Manira / Juragan Damar

Manira / Juragan Damar
Episode 90


__ADS_3

Versi episode pendek dari novel “Senandung RINDU di bawah Sayap Rembulan yang Patah”


Juragan Damar


Oleh: Elmira Arasy Rahman


Episode 90


Manira sedih karena bahkan sekarang pun, setelah semua hal buruk yang Mahesa lakukan padanya, tetap tidak bisa membuatnya berhenti mencintainya. Manira tersiksa dengan perasaannya sendiri antara benci dan cinta yang menggerogoti jantung dan hatinya.


Rasa cinta yang sangat dalam bercampur kebencian yang dalam pula. Semua berkecamuk dalam hati Manira hingga dia tidak tahu apa yang sudah terjadi padanya. Semua terlalu menyakitkan. Mahesa... Mahesa... Mahesa... Manira terus mempertanyakan kenapa dia bisa begitu kejam? Bagaimana mungkin di dunia ini ada seorang suami yang melelang istrinya sendiri untuk tidur dengan laki-laki lain? Di dalamnya bahkan ada senyuman yang sangat bahagia. Manira hancur. Tidak ada penghinaan yang lebih kejam selain dihina oleh suaminya sendiri.


Ngik... ngok...

__ADS_1


Manira mengambil biolanya. Dia sangat sedih dan kecewa dengan hidupnya sendiri. Dia melampiaskannya dengan memainkan biolanya. Setiap gesekannya mewakili ungkapan hatinya yang tersayat-sayat karena disakiti oleh seseorang yang paling dia sayang dan paling dia percaya. Matanya menangis, hatinya merintih. Dia tidak tahu lagi bagaimana keluar dari penderitaan ini. Semuanya sudah hancur. Harapannya telah hilang. Dia tidak memiliki tujuan hidup lagi. Dia putus asa atas dirinya dan cintanya. Dia merasa seluruh pengorbanannya untuk mencintai Mahesa selama ini, sia-sia. Terlalu cinta, sekarang berubah menjadi terlalu sakit.


Cinta ini begitu menyakitkan


Semakin lama semakin sakit


Tidak ada kedamaian di dalamnya


Hanya ada bayang-bayang semu


Rasanya seperti mati bunuh diri


Rasanya seperti sekarat antara hidup dan mati

__ADS_1


Manira terus memainkan biolanya hingga tanpa sadar dia keluar dari kamar hotel, berjalan menuju balkon. Semakin lama sayatan biolanya semakin mengiris hati, tangisnya semakin tak terperi, kekecewaannya sudah tidak bayangkan lagi. Manira terus berjalan di balkon lantai 5 hotel itu. Dia bahkan menaiki dinding pembatas yang terbuat dari beton dan berdiri di sana untuk beberapa saat sambil memainkan biolanya. Beberapa orang di bawahnya mulai panik, berteriak meminta Manira turun karena sangat berbahaya. Tetapi Manira tidak mendengarkan mereka.


Gibran menyendiri di salah satu bangku kayu yang ada di sepanjang tepian Sungai Main, merenungkan semua yang sudah terjadi. Tiba-tiba dia mendengar lantunan biola itu. Rasa sakitnya, sedihnya dan kecewanya dari lagu itu seolah bisa dia rasakan. Dia langsung berdiri dan berlari mencari arah suara itu.


“Manira... Manira...”


Dia berlari kesana kemari menyusuri jalan tapi tetap tidak dia temukan. Sampai akhirnya.


Brokk!!! Pyar.......


Seperti ada sesuatu yang jatuh dengan sangat keras, di belakangnya. Suara biola itu berhenti. Gibran ngeri membayangkan apa yang ada di belakangnya. Dia bisa menebak apa yang terjadi tapi dia tidak berani mempercayai tebakannya bahwa jangan-jangan Manira..... Gibran membalikkan badannya perlahan-lahan. Dan ternyata benar. Seorang perempuan bergaun hitam terjatuh dari balkon hotel dan mendarat di atas sebuah mobil putih yang terparkir di depan hotel. Bagian atas mobil itu ringsek bekas benturan dengan tubuh Manira yang jatuh dengan sangat keras. Semua kacanya pecah. Seorang perempuan tergeletak di atasnya dengan noda darah dimana-mana. Sebuah biola cantik masih digenggam erat olehnya meski dia sudah tidak bisa membuka matanya lagi.


“Manira,” seru Gibran, syok. Tidak percaya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2