
Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”
Juragan Damar
Oleh: Elmira Arasy Rahman
Episode 82
Manira berdiri di depan jendela kamarnya. Dia menitikan air mata mengenang masa kecilnya bersama Mahesa. Saat itu dia masih sangat polos. Seorang anak kecil yang bermain di bawah pohon beringin yang sangat besar, di belakang stasiun tua. Gadis cilik yang masih duduk di kelas 3 SD itu sedang bermain ayunan sambil memegang boneka kayu yang sangat cantik.
__ADS_1
“Hai, Yasmin.... kamu cantik sekali. Tapi kenapa sendirian? Dimana rajamu?” ujarnya bicara pada boneka kayu yang sedang dia pegang sambil duduk di ayunan.
“Kalau kamu ratunya maka akulah rajanya,” ucap Mahesa kecil yang tiba-tiba duduk di samping Manira sambil menunjukkan boneka kayu yang sangat tampan.
Manira sangat senang. Mereka menyandingkan kedua boneka itu seperti pasangan ratu dan raja yang sangat bahagia. Keduanya tampak gembira memainkan dongeng tentang raja dan ratu yang membuat mereka seolah hidup dalam kisah itu. Masa kecil yang masih sangat indah. Penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan.
“Bukankah kamu akan kembali ke rumah ayah dan ibumu yang sangat jauh? Apa kamu akan tetap ingat padaku?” tanya Manira kecil.
Manira tersenyum, “Aku pasti akan menunggumu,”
__ADS_1
Manira mengenang masa kecil mereka yang sangat indah sebelum akhirnya sebuah kereta tua membawa raja kecilnya pergi dari hadapannya untuk waktu yang sangat lama. Begitu kembali, dia sudah menjadi sosok yang jauh berbeda. Sekarang dia memang ratu dan Mahesa rajanya. Tetapi kehidupan mereka tidak semanis dongeng yang mereka mainkan saat masih anak-anak.
Semakin lama Manira semakin merasa bahwa hidupnya tidak berjalan dengan baik. Setiap malam dia seperti penari bar yang harus mempertontonkan kecantikannya di depan banyak laki-laki. Tidak dihargai suaminya dan mungkin juga sudah dikhianati. Manira menangis mengingat segala perjalanannya di kota cantik ini yang ternyata tidak seindah yang dia impikan. Setiap hari dia harus merelakan para laki-laki bermata jahat itu memandanginya dengan tatapan yang menakutkan, setiap hari selalu merasa sedang menjual dirinya sendiri, setiap hari juga harus menahan rasa sakit melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Manira menangis. Dia merasa tidak sanggup lagi menjalani hari-harinya. Tetapi dia mencoba bertahan. Dia mencoba bahagia demi Mahesa. Seberapa pun rasa sakitnya saat ini, baginya tetap tidak sebanding dengan rasa sakit jika harus kehilangan Mahesa. Itulah kebodohan terbesar Manira, jatuh cinta pada orang yang salah. Meskipun tahu bahwa dia disakiti, tetap saja tidak bisa berhenti mencintai.
Ngek....
Manira kaget mendengar Mahesa membuka pintu. Ada rasa sedih karena pria yang dia cintai tidak bisa mencintainya seperti dia mencintainya. Ada rasa takut jika Mahesa melakukan sesuatu yang aneh seperti sebelumnya. Manira merasa dia tidak pernah bisa mengenali Mahesa yang sesungguhnya. Mahesa yang dia temui sekarang sangat jauh dari harapannya dimana dia mengharapkan seorang laki-laki yang mencintainya dengan tulus dan memperlakukannya dengan penuh cinta. Yang dia temui sekarang hanyalah seorang pengusaha bertangan dingin yang punya segalanya, yang seolah berdiri di dalam lemari kaca yang membuat dia tidak bisa meraih laki-laki itu meski mereka sangat dekat.
__ADS_1
“Kenapa di sini?” tanya Mahesa.
Bersambung...