MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 41 PERTEMUAN PANJI GARA DAN MAYANG SURI


__ADS_3

Mata Panji mengarah pada seorang laki-laki bertubuh tinggi kekar berkulit kuning langsat serta berwajah tampan, bibir Panji gara mulai kembali bergumam


"rasa-rasanya aku pernah melihat laki-laki itu tapi dimana?" matanya lalu beralih kearah seorang pendekar sebagai lawan dari laki-laki tampan itu


"uwoww keren sekali pendekar itu tapi sayang wajahnya tertutup cadar hitam"


terdengar suara seseorang berbicara


"Raden tunggu apalagi percuma dia di ajak bicara" laki-laki yang berdiri di samping kiri si tampan itu meminta agar tidak terlalu banyak berdebat


Panji gara tersenyum terasa di ingatkan


"Iyah aku ingat sekarang laki-laki itu bernama Bayu kelangkas dan jika aku tidak salah dia putra hulu balang nareh dan si kumis baplang itu aku masih mengingatnya dialah Warok sangar, rupanya si muka ular itu membayar si kumis baplang tetapi dua orang laki-laki yang berdiri di sebelah kanan si muka ular itu aku tidak mengenalnya"


terdengar kembali percakapan di bawah sana kini Bayu kelangkas yang buka suara "Ki sanak diantara kita tidak ada permusuhan tidak ada gunanya jika kita bertarung, Ki sanak tidak mengenal aku dan sebaliknya aku tidak mengenal Ki sanak"


"huh dasar muka ular di manapun berada tetap saja muka ular" Panji gara ngedumel jengkel tetapi dia tetap berada di atas pohon untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya


"kau mengatakan tidak ada permusuhan denganku bahkan kalian tidak mengenal diriku, lalu ada masalah apa hingga kalian menghadang perjalanan ku? aku jadi curiga jangan-jangan kalian mempunyai niat buruk padaku?"


"rupanya kau seorang pendekar wanita ni sanak aku tidak menduganya tapi ku sarankan jangan suka berprasangka buruk terhadap orang lain"


"jangan berbelit-belit Ki sanak cepat katakan apa mau kalian?"


rupanya yang sedang berhadapan dengan Bayu kelangkas, Warok sangar dan kedua kawannya tidak lain dan tidak bukan dialah sang pendekar pedang Dewa Naga hitam


"Raden sudah Paman katakan percuma diajak bicara sebaiknya segera kita rampas pedang itu"


Panji gara mencibir mendengar sebutan Raden


"cihh Raden-Raden, Raden apaan sudah jelas-jelas dia itu si muka ular, luar biasa itukah pendekar yang tengah mengguncang jagat persilatan tak ku sangka kalau ternyata dia itu seorang perempuan pantas saja kalau si muka ular dan si kumis baplang menghadang perjalanan nya rupanya pedang Dewa Naga hitam itulah tujuan mereka" rasa jengkel Panji gara tidak sanggup lagi menahannya untuk tidak segera turun tubuh kecilnya pun lantas melayang kakinya berpijak tepat di hadapan pendekar pedang Dewa Naga hitam

__ADS_1


Warok sangar dan kawan-kawan nya terkejut karena munculnya Panji gara


"apa kabar kumis baplang masihkah dirimu mengenaliku?" suara lembut namun bernada ejekan


sapaan Panji gara membuat Warok sangar menjadi geram


"kau lagi tidak ubahnya seperti siluman selalu saja mencampuri urusan orang lain"


"ternyata ingatanmu masih sangat baik kumis baplang masih sangat mengenali ku, tentu saja wajahku akan selalu ada dalam ingatan siapapun yang pernah berjumpa dengan ku selain itu julukan ku yang bergema di antero bumi Malaikat Dewa khayangan begitu harumnya gelar ku hingga seorang pun tidak mengetahuinya"


kerongkongan pendekar pedang Dewa Naga hitam merasa tersekat karena menahan tawa merasa geli mendengar pengakuan pemuda yang baru muncul itu dalam hatinya bergumam


"siapa pemuda itu ucapannya ceplas ceplos semau dia tapi lucu juga senang rasanya jika bisa bersahabat dengannya mungkin perjalanan ku akan menjadi berwarna"


"apa yang kau katakan barusan kumis baplang tadi sempat ku dengar kalian menginginkan pedang pusaka milik pendekar ini, oh ya tentu aku rasa bukan hanya kalian yang menginginkan nya,


oh iya bukan kah kau itu si muka ular Bayu kelangkas kau masih ingat padaku?"


"tentu Panji gara aku masih mengenalmu tetapi untuk saat ini aku tidak punya urusan denganmu urusanku kali ini dengan pendekar pedang Dewa Naga hitam jadi menyingkirlah dari hadapan kami"


"oh.. jadi begitu ya rupanya kau sudah lupa dimana ada kejahatan disitulah Panji gara akan muncul akulah ksatria pembasmi kejahatan"


mendengar celoteh Panji gara Warok sangar tambah geram dibuatnya


"tutup mulutmu bocah tengik bocah ingusan bermulut besar selalu ikut campur,


mungkin kau lebih tepat jika dijuluki pengacau si mulut besar"


"oh terimakasih kumis baplang aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih karna kau telah sudi memberiku julukan"


pendekar pedang Naga hitam tidak habis pikir mengapa pemuda itu sedikitpun tidak terpancing emosinya bawaannya begitu tenang siapa dia sebenarnya

__ADS_1


"Raden tunggu apalagi cepat kita rampas pedang itu tidak usah hiraukan si bocah tengil itu"


"benar paman hanya membuang-buang waktu saja jika kita meladeni pemuda sinting itu, pendekar jika kau tidak menginginkan kekerasan maka serahkan pedang itu baik-baik dan kami akan membiarkan dirimu pergi dengan baik-baik pula, dan kau pemuda sinting menyingkirlah dari hadapan kami"


"maaf pendekar apakah pendekar suka bermain-main dengan mereka? atau pendekar ijinkan hamba untuk menyertaimu?"


pendekar pedang Dewa Naga hitam mengulum senyum mendengar penuturan Panji gara meskipun belum diketahui dengan jelas tujuan yang sebenarnya dari pemuda itu namun sekilas pendekar pedang Dewa Naga hitam dapat memastikan kalau pemuda itu pemuda baik-baik maka diapun mengangguk setuju


"terimakasih atas ijinmu pendekar, baiklah untuk pendekar dua orang dan untuk hamba pun dua orang"


Warok sangar tidak membuang-buang waktu lagi diapun segera menghantamkan golok nya tepat ke leher Panji gara dengan di bantu seorang kawan lainnya sementara Bayu kelangkas di bantu kawan satunya lagi menyerbu pendekar pedang Dewa Naga hitam pertarungan tidak seimbang pun tidak dapat dihindari lagi


setiap ada kesempatan Panji gara melompat ke samping pendekar pedang Dewa Naga hitam seraya berbisik


"hati-hati Nini si muka ular itu bukan pendekar biasa dia memiliki ilmu yang cukup tinggi"


"terimakasih Panji kau telah mengingatkan ku"


sudah hampir empat jurus pertarungan dua lawan satu masih nampak seimbang hingga Warok sangar pun mengambil keputusan


"Raden sudah cukup waktu kita terbuang percuma, sebaiknya kita bantai mereka dengan aji Pamungkas dan kalian segeralah bergabung kita bangun pormasi"


Warok sangar memberi komando pada kedua sodara seperguruan Bayu kelangkas


Panji gara agak terkejut melihat pormasi yang di bangun oleh Warok sangar diapun segera memberitahukan kepada pendekar pedang Dewa Naga hitam


"Nini apa kau tau pormasi yang mereka bangun?"


"tidak Panji, ilmu apa yang akan mereka gunakan" pendekar pedang Dewa Naga hitam menjawab dengan berbisik pula


"itulah ajian pamungkas mereka badai menghantam buana, pantas mereka ber empat karena ajian itu sulit tandingannya Nini" Panji gara menjelaskan

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2