MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 1 KEMBANG DESA


__ADS_3

"pagi itu langit nampak cerah


secerah wajah Mayang yang berseri


seperti hari-hari yang sebelumnya


Dengan berbekalkan makanan


Mayang keluar dari pondok kecilnya


menuju hamparan sawah yang membentang di ujung desa yang bernama desa Tanjung sari"


"penduduk desa sekitar selain bertanam padi


juga bercocok tanam di ladang


tidak sedikit pula orang yang pergi ke kota besar seperti Kuta raja untuk mengadu nasib"


"sambil bersenandung ria Mayang berjalan di pematang sawah menuju sepetak sawah miliknya, meski hidup sebatang kara


Mayang sosok gadis tegar dan mandiri"


"setibanya di gubuk kecil tempat Mayang berteduh sambil mengusir burung-burung Pipit


yang biasa memakan padi-padinya


di tengah asiknya Mayang memandangi segerombolan burung Pipit tiba-tiba terdengar suara siulan lembut"


"Mayang menoleh ke arah suara siulan ituh


rumput-rumput semak yang membatasi


antara sawah dan ladang


sambil tersenyum simpuh Mayang berdiri lalu


melangkah menuju semak-semak itu


sepertinya Mayang tau betul siapa yang sedang menunggunya"


"di balik semak di atas tumpukan jerami kering


duduk seorang pemuda tampan yang bertubuh kekar, Mayang menatap pemuda itu lalu bertanya"


"kakang sudah lama menunggu ku"

__ADS_1


pemuda itu menjawab


"berapa lama pun kakang menunggumu


bahkan sampai seumur hidup kakang


kakang akan selalu menunggumu Mayang"


"Mayang duduk di samping pemuda itu pandangannya lepas menatap ladang dihadapannya setengah keraguannya Mayang bicara"


"sampai kapan kita jalani hubungan gelap ini


dan sampai kapan pula aku mendapat kepastian". Mayang menoleh ke pemuda itu


"kakang giri apa tidak sebaiknya kakang bicara kepada kedua orang tua kakang tentang hubungan kita ini"


"Sidra giri itu nama pemuda tampan itu


putra seorang panglima besar kerajaan nareh


bernama juragan danda sokana seorang bangsawan berdarah ningrat"


"giri pun menjawab pertanyaan Mayang"


"bersabarlah Mayang jika sudah saatnya nanti kakang akan ceritakan hubungan kita ini"


"tapi sampai kapan kakang"


"apakah kamu siap menerima apapun resikonya jika kakang menceritakannya dalam waktu-waktu ini"


"aku butuh kepastian" jawab Mayang


"sudah setahun kita jalani hubungan gelap ini


aku sudah siap menerima apapun resikonya


apakah hubungan kita akan terus berlanjut


atau bahkan putus di tengah jalan"


Mayang menundukan kepalanya sambil bersedih


giri paham akan perasaan Mayang


"lalu giri mengelus kepala Mayang dengan lembut dan berkata, baiklah kakang akan coba bicarakan kepada kedua orang tua kakang"

__ADS_1


"tidak terasa hari pun menjelang siang terik matahari terasa menyengat tubuh"


"Mayang berdiri di hadapan giri dan berkata"


"pulanglah kakang hari sudah siang nanti kakang akan dicari pengawal-pengawal kakang"


"giri tidak menjawab hanya senyuman ketus yang mengulas di bibirnya"


"tanpa menunggu jawaban Mayang berlalu di hadapan giri menuju kembali ke gubuknya


Mayang termenung tidak terasa air mata menetes di pipinya"


"tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya berlari tergesa-gesa di tengah pematang sawah sambil berteriak"


Mayang Mayang


"Mayang suri menoleh sambil menghapus air matanya"


"ada apa Paman mengapa Paman tergesa-gesa"


"ada yang mencarimu Mayang" siapa paman,


"entahlah Paman pun tidak mengenalnya"


"dua orang laki-laki berwajah garang dan menyeramkan mereka mencarimu"


"Paman tidak pernah melihat kedua orang itu sebelumnya"


Mayang berdiri mematung pikirannya berkecamuk dalam hati dia bergumam


"siapa yang mencariku mungkinkah pengawal kakang giri atau suruhan orang tua nya


tapi untuk apa mereka belum tau hubunganku dengan kakang giri"


Mayang kembali tersadar dari lamunan nya


"ayolah Mayang lekas kau temui mereka


agar kau tau apa maksud dan tujuannya"


"baiklah Paman aku akan segera pulang untuk menemui mereka"


"apa Paman harus temani kamu Mayang"


"tidak usah Paman terimakasih" lebih baik Paman pulang saja,

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2