MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 100 TERBUNUHNYA DEWI AMBALIKA


__ADS_3

"Terkutuk sekali lagi kau menghina guruku maka aku tidak akan segan-segan merobek mulut besar mu itu"


"sabar adik Segoro kendalikan emosi mu mahkluk itu sengaja agar kita terpancing karna dengan cara itulah dia mempengaruhi jiwa kita"


"aku sudah muak kakang sejak tadi hanya mendengar bualannya saja dan aku ingin melihat sejauh mana kesakitan iblis terkutuk itu"


"sebetulnya aku juga sama adik Mayang hanya saja aku menimbang-nimbang dulu selain wajahnya yang buruk tetapi tubuhnya yang menjijikkan. dadaku terasa mual ingin muntah melihatnya padahal dari kejauhan


tetapi jika kau ingin menjajal kesakitan iblis itu aku akan ada beserta dirimu tetapi aku harus menutup indra penciuman ku terlebih dahulu"


Panji gara yang sejak tadi bibirnya terasa gatal mulai melancarkan taktik andalannya


semua tau Panji gara memiliki satu hal yang jarang di miliki oleh yang lain maka mereka pun membiarkan pemuda usil itu melancarkan serangannya


"salam Ragolo apa kau baik-baik saja? perkenalkan namaku Sewu sejagat dan gelarku pendekar Malaikat Dewa kayangan


sejak tadi ku perhatikan kau di kelilingi oleh sakti-sakti aku kasian padamu Ragolo kau hanya sendirian dan aku datang untuk membantumu, jangan pandang aku siapa tetapi pandanglah ketulusan hatiku untuk membantu orang teraniaya sepertimu Ragolo"


"kurang ajar berani sekali kau mengatakan aku orang yang teraniaya. tidak ada dalam sejarah Ragolo teraniaya oleh kutu-kutu busuk seperti kalian"


"ohh..ho..ho.. jangan salah paham dulu Ragolo, sungguhkah dirimu merasa tidak teraniaya? kau lihatlah gadis cantik di sampingku ini pandanglah dia dengan jelas dia bahkan lebih ganas dari seribu harimau hutan. lalu pandang wajahku begitu tulus untuk membantumu tanpa pamrih apapun tetapi jika kau ingin memberiku imbalan aku tidak akan meminta harta, uang ataupun intan berlian, hanya sedikit saja yang ku inginkan sebagai imbalan darimu dan aku yakin kau dapat memberikannya"


"katakan bocah edan apa yang kau inginkan dariku jika memang benar kau ingin membantu ku?"


"tentu yang mulia Ragolo dengan senang hati aku akan mengatakannya, dan aku harap dengan senang hati kau memberikannya. aku tidak meminta apa-apa hanyalah nyawamu yang ku inginkan yang mulia Ragolo itulah imbalan nya yang setimpal dengan jasaku"


mendengar penuturan Panji gara tubuh besar Ragolo seperti menggigil wajahnya merah padam ternyata bocah ingusan yang berdiri di hadapannya bukanlah bocah biasa

__ADS_1


"kurang ajar, terkutuk lidahmu ternyata lebih tajam dari pedang wanita itu dan pantang bagi Ragolo untuk menerima hinaan maka terimalah balasan ku bocah edan"


entah apa yang akan di lakukan Ragolo namun sepertinya dia tengah merapalkan mantra


"adik Segoro tugasku sudah selesai sekarang giliranmu"


pendekar pedang Dewa Naga hitam tidak punya pilihan meski hatinya merasa jengkel akan ulah kakang seperguruannya tetapi dia juga mengagumi nya


Wisnu Abi Rawa, Sidra giri, dan juga Singgih narpati melompat kesamping Wadon segoro mereka sudah punya pertimbangan yang sangat matang, sementara Naga surabaya secepat kilat. menghadang Panji gara lalu menarik tangannya seraya berkata


"kau yang menyalakan api adik Panji jangan orang lain yang terkena api itu bersikaplah dewasa dan bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat"


"kau dengar kakang Sura tidak ada satu orang pun yang menyalakan api unggun lalu dia membakar dirinya di dalam kobaran api itu"


Panji gara mengelak


Naga sura menyeret tangan Panji gara masuk kembali ke area pertarungan dan semua pun dapat menduganya pertarungan tokoh ternama jagat persilatan Ragolo dengan pendekar-pendekar muda sakti mandraguna yang dilahirkan oleh perguruan gunung singgaru


**


sementara pada posisi lain Dewi kilat kematian di dampingi oleh Satria masih berhadapan dengan kedua kemuatan gelang-gelang yang merasa tidak terima atas kematian Prabu hindun rancasan yang mereka agungkan dan juga Salaka di pa adik seperguruan nya Braja gonta dan Sara dipa di bantu oleh prajurit-prajurit yang masih setia tetap bertahan untuk menghancurkan 2 pendekar sakti itu


sedangkan tokoh-tokoh jagat persilatan hanya memperhatikan dan terus mengawasi kalau-kalau ada hal yang tidak di inginkan


tumenggung Diwangkara, Senopati Arda winangun beserta orang-orang kerajaan hilir jati kerajaan Cipamanahan mengumpulkan mayat-mayat yang bergelimpangan korban akibat peperangan baik dari pihak kerajaan gelang-gelang ataupun kerajaan lingga buana. meskipun semua sudah merasa lelah tetapi peperangan harus segera berakhir


seperti yang di rasakan oleh Dewi kilat kematian tenaganya hampir terkuras habis hingga tubuhnya terasa limbung serangannya pun sudah sering tidak mengenai sasaran, kondisi seperti itu di manfaatkan se baik-baiknya oleh patih Braja gonta pukulan jarak jauh yang mengandung kekuatan tinggi hampir saja merenggut nyawa Dewi kilat kematian namun takdir belum menentukan untuk kematian pendekar wanita itu

__ADS_1


sesosok bayangan berkelebat mendorong laras jingga hingga jatuh terpental


hingga pukulan Braja gonta telak di dada sosok seseorang tadi


"bummmss" asap mengepul darah segar mengucur dari hidung dan mulutnya akibat pukulan itu


Laras jinggga menjerit seraya bangkit lalu memburu orang yang telah menyelamatkan nyawanya Laras jingga menangis histeris di peluknya tubuh lemah tak berdaya itu


"Bunda Dewi apa yang kau lakukan? Bunda aku tidak pernah menginginkan hal ini"


sang penyelamat itu yang ternyata Dewi Anbalika tersenyum lembut bicaranya terputus-putus hingga nyaris tidak terdengar


"jangan nenangis jingga ini sudah takdir ku dan kau masih harus melanjutkan perjalanan mu, jalanmu masih panjang sementara aku selain sudah tua aku juga sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini"


"tidak Bunda Dewi kau masih memiliki diriku kau harus bertahan Bunda Dewi dan aku akan mencari tabib untuk menyembuhkan mu. maafkan aku Bunda Dewi selama ini aku telah menyia-nyiakan kasih sayang mu bahkan aku telah menghianati mu. jadi tidak sepantasnya kau menyelamatkan nyawa ku. kau harus bertahan Bunda Dewi kau harus kuat karna kau belum menghukum diriku aku tidak ingin caramu menghukum ku seperti ini"


Laras jingga terus menangis sambil memeluk tubuh Dewi Ambalika


"kau sudah ku anggap putri kandungku sendiri meskipun dirimu tidak terlahir dari rahim ku tetapi aku sangat menyayangi mu lebih dari diriku sendiri jadi apapun yang kau lakukan aku tidak mungkin menghukum mu, sekarang kau sudah bertemu dengan keluarga mu yang sesungguhnya jadi aku merasa tenang meninggalkan dirimu"


Dewi Ambalika menutup matanya setelah mengucapkan kata terakhir


"berjanjilah padaku jingga jangan pernah untuk membalas dendam dan kau harus mendapatkan kebahagiaan"


wanita setengah baya itu pun menghembuskan napas terakhirnya meninggalkan seutas senyum lembut yang mengambang di bibirnya


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2