
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 52
__ADS_1
“Apa kecerdasan semacam itu bisa digunakan untuk mencari uang?” Gibran pesimis.
“Jangan menganggap dirimu lebih rendah dari orang lain. Yang terpenting bukan seberapa besar kecerdasanmu, tetapi yang paling penting adalah bagaimana kamu menggunakan kecerdasan kamu, bagaimana kamu menggunakan setiap kesempatan yang kamu miliki, bagaimana kamu memaksimalkan tenaga, pikiran, waktu dan semua yang kamu miliki saat ini. Tidak perlu melihat orang lain. Biarkan si A lulusan sarjana, punya nilai yang tinggi atau lainnya. Sikap pesimismu itu, ketidakpercayaan dirimu dan menganggap dirimu lebih rendah dari orang lain atau menganggap orang lain terlalu hebat, justru akan membuatmu mati. Menyerah sebelum berperang. Padahal segala atribut kependidikan itu hanya formalitas. Buktinya banyak sarjana yang menganggur tapi banyak juga orang yang yang lulusan SMA tapi sukses. Jadi jangan terlalu memandang rendah diri kamu sendiri. Semua kegagalan itu belum tentu terjadi sebelum kamu mencobanya,”
“Kata-katamu sedikit berlebihan,”
Gibran diam, merenungkan kata-kata Manira. Dia mulai berpikir, mungkin benar yang Manira katakan. Selama ini dia terlalu memandang rendah dirinya sendiri. Siapa yang menjamin bahwa orang yang berpendidikan pasti akan sukses? Siapa yang menjamin bahwa orang kampung selamanya akan melarat? Tidak ada. Semua bisa sukses berkat usaha. Semuanya memang harus dicoba, jangan menyerah sebelum berperang. Gibran sadar bahwa sekarang dia bukan apa-apa, jika pada akhirnya nanti dia tetap tidak mendapatkan apa-apa pun, dia tidak akan rugi. Toh, memang seperti inilah dia yang sebelumnya. Gibran merasa dia harus mulai menghargai dirinya sendiri, percaya kepada dirinya sendiri. Jika dia saja tidak mempercayai dirinya sendiri, bagaimana mungkin orang lain bisa percaya padanya?
__ADS_1
“Kamu baca ini,” Manira menunjukkan buku kecil milik Dr. D.J. Schwartz, “Dr. Edward Teller, salah seorang ahli ilmu alam, berkata: Takkan perlu seorang anak itu mempunyai kecerdasan cemerlang untuk menjadi seorang ilmuwan, dan tidak perlu pula dia mempunyai ingatan yang luar biasa, dan tak perlu pula ia mendapatkan angka-angka yang tinggi di sekolah. Satu-satunya hal yang perlu ialah bahwa anak itu mempunyai cukup perhatian terhadap ilmu pengetahuan (science),” ungkap Manira membacakan isi buku halaman 35 itu. “Jadi, apa yang paling kamu ingin lakukan, curahkan semua tenaga, pikiran dan perhatianmu, maka kamu pasti akan bisa mendapatkannya,” lanjut Manira menyemangati Gibran yang mulai bangkit.
“Semua tidak semudah membalik halaman buku seperti yang kamu lakukan,” jawab Gibran.
“Orang harus berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tapi tidak ditemukan pejuang tanpa kesalahan dan kegagalan. Jadi jangan takut untuk mencoba sesuatu. Penulis-penulis besar itu, dokter-dokter yang hebat itu, para pengusaha sukses, ilmuan yang handal... mereka adalah orang-orang yang sudah pernah mengalami kegagalan kemudian bangkit. Cobalah sesuatu, lakukanlah sesuatu agar kamu bisa menjadi sesuatu. Sekalipun gagal, kamu tidak sendiri karena jauh sebelum kamu ada banyak orang-orang besar yang gagal sebelum meraih kesuksesannya. Jangan takut gagal karena sekalipun gagal kamu akan gagal sebagai seorang pejuang bukan pecundang yang tidak berani menghadapi tantangan,” pesan Manira.
__ADS_1
Bersambung...