
Dengan suara yang tenang ketua perguruan Teratai Bidadari mulai membuka pembicaraan
"selamat malam murid-murid ku pastinya kalian sudah tahu aku mengajak kalian berkumpul malam ini, tinggal beberapa hari lagi menjelang purnama Kasada seperti biasanya kita mendapat undangan resmi untuk menghadiri pertemuan guru-guru besar yang di adakan di perguruan Gunung Utara, jadi untuk itu sehubungan jarak yang ditempuh membutuhkan waktu jadi aku akan segera berangkat besok pagi,
Arimbi seperti biasanya ku percayakan perguruan ini dan juga adik-adik mu terhadap dirimu dan kau harus selalu memberi peraturan yang baik"
Dewi Ambalika mengakhiri bicaranya tatapan matanya mengarah pada Arimbi salah satu murid yang selalu di andalkan untuk menjaga perguruan disaat beliau tidak di tempat
"baik guru amanah guru akan saya selalu junjung tinggi" jawab Arimbi dengan penuh hormat
"dan kau Laras dan juga kau sari temani aku ke Gunung Utara" Dewi Ambalika menoleh pada kedua murid kepercayaan nya
"maafkan saya guru" Laras jingga memberanikan diri membuka suara
"sepertinya untuk kali ini saya tidak bisa mendampingi guru pergi ke Gunung Utara
sudah beberapa hari saya merasa tidak enak badan jika saya paksakan nantinya malah merepotkan guru dan adik sari, bagaimana kalau untuk kali ini saya dan adik Arimbi bertukar posisi dulu ada baiknya jika sekali-kali adik Arimbi diajak serta juga untuk mendampingi guru menghadiri pertemuan di luar sana"
Laras jingga mengajukan alasan untuk tidak ikut serta ke Gunung Utara
Dewi Ambalika menatap lekat-lekat wajah muridnya karna tidak biasanya Laras jingga menolak ajakannya, apa memang benar dia sakit atau ada alasan lain? entah mengapa ada keraguan di hati sang guru mendengar alasan muridnya itu
"apa benar kau sakit Laras? mengapa tidak mengatakannya padaku sudah sejak awal
kita menanamkan peraturan agar tidak ada yang di rahasiakan"
"maafkan saya guru bukan maksud saya untuk merahasiakan nya dari guru dan juga adik-adik mengenai kondisi saya saat ini, saya hanya tidak ingin merepotkan kalian semua" jawab Laras jingga santun namun tegas
"baiklah jika memang kondisi mu tidak memadai untuk melakukan perjalanan jauh aku putuskan untuk kali ini kau tetap ada di perguruan, dan kau Arimbi temani aku besok pagi" Dewi Ambalika memberi keputusan
__ADS_1
"terimakasih guru atas kepercayaan guru pada kami" jawab Laras dan Arimbi berbarengan
Rapat pun di bubarkan sebelum meninggalkan aula Dewi Ambalika berpesan "sari, arimbi, kalian segeralah berkemas bawa barang yang di perlukan saja jangan terlalu banyak membawa barang-barang yang tidak di perlukan, dan kau Laras jingga jaga baik-baik perguruan ini kami akan berangkat pagi-pagi sekali, dan jika terjadi apa-apa kau tau cara menghubungi diriku" setelah itu Dewi Ambalika pun pergi menuju ruangan pribadinya untuk mengemasi barang-barang yang akan di bawanya
pagi-pagi sekali Dewi Ambalika di sertai Arimbi dan Sari pergi meninggalkan perguruan Teratai Bidadari
seminggu telah berlalu pertemuan guru-guru besar pada purnama Kasada di perguruan Gunung Utara berjalan dengan lancar, sedikit selisih pendapat itu sudah biasa terjadi dan segera dapat diatasi
pada umumnya oleh tuan rumah
hampir semua perguruan golongan putih menyepakati bahwa Resi purba kesa ketua dari perguruan Gunung singgaru menjadi
ketua perguruan-perguruan dari golongan putih secara resmi dan di sahkan
pertemuan pun di tutup dan di bubarkan
keesokan harinya satu demi satu tamu-tamu undangan meninggalkan perguruan Gunung Utara seperti halnya juga Dewi Ambalika setelah memberi hormat kepada Resi purba kesha yang tidak lain ialah keponakan nya sendiri beliau pun pamit untuk segera kembali ke perguruannya
perguruannya telah porak poranda
bangkai-bangkai murid-murid perguruan Teratai Bidadari bergelimpangan di sana-sini Dewi Ambalika bersimpuh di tanah melihat tidak satupun muridnya yang selamat
"ooohhhh hiyang Widhi pekerjaan tangan siapa ini? apa dosa dan kesalahanku sehingga begitu kejamnya mereka membantai murid-murid ku siapa yang melakukan semua ini?" Dewi Ambalika meratap dalam tangis
Sari dan Arimbi pun ikut juga bersimpuh
"guru mengapa ini terjadi? bukan hanya kali ini saja kita meninggalkan perguruan tetapi tidak pernah terjadi apa-apa"
"guru ijinkan kami untuk mencari pelakunya berikan tugas pada kami guru" Arimbi meraung dalam marah karena selama ini setiap kali dia di tinggalkan dan di serahi kepercayaan oleh gurunya selalu baik-baik saja
__ADS_1
disaat Dewi Ambalika saling bertanya dengan kedua muridnya terdengar suara rintihan putus-putus menahan kesakitan
ketiganya serentak menoleh lalu bangkit dan berlari ke arah suara rintihan itu
"gu-guru to-tolong guru"
Dewi Ambalika bersimpuh serta meraih kepala salah satu muridnya yang ternyata masih hidup di ikuti oleh kedua muridnya
"pelangi buka matamu ini aku gurumu dan juga kakak-kakak mu telah kembali, buka matamu pelangi katakan padaku siapa yang telah melakukan semua ini?"
"ka-kak Laras jingga guru, kak Laras jingga dengan tiga orang yang tidak kami kenal sebelumnya telah mencuri kitab-kitab pusaka perguruan kita dan juga membantai kami dengan kejam" suara Pelangi putus-putus dan hampir tidak terdengar
setelah itu gadis itupun terkulai lemas
arimbi menjerit tangannya menggoyang-goyangkan tubuh Pelangi
"Pelangi bangun adiku jangan tinggalkan kami bangun Pelangi" tangis Arimbi dan Sari jamilah pun meledak
Dewi Ambalika hanya mampu menatap wajah pucat pelangi muridnya yang paling muda, "pantas saja aku merasa ragu saat Laras jingga mengutarakan alasannya untuk tidak pergi ke Gunung Utara rupanya dia sudah menyusun rencana penghianatan
pantas saja akhir-akhir ini gerak-geriknya sering mencurigakan apa salahku padamu Laras hingga kau tega berkhianat padaku dan juga perguruan mu, rasanya selama ini aku tidak pernah mengecewakan mu apalagi membeda-bedakan mu dengan yang lainnya bahkan aku selalu mengutamakan dirimu di banding yang lainnya, aku selalu memenuhi keinginanmu Laras kau sudah ku anggap sebagai anakku sendiri tapi inikah balasanmu padaku?
Dewi Ambalika seperti menyesali apa yang telah di perbuat oleh Laras jingga murid yang sangat di percayai nya
"Arimbi, sari, hanya tinggal kalian berdua yang tersisa ada baiknya kita segera kuburkan jasad adik-adik mu dengan layak"
Arimbi dan Sari jamilah mengusap air mata "baik guru". jawabnya singkat mereka pun pergi mengambil alat-alat untuk menggali tanah
menjelang magrib penguburan selesai MN Dewi Ambalika dan kedua muridnya membereskan puing-puing reruntuhan bangunan perguruan Teratai Bidadari
__ADS_1
hancurlah sudah perguruan itu kami hanya tinggal nama belaka yang tersisa hanya separuh bangunan pondok itu yang mereka gunakan untuk berteduh malam ini
BERSAMBUNG