cukup. Tidak ada ambisi untuk menjadi sesuatu yang lebih. Sementara orang-orang sekitarnya sudah terbang ke angkasa dia hanya berdiam diri di stasiun tua seperti hantu penunggu yang menakut-nakuti anak kecil.
Manira geram melihat Gibran hidup tanpa tujuan seperti itu. Manira yakin bahwa sebenarnya Gibran adalah orang yang waras dan cerdas. Sangat jauh berbeda dengan penampilannya yang terlihat seperti orang gila. Tetapi masalahnya, Gibran sendiri tidak punya semangat hidup sehingga tidak ada yang bisa dia dapatkan selain kehidupan yang menyedihkan seperti ini. Manira penasaran, apa yang membuat Gibran begitu terluka hingga menghancurkan dirinya sendiri seperti ini?
Bersambung...
__ADS_1