MANTRA HITAM PEMIKAT

MANTRA HITAM PEMIKAT
CH 60 BERTEMUNYA TIGA MURID SINGGARU


__ADS_3

Bayu kelangkas yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan kini ikut buka suara


"hai bocah gendeng aku menyesal dulu tidak membunuh mu kalau saja aku tau kau hanya menjadi penghalang buat ku. tapi jangan takut untuk kali ini aku tidak akan membiarkan mu melihat matahari esok pagi" nada ucapan Bayu kelangkas penuh dengan kesombongan


"tentu muka ular aku akan memenuhi permintaan mu untuk tidak melihat matahari esok pagi" Panji gara membalikkan ucapan Bayu kelangkas


wajah Bayu kelangkas merah padam di buatnya


seseorang yang berpakaian serba hitam memakai caping dan cadar hitam saat mendengar suara Panji gara hampir terloncat dari duduknya namun di urungkan niatnya dia ingin tau kelanjutannya setelah beberapa saat menyaksikan adu debat diapun segera meninggalkan mejanya


Panji gara menoleh pada Singgih narpati sambil menepuk bahunya dia pun berkata


"maaf kakang ijinkan aku untuk menghadapi sekutu-sekutu iblis itu. sebaiknya kakang menonton saja sebagai utusan Dewa Langit kakang tidak perlu mengotori tangan dengan darah mereka"


Mayang suri atau pendekar pedang Dewa naga hitam yang ternyata tengah berada di kedai itu juga yang kebetulan lewat dan mampir untuk mengisi perutnya. kerongkongan nya hampir tersekat karena menahan tawa mendengar ucapan Panji gara yang mengatakan kalau Singgih narpati utusan Dewa Langit. diapun segera menyambung ucapan Panji gara


"kau benar kakang Panji memang sebaiknya kakang Singgih tidak perlu mengotori tangan nya cukup kita berdua saja yang menghadapi begundal-begundal iblis itu"


mendengar suara yang di kenal nya itu Panji gara dan Singgih narpati menoleh secara bersamaan Panji gara berteriak senang


"rupanya kau berada disini juga adik Segoro. tidak ku sangka akhirnya takdir mempertemukan kita" Panji gara meraih tangan pendekar Dewa Naga hitam seraya bertanya


"apa kabarmu adik? dan apa yang kau lakukan disini?"


"kabarku baik-baik saja kakang. aku hanya kebetulan lewat disini dan aku mampir di kedai untuk mengisi perutku. saat aku makan tadi aku mendengar ribut-ribut sebetulnya aku tidak tertarik namun saat aku mendengar suaramu itulah yang membuatku menghampiri kalian. bagaimana pula kabar kalian kakang?"


saat Panji gara dan Singgih narpati hendak menjawab pertanyaan dari pendekar pedang Dewa Naga hitam suara tepukan tangan menghentikan niat mereka


"prok prok prok bagus-bagus rupanya kau disini juga pendekar. mungkin inilah yang disebut keberuntungan dan aku tidak harus membuang-buang waktu untuk mencarimu"


pendekar pedang Dewa Naga hitam atau Mayang suri menoleh ke arah datangnya suara "senang bertemu dengan mu pendekar. karna beberapa waktu yang lalu kita belum sempat berkenalan. oohh bagaimana kabar pormasimu apa masih bisa diandalkan setelah di hancurkan oleh kakak ku?"

__ADS_1


mendengar ejekan yang di lontarkan Mayang suri. Warok sangar yang biasa di panggil pendekar kumis baplang oleh Panji gara menjadi naik pitam


"jangan sombong pendekar setinggi langit pun nama besar yang kau miliki tidak akan membuat ku gentar. sekarang aku datang untuk menagih hutang pada pendekar bermulut besar itu"


"oohhh jadi urusanmu kali ini dengan Kaka seperguruan ku? baiklah aku ijinkan dirimu untuk menjadi lawan tanding kakang Panji tapi aku sebagai adik yang baik tentunya punya andil untuk mewakili kakak yang satunya lagi. kalian boleh maju semuanya tidak perlu satu-satu tanggung hanya membuang waktu kami saja"


Mayang suri lalu menoleh ke arah Singgih narpati


"kakang sebaiknya kakang tidak perlu turun tangan biar aku saja yang mengganti kan mu. ayolah kakang Panji kau mau ambil jatah yang mana? dan sisanya bagian ku" singgih narpati hanya tersenyum dan mengangguk memberi kesempatan pada adik seperguruan nya


"Ha...ha..ha..ha" Panji gara tertawa


"kau memang adik yang berbakti


pendekar pedang Dewa Naga hitam akan ku sampaikan baktimu itu pada Resi guru jika aku bertemu nanti"


"dan sampaikan pula salam perpisahan pada guru kalian karna malam ini juga tangan ku yang akan menghabisi nyawa kalian" Bayu kelangkas memutus pembicaraan musuh-musuhnya


"terimalah kematian mu mulut besar aku sudah memberi kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan"


rantai besi menghantam batok kepala pendekar Panji namun dengan gerakan yang sangat lentur pendekar muda itu dapat dengan mudah menghindari serangan Warok sangar


"wussshh bammss" suara rantai yang menghantam udara kosong dan tanah hingga terbentuk kawah kecil


halaman kedai pun menjadi ramai karna pertarungan yang terjadi sementara Ki Pardi alias panglima Danda sokana diam-diam menyelinap menghampiri Singgih narpati yang berdiri di ujung pagar yang membatasi rumah tempat mereka menginap dengan kedai milik Ki Sukma


Singgih narpati terkejut saat Danda sokana berbisik di telinganya dia tidak tau sejak kapan laki-laki setengah baya itu berada di sampingnya "rupanya dirimu Paman mengapa dirimu menghampiri ku?"


"maaf Raden jika Paman mengagetkan mu Paman hanya ingin tau siapa mereka sebenarnya? lalu siapa pendekar bercadar hitam itu? sepertinya Raden sangat mengenalnya" Danda sokana ingin mengetahui siapa adanya pendekar bercadar hitam itu


"maaf Paman kalau pendekar-pendekar itu sebenarnya saya juga tidak tau pasti. kami baru bertemu dua kali ini. tapi kalau pendekar bercadar hitam itu dia adik seperguruan kami julukannya pendekar pedang Dewa Naga hitam namanya Nirwana Wadon Segoro"

__ADS_1


Danda sokana manggut-manggut mendengar penjelasan Singgih narpati


"sepertinya dia seorang perempuan Raden?"


"benar sekali Paman dia memang seorang perempuan. dia menggunakan cadar untuk menutupi wajahnya karna itu perintah guru kami"


"oohhh begitu rupanya"


pertarungan berlangsung dengan serunya mereka masih sama-sama mengadu kesaktian


***


sementara di tempat yang sangat jauh


di tengah perjalanan dua pendekar gagah berani dua murid pilihan Resi Purba kesha


pendekar samber nyawa dan pendekar pemburu nyawa tengah melepas lelah di bawah pohon rindang


"sekarang apa rencana mu adik Giri? apakah dirimu yang akan mencari Mayang suri? dan aku mencari Demang karja atau bahkan sebaliknya?"


pendekar samber nyawa bertanya pada pendekar pemburu nyawa


"entahlah kakang tapi ku rasa tidak mungkin jika aku harus mencari Mayang suri karna andaipun bertemu belum tentu mendengarkan aku. apa tidak sebaiknya kakang saja yang mencari Mayang suri dan aku mencari si bedebah karja"


jawaban sidra giri seperti tidak punya harapan untuk bertemu Mayang suri


"jika memang itu keinginan mu baiklah biar aku yang mencari Mayang suri dan kau carilah Demang karja tapi ingat bawa dia dalam keadaan hidup karna dialah kunci dari kejadian yang menimpa kalian. dan jangan main hakim sendiri"


pendekar samber nyawa mengingatkan adiknya dengan tegas agar tidak terbawa emosi


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2