MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 95 DATANGNYA BANTUAN DARI ISTANA CIPAMANAHAN


__ADS_3

Melihat mereka berdua muncul ketiga penunggang kuda itupun segera turun dari kudanya seraya menyapanya dengan ramah


"maaf kakang, Dewi pendekar. jika kehadiran kami mengganggu tugas kalian,


apa kakang masih ingat padaku?"


"tentu, tentu pangeran bukankah kau putra mahkota dari istana Cipamanahan pangeran Wira Geni?"


"benar sekali kakang senang rasanya dapat berjumpa kembali dengan pendekar-pendekar sakti. perkenalkan ini panglima ku kakang Arya Sona dan yang satu ini Senopati Panca Rana kami datang atas perintah Kanjeng Rama Prabu dengan membawa sepasukan prajurit perang untuk membantu Paman Prabu Nara Wenda dan itupun jika Dewi pendekar dan juga kakang pendekar Sudi menerima bantuan kami"


pangeran Wira Geni yang ternyata di itus oleh Prabu Wira Nanta mengatakan kesediaannya untuk berperang menghadapi pasukan gelang-gelang


"pangeran aku atas nama para pendekar dan juga mewakili Gusti Prabu Nara Wenda mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang di berikan oleh Gusti Prabu Wira Nanta dan kami semua menerimanya"


"terimakasih Dewi dan saya sangat senang karena bantuan kami di terima dengan baik"


"dimana pasukan mu Pangeran? bawa mereka dan tempatkan di perkemahan disebelah selatan disana masih banyak kemah-kemah yang kosong"


"baiklah kakang terimakasih, kakang Arya Sona dan juga kakang Panca Rana segera bawa pasukan kita ke tempat yang baru saja di tunjukkan oleh kakang Wisnu"


pangeran Wira Geni memerintahkan dua orang kepercayaan nya untuk membawa masuk pasukan perangnya


pendekar pedang Dewa Naga hitam dan juga pendekar Samber nyawa berdecak kagum melihat pasukan perang yang sudah siap di turunkan ke medan perang. tidak kurang dari 1000 prajurit pilihan. kedua pendekar muda itu merasa bangga ternyata Prabu Wira Nanta memiliki rasa peduli yang sangat tinggi hingga beliau rela mengirimkan pasukan perangnya yang di pimpin langsung oleh putranya sendiri


setelah pasukan perang dari Cipamanahan di tempatkan di perkemahan Wisnu Abi Rawa dan Wadon Segoro mengajak pangeran Wira Geni ke barak para pendekar


selang beberapa langkah Wadon Segoro menarik tangan Wisnu untuk berhenti


"tunggu kakang aku merasa sejak tadi ada sepasang mata asing yang mengawasi kita"


"Indra penglihatan mu cukup tajam adik Segoro dan yang kau ucapkan itu benar biar aku yang menghadapinya. hei siapapun adanya dirimu dan tujuan apapun yang kau bawa segeralah turun perlihatkan dirimu"


kakang Wisnu berteriak meminta agar seseorang yang tak di kenal itu segera turun dari atas benteng istana

__ADS_1


sesosok tubuh kecil tinggi langsing dengan rambut yang acak-acakan dengan suara tawa terkekeh menyerupai seorang Kakek tua melayang turun dengan ringannya


"He..he..he..he.. maafkan aku pendekar aku samasekali tidak membawa maksud yang buruk. aku kesini mencari seseorang namaku Trenggana aku berasal dari desa yang sangat jauh tetapi sepertinya yang ku cari tidak ada disini. sekali lagi aku minta maaf dan aku akan segera pergi"


setelah mengatakan itu pemuda itu kembali melompat ke atas benteng


"tunggu Trenggana" panggilan Wisnu Abi Rawa sudah terlambat karena pemuda itu sudah menghilang di balik tingginya benteng


"sudahlah kakang biarkan saja dia pergi sebaiknya kita segera kembali ke barak" Wadon Segoro mengajak kakang seperguruannya melanjutkan langkahnya menuju ke barak


para pendekar sudah berkumpul menunggu kedatangan mereka karna mendapat kabar dari Satria bahwa Wisnu Abi Rawa dan Wadon Segoro kedatangan tamu.


Singgih narpati, Naga Sura, Sidra giri, dan Satria yang ternyata mengenali segera menyambut tamunya itu


"rupanya kau pangeran? kabar apa yang kau bawa hingga sampai di istana ini?"


"kabar baik kakang Satria, salam untuk semuanya. aku di tugaskan Kanjeng Rama Prabu untuk berada di tengah-tengah para pendekar sakti dengan tujuan membantu Paman Prabu Nara Wenda"


pangeran Wira Geni menjelaskan


"begitulah adanya kakang kabar ini sudah bukan rahasia lagi"


"Gusti Prabu Nara Wenda pasti akan sangat senang menerima bantuan ini. setelah beristirahat kita temui Gusti Prabu bersama-sama"


Wisnu Abi Rawa memutuskan


hari sudah mulai gelap pendekar pedang Dewa Naga hitam pun kembali resah tetapi kali ini keresahannya terhapus oleh suara derap langkah kuda semua menoleh dan benar yang datang adalah yang sedang mereka tunggu


Wadon Segoro berteriak kecil hatinya terasa lega


"jingga mengapa kau baru kembali kami khawatir akan keselamatan mu. apa kau baik-baik saja? lalu bagaimana dengan manusia itu?"


Laras jingga tersenyum mendapat sambutan dan juga rasa khawatir ternyata mereka memang kawan-kawan yang baik

__ADS_1


"tenang Segoro tidak terjadi apa-apa padaku. tugasku berjalan dengan lancar dan aku dapat memastikan semuanya aman"


"syukurlah kau sudah kembali dengan selamat, Dewi kilat beristirahat lah dulu sebelum nanti kita menemui Gusti Prabu"


tidak dapat di pungkiri sang pendekar Samber nyawa pun dan juga pendekar-pendekar lainnya merasa lega karna Dewi kilat kematian telah kembali dengan selamat


"aku seperti mencium sesuatu apa kalian juga menciumnya?" Laras jingga terus mengendus-endus untuk memastikan penciuman nya


sesosok bayangan berkelebat dengan suara ciri khas tertawanya pemuda itu berpijak tepat di hadapan Laras jingga atau Dewi kilat kematian. pendekar pedang Dewa Naga hitam dan juga yang lainnya berdiri dengan penuh kewaspadaan


"He..he..he..he.. aku sudah mengiranya kau pasti disini hingga penciuman ku tidak akan pernah salah"


melihat pemuda itu Laras jingga agak cemberut raut wajahnya agak kesal


"mengapa kau selalu mengikuti ku kakang?


berkali-kali sudah ku katakan padamu jangan selalu membuntuti ku tapi kau tidak pernah mendengarnya"


"aku tidak membuntutimu jingga aku hanya menjalankan tugas dari guru agar aku selalu mengawasi mu"


"aku sudah dewasa kakang jadi tidak perlu selalu kau awasi. aku sudah punya pilihan sendiri dan aku dapat melangkah sendiri"


"cukup Dewi kilat"


rupanya Satria yang memiliki Indra penglihatan yang sanagt tajam dapat dengan mudah mengetahui siapa sosok bernama Trenggana itu.


"biarkan dia, Trenggana aku tau kedatangan mu kesini untuk mencari Dewi kilat kematian dan kebetulan kami membutuhkan bantuanmu dan untuk itu kau boleh bergabung dengan kami"


karna keputusan Satria dan juga kesepakatan yang lainnya para pendekar yang di hirmatinya maka Laras jingga tidak dapat menyangkalnya


"jadi kau mengenalinya jingga?" tanya Wadon Segoro "tadi dia sudah datang tapi dia mengatakan yang dia cari tidak disini aku pikir dia benar-benar pergi"


"benar Segoro dia kakak seperguruan ku namanya kakang Trenggana tapi seperti yang kau lihat tingkahnya seperti anak-anak dia memang baik tapi terkadang aku merasa risi karna kemanapun aku melangkah dia selalu saja mengikuti ku" dengan suara bernada agak kesal Dewi kilat kematian menjelaskan pada pendekar pedang Dewa Naga hitam mengenai Trenggana

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2