
Setelah mengucapkan kalimat itu Panji gara melompat tanpa di duga
"buuukkkk" satu tendangan maut mendarat di bahu prajurit gelang-gelang yang duduk di atas kuda tanpa dia punya kesempatan untuk mengelak "brruukk" tubuhnya jatuh terjungkal
dan dengan santai nya Panji gara mengambil alih kudanya. sang ketua tertawa melihat kenakalan adiknya yang satu itu. di pacunya kuda dengan kencang hingga berlari tidak beraturan mengelilingi putra mahkota
debu peperangan membumbung di langit nareh dan entah siapa yang melakukan hal itu kobaran api merah menyala membakar bangunan-bangunan penting dan salah satunya ruang pustaka istana nareh.
seluruh isi istana menjadi panik dan kalang kabut Prabu Ganda lawean semakin marah apalagi Senopati andalannya telah berlumuran darah akibat pukulan pendekar Satria
begitu juga dengan Patih Abi yaksa semakin keteteran menghadapi pendekar pemburu nyawa karna seringnya serangan-serangan yang mengandung kekuatan tinggi yang di hindari Sidra giri hingga tenaga Abi yaksa semakin terkuras
Sidra giri tersenyum menyepelekan
"mana kesombongan mu itu Abi yaksa?
apakah cuma segitu kemampuan seorang Patih kerajaan nareh ini?"
mendengar ucapan Sidra giri Patih Abi yaksa semakin terbakar amarah
"kurang ajar bocah ingusan, bangsat, biadab, ku bunuh kau"
Abi yaksa menyerang kembali dan pertarungan kembali berlanjut
Panji gara berteriak lantang
"hentikan semua atau ku penggal leher si kecil mungil ini" mungkin Panji gara mengira kalau pemuda itu putra mahkota nareh
Prabu Ganda lawean berusaha menjawab
"anak muda lepaskan putra mahkota jika kalian tidak ingin berurusan dengan kanda Prabu Hindun Rancasan"
"jangan dengarkan dia kakang Panji kalau kau mau penggal saja kepalanya biar raja tua ini bagian ku" Wadon Segoro mencegah Panji gara untuk melepaskan pangeran Panji Rancasan
__ADS_1
dengan sekali ayunan pedang pusaka pemburu iblis "slassshh" bagian perut sebelah kiri Prabu Ganda lawean telah di robeknya
"siapkan pasukan panah" Abi yaksa berteriak "kanda prabu mundurlah segera tinggalkan tempat ini"
"tidak semudah itu Abi yaksa pedangku menginginkan tumbal nyawa seorang Raja"
Wadon Segoro hendak mengayunkan pedang nya kembali berniat untuk memenggal kepala Prabu Ganda lawean
namun kakang Wisnu berteriak mencegah nya
"jangan adik Segoro jangan mengikuti hawa napsu mu. tidak baik membunuh lawan yang sudah tidak berdaya!!!. sekarang kalian mundur karna jika tidak nyawa putra mahkota akan terenggut di tangan adikku"
ternyata ancaman sang pendekar Samber nyawa cukup berpengaruh mereka semua mundur
Sidra giri masih terus bertarung melawan Abi yaksa hingga Sidra giri mendapatkan celah yang cukup lebar. Sidra giri melompat seraya mengayunkan pedang ke arah leher Abi yaksa "slllaaaassh" suara ayunan pedang hingga kepala Abi yaksa jatuh menggelinding di lantai
begitu pula dengan Senopati Rangga Pati telah terbunuh di tangan pendekar Satria
melihat Patih yang ternyata adik kandung Prabu Ganda lawean telah terkulai tidak bernyawa sang raja seraya berteriak menahan rasa sakit nya
dan kau Sidra giri kau telah berhutang nyawa adikku maka kalian harus menerima akibatnya"
"diam kau tua bangka" Wadon Segoro membentak keras
"bunuh saja aku. aku tidak takut ancaman pedangmu ayo bunuh aku pedang Naga hitam aku tidak takut mati"
"jangan adik Segoro jangan dengarkan dia
biarkan dia hidup. biarkan dia melapor ke kerajaan gelang-gelang. adik Panji ringkus putra mahkota itu kakang Satria sangat membutuhkan nya jadi jangan lukai dia.
dan kalian segera bawa Prabu Ganda lawean laporkan kejadian ini pada Raja kalian di gelang-gelang"
beberapa prajurit gelang-gelang yang tersisa berlarian menghampiri Prabu Ganda lawean lalu menaikannya ke atas punggung kuda dan segera meninggalkan medan perang istana nareh yang telah berubah menjadi merah dengan darah
__ADS_1
tiba-tiba terdengar ledakan-ledakan yang sangat keras bergema di langit nareh
apa yang terjadi? rupanya ajian jari iblis yang di miliki oleh pendekar pedang Dewa Naga hitam yang di warisnya dari Biung Ratu embok telah menghancurkan dan memporak-porandakan seluruh bangunan istana kerajaan nareh api-api berkobaran dimana-mana mayat-mayat bergelimpangan nareh telah hancur dalam sekejap mata hanya meninggalkan puing-puing yang hangus terbakar
Wisnu Abi Rawa segera menghampiri Wadon Segoro seraya menegurnya dengan lembut
"mengapa melakukan itu adik Segoro? aku tidak pernah melihatmu berbuat sekeji ini. bukankah guru kita pun tidak pernah mengajarkan pada murid-muridnya untuk berbuat semena-mena?"
"aku sudah bosan menjadi orang lemah kakang yang selalu tertindas. sudah saatnya aku berdiri kakang jangan cegah aku karna sedikit saja kejahatan yang di biarkan tersisa maka dia akan menimbulkan kejahatan yang baru dan lebih besar" nada suara Wadon Segoro seperti mengandung dendam
dan Wisnu Abi Rawa dapat mengerti hal itu
"tapi adik Segoro ada yang harus kau tau tidak semua yang tinggal di istana ini ikut melakukan kejahatan dan mereka yang tidak bersalah dan menjadi korban dendam mu"
"apakah kakang tau apa yang telah menjadikan ku seperti ini? aku tidak pernah melakukan kesalahan tapi sepertinya manusia-manusia biadab itu tidak perduli
kakang lihat aku telah menjadi korban kebiadaban apakah mereka peduli disaat aku berteriak kesakitan karna menahan siksaan? apakah mereka peduli saat aku merintih karna sekarat? apakah aku salah kakang jika aku melawan takdirku?"
Sidra giri, Danda sokana, dan juga yang lainnya hanya menunduk mendengar pengakuan Wadon Segoro terlebih lagi Sidra giri dan Danda sokana merasa sangat bersalah. mungkin Satria dapat mengerti tetapi tidak Naga Sura, Singgih narpati, dan juga Panji gara mereka hanya saling berpandangan dan saling menggeleng tidak mengerti karna yang mereka tau selama ini mereka mengenal Mayang suri atau Wadon Segoro dia sosok yang baik dan lembut misteri apa yang sebenarnya menyelubungi perjalanan hidup wanita itu
"kakang Wisnu mau di apakan putra mahkota ini?" Panji gara membuka keheningan meski ada banyak pertanyaan di dalam hatinya tetapi dia tetap berusaha untuk menjaga tatakrama karna disitu bukan tempat dan saat yang tepat
"kau tanya saja Satria. Panji mau di jadikan apa putra mahkota itu" Wisnu Abi Rawa menoleh pada Satria
"aku mau menjadikan putra mahkota itu sebagai jaminan untuk menjaga segala kemungkinan karena aku yakin kakang orang gelang-gelang pasti akan memburu kita karna mereka tidak akan terima orang-orang kepercayaan nya telah kita hancurkan. apalagi putra mahkota kerajaan gelang-gelang ada di tangan kita kemungkinan besar mereka akan mencari kita disini. kakang bagaimana menurutmu apa tidak sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini?"
Satria meminta pendapat Wisnu Abi Rawa
"kau benar Satria sebaiknya kita segera menjauh dari tempat ini dan mencari tempat yang lebih aman agar kita semua dapat merundingkan rencana selanjutnya
dan kau Panji ringkus pemuda itu"
BERSAMBUNG
__ADS_1
jangan lupa untuk dukung terus author ya biar semangat
maaf untuk saat ini author belum bisa Crazy Up